Berdasarkan data yang Abdul paparkan, elastisitas pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja hanya mencapai 0,23%. Artinya, pertumbuhan sebanyak 1% hanya mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja sebesar 0,23% atau tidak elastis. Apabila dikaitkan dengan pendidikan tenaga kerja, Abdul menyimpulkan lapangan kerja tidak siap untuk menggaji masyarakat yang berpendidikan.
"Dengan kondisi yang demikian, maka orang akan sulit untuk meningkatkan konsumsinya jika dengan tingkat pendidikan yang tinggi ternyata tidak linier terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.
Permasalahan di Bidang Energi
Persoalan ekonomi di pemerintahan Prabowo-Gibran tidak sebatas pada isu ketenagakerjaan. Ketergantungan impor minyak mentah hingga saat ini masih menjadi permasalahan. Target pemerintah supaya Indonesia dapat berhenti mengimpor minyak belum dapat terwujud.
Meskipun di tahun 2025 produksi minyak bisa mencapai 605,3 ribu barel per hari, angka ini turun di tahun 2026. Peneliti INDEF, Annisa Utami, menjelaskan bahwa untuk mencapai target 610 ribu barel per hari di tahun ini, artinya rata-rata produksi minyak di sisa tahun harus mencapai 654 ribu. Angka ini lebih tinggi dari produksi bulanan mana pun dalam tiga tahun terakhir.
“Artinya, menambah produksi saja tidak cukup untuk menutup celah impor, tapi kebutuhan kita tumbuh lebih cepat daripada yang kita produksi,” jelas Annisa.
Bukan sebatas minyak mentah, gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG) dan bahan bakar minyak (BBM) juga sangat bergantung pada impor. Impor LPG Indonesia naik 77% dalam satu dekade, sementara itu impor BBM di tahun 2025 mencapai 31 juta kiloliter. Ketergantungan impor bensin Indonesia dari negara Singapura dan Malaysia dinilai Annisa menjadi risiko tersendiri bagi ketahanan energi di negara ini.
Di tengah ketergantungan impor, negara juga sedang kesulitan untuk menutupi beban subsidi yang sejauh ini realisasinya sudah mencapai Rp376,8 triliun hanya dalam sembilan bulan. Angka ini telah menyerap sebesar 84% pagu dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kesulitan ini dialami karena rendahnya asumsi harga minyak yang ternyata melampaui prediksi.
















