Aini Amnia Majda, In-House Counsel Berpengalaman di Sektor Multi Industri
Utama

Aini Amnia Majda, In-House Counsel Berpengalaman di Sektor Multi Industri

Aini pernah bergabung di beberapa perusahaan yang memiliki sektor industri berbeda-beda untuk menambah wawasan pengetahuannya. Mulai dari industri otomotif, tembakau, kosmetik, sampai dengan industri teknologi tempatnya bekerja saat ini.

Ferinda K Fachri
Bacaan 6 Menit

“Tapi itu dia, jadi in-house counsel unik. Pada akhirnya, kita tetap harus menjelaskan kembali kepada manajemen. Kita (in-house counsel) cerna sendiri, lalu diterjemahkan lagi kepada top management. Sebab, mereka (top management) punya hal-hal yang akan mereka keep (simpan dan tidak disampaikan) terhadap third party, tapi secara internal mereka akan cukup terbuka dengan concern-nya.”

Memikul tugas menjaga bisnis perusahaan dapat berjalan sesuai hukum yang berlaku dan dapat bertahan dengan tidak melanggar, in-house counsel mengemban tanggung jawab besar. “Di LG, legal itu sudah paling top-nya. Sehingga bukan kita bersih-bersih atau jadi pemadam kebakaran, justru kita menjadi source of information yang bisnis bisa andalkan. Jadi ketika menjalankan bisnisnya, itu bersih dan tidak ada masalah di kemudian hari. Kata menjaga ini kelihatannya sepele ya, tapi sebetulnya sulit,” ungkap Aini.

Tak heran bila terdapat banyak program yang dicanangkan timnya dengan terjadwal mendetail. Lalu, para in-house counsel diwajibkan untuk melakukan laporan progress tiap minggu atas pekerjaan yang tengah ditangani dengan maksud agar tugas yang diberikan tetap berjalan di koridor yang semestinya.

“Kalau kita punya time management, schedule, very clear QPI (Quality Performance Indicator) nanti di akhir tahun itu kita bisa enjoying some leisure time. Saya memberi tim saya satu atau dua bulan they can enjoy life. Tidak sepanjang tahun mereka harus klaim lembur (bekerja, red). Itu saya prioritaskan untuk mereka.”

Selain itu, tugas in-house counsel tidak lagi terbatas pada kontrak meski keberadaannya cukup banyak yang harus ditangani. Di LG dalam satu tahun saja dapat menangani sekitar 1.500 kontrak, kendati yang dieksekusi mungkin setengah dari akumulasi. Namun selain kontrak, in-house counsel juga berkutat dengan fungsi advice, compliance program, kasus-kasus perusahaan, dan seterusnya.

“Kalau mahasiswa mungkin mengiranya (pekerjaan in-house counsel) cuma me-review kontrak, ya tidak juga. Untuk perusahaan-perusahaan besar sudah mempunyai beberapa template. Itu tidak perlu ada improvement lagi, kecuali ada regulation update untuk template. Tapi template ini bisa kita gunakan terus menerus. Jadi yang kita push anak-anak bikin adalah standard template. Misalnya, standard template services supply, service office standard, kita lihat dulu apa yang bisa kita maximize untuk efisiensi.”

Template-template itu kemudian diregister ke sistem perusahaan untuk dipergunakan. Dengan begitu, tim legal hanya memerlukan waktu 1-2 hari untuk review template. Tidak heran, bila perusahaan sebesar LG Electronic Indonesia hanya memiliki tim legal yang terdiri atas 5 orang, mengingat pemanfaatan teknologi seperti digitalisasi sistem merupakan hal yang sangat menghemat waktu dan sudah diterapkan lama perusahaan LG.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info