Fenomena cincin batu akik sedang marak di kalangan masyarakat. Tak peduli tua-muda atau pria-wanita, mereka menjadikan batu akik sebagai perhiasan yang melingkar manis di jari-jarinya. Di Purbalingga, sang Bupati bahkan mewajibkan seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk mengenakan batu akik. Instruksi ini untuk menunjukan potensi besar yang dimiliki daerah itu.
Nah, berdasarkan pantauan hukumonline, demam batu akik ini ternyata juga dialami oleh para advokat Indonesia yang sering “wara-wiri” di pengadilan.
Sebut saja nama-nama pengacara top yang sering muncul di layar televisi, seperti Hotman Paris Hutapea, OC Kaligis, Eggi Sudjana atau advokat yang kini menjadi wakil rakyat, Ruhut Sitompul. Jari-jari para advokat ini dihiasi oleh kilau yang asalnya dari batu-batu yang memiliki rentang harga cukup beragam dan bisa dibilang tinggi.
Advokat senior OC Kaligis bahkan mengakui dirinya memiliki sekira 100 batu, meski pun memang tak semua batu koleksinya berjenis batu akik. Ia menyimpan pula batu-batu berjenis safir atau dirma. Meski batu-batu itu sudah dikumpulkan sejak lama, Kaligis enggan disebut dirinya sebagai kolektor batu.
Kaligis mengaku tidak pernah khusus mencari batu yang diinginkannya. Biasanya, bila dirinyna sedang berjalan-jalan ke suatu tempat dan menemukan batu yang dirasa cocok untuk dirinya, ia akan langsung membeli batu tersebut. “Kadang-kadang kalau saya ke Kalimantan saya beli, di Martapura. Kemarin saya juga jalan-jalan di penjualan batu akik di Jatinegara,” ucapnya.
Cincin batu yang dikenakan Kaligis pun menuai pujian dari sejumah pihak. Misalnya, pada 31 Januari lalu, ketika Kaligis berada di Inggris, orang-orang imigrasi di saan ramai-ramai memuji cincin berbatu yang dikenakannya. “Kata orang imigrasi di sana, ‘hey you have a nice ring’ (Hey, kamu punya cincin yang bagus,-red). Mereka juga tanya saya beli batunya dimana. Saya sih bilang thanks aja,” ujar OC, Senin (20/2).
Kaligis mengaku tidak ‘ngeh’ kalau cincin yang digunakannya bagus. Namun, ia menduga orang-orang memuji cincinnya karena sederhana dan tidak mencolok, sehingga keindahan batunya juga lebih pas ketika dilihat. Selama ini memang cincin miliknya selalu dia sendiri yang mendesain. “Saya beli batunya lalu saya desain sendiri. Bungkus dengan emas putih,” tuturnya.
Selain Kaligis, ada juga advokat Utomo Karim. Pria yang sempat menjadi kuasa hukum terpidana mati Warga Negara Brazil Marco Archer Cardoso Mareira ini tak sungkan menyebut harga koleksi batu akik yang dimilikinya. Ia menuturkan paling mahal seharga Rp5 juta. Batu itu dibelinya di Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta.
“Nggak mahal-mahal lah, paling lima jutaan. Ada sih yang lebih, tapi saya ngga mau lah yang mahal-mahal,” begitu sebutnya ketika dihubungi hukumonline.
Trend batu akik ini bagi Utomo, selain memang akhirnya membuat dirinya tertarik mengikuti perkembangan zaman, disampaikannya juga merupakan satu fenomena positif yang timbul di masyarakat. Pengrajin batu, dengan munculnya trend ini jadi mendapatkan manfaatnya juga.
“Bagus ya. Artinya kan pengrajin-pengrajinnya mendapat pekerjaan. Ini menghidupkan masyarakat juga sih. Ada kerjaan kan bagus,” imbuhnya.
Ia sendiri baru mulai tertarik mengumpulkan batu ketika menjadi penasihat hukum permaisuri dari Sultan Ternate (alm) beberapa bulan lalu. Ketika itu memang keluarga Sultan Ternate menghadiahkan beberapa batu. Hingga saat ini, Utomo baru memiliki sekitar 10 cincin berbatu akik.
Lebih lanjut, Utomo mengaku tidak sependapat dengan hal-hal yang berbau mitos di dalam cincin berbatu akik itu, misalnya memberi rasa percaya diri yang lebih tinggi atau mampu membawa rezeki dalam pekerjaan. “Ya untuk memperbagus aja lah. Tapi kalau untuk kita percaya bahwa batu nanti bisa bawa rejeki, itu ngga. Itu ke atas aja. Ke Allah aja kita serahkan,” tukas Utomo.
















