“Ada pelajaran berharga soal ketidakadilan struktural,” ujar Sukma. Sebagai perempuan, ia mengaku tidak mendapat halangan dari keluarga untuk aktif di LBHJ pada masa itu. Tantangan justru datang dari pihak lawan yang menggunakan segala cara menjatuhkan mentalnya. Sukma bahkan pernah mendapat surat kaleng berisi ancaman perkosaan.
Karier Sektor Privat
“Saya pernah terinspirasi oleh Baharuddin Lopa. Jaksa yang berani melawan konglomerat. Tapi saya tahu diri tidak sanggup ada di birokrasi,” tutur Sukma kembali tertawa. Karier di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan sektor swasta seperti firma hukum menjadi alternatif yang Sukma pertimbangkan. Ia lantas memilih program kekhususan hukum pidana pada tahun terakhir studinya.
“Saya sebetulnya tidak terlalu sering berencana, begitu ada jalan yang terbuka lalu saya nikmati,” kata perempuan yang mengaku suka menikmati kelelahan bekerja ini. Sukma diterima di kantor hukum Gani Djemat & Partners tidak lama setelah lulus. “Waktu itu masuk ke sana semata-mata ingin memperluas pandangan dalam isu hukum. Sesederhana itu, namanya juga anak muda,” kata ibu dari tiga anak ini.
Sukma menjadi corporate lawyer selama tahun 1990-1992 di jalur litigasi. Sukma menambahkan, “Saat itu ada ABNR, Makarim & Taira, lalu Gani Djemat yang dikenal ternama”. Di kantor itu pula Sukma berjumpa dengan jodohnya yang pernah sama-sama aktif di LBHJ semasa kuliah di Universitas Indonesia. Ia menikah dengan Arsul Sani yang belakangan terpilih menjabat Hakim Konstitusi. Sukma berhenti bekerja saat ikut mendampingi suaminya studi ke Australia di tahun 1993-1994.
Karier Sukma terjeda sementara hingga pulang kembali ke Indonesia. “Saya sempat menganggur, lalu dapat beasiswa Chevening Awards,” katanya. Pada tahun 1996-1997 Sukma melanjutkan studi LL.M. di University of Nottingham, Inggris. Sukma mengaku kepada hukumonline lagi-lagi dengan tawa, “Saya tidak punya rencana setelah itu mau apa, ibaratnya hidup ini mengalir begitu ya”.

Meski berulang kali mengaku tidak punya rencana khusus, hukumonline melihat Sukma punya insting yang jitu. Dari sekian pilihan fokus studi hukum di luar negeri, saat itu ia memilih hukum lingkungan. “Waktu di LBHJ ada banyak isu. Hukum lingkungan itu isu baru. Masa itu cara berpikir memang sederhana, mana yang ada di depan mata, enjoy, jalani saja,” Sukma menambahkan.
Di sisi lain, Sukma sudah lama berhubungan baik dengan begawan hukum lingkungan Indonesia Mas Achmad ‘Ota’ Santosa. Sukma menjadi salah satu teman diskusi saat Ota mendirikan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) tahun 1993. Ota pula yang memberikan surat rekomendasi beasiswa kepada Sukma dengan janji akan bergabung di ICEL sepulang meraih LL.M.
















