“Saya lebih senang kalau di kelas itu diskusi. Saya lempar kasus, lalu tanya pendapat mahasiswa. Hukum itu tidak selalu hitam-putih, bisa ada berbagai perspektif,” ucapnya.
Terkait pendidikan hukum di Indonesia, Dian menilai tantangan saat ini tidak hanya pada aspek teoretis, tetapi juga pembentukan sikap dan karakter. Ia menilai generasi mahasiswa saat ini memiliki karakter yang berbeda sehingga pendekatan pengajaran juga perlu disesuaikan. “Pendidikan hukum jangan terlalu doktrinal. Mahasiswa juga harus dibekali rasa tanggung jawab, empati, dan nilai-nilai manusiawi,” tegasnya.
Ia berharap ke depan lulusan sarjana hukum tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan mampu menerapkan ilmunya dalam praktik. “Pintar saja tidak cukup. Harus ada tanggung jawab dan kemampuan beradaptasi,” tambah Dian.
Sementara itu, Founding Partner Arkananta Vennootschap, Alfin Sulaiman, yang menjadi pendukung ajang Anugerah Dosen Hukum Favorit 2025, menilai penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi yang penting dan bermakna. Menurutnya, kualitas pendidikan hukum sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya.
“Penghargaan ini tidak hanya menilai kecakapan akademik, tetapi juga keteladanan, kedekatan, dan dampak dosen dalam membentuk karakter mahasiswa,” ujarnya pada kesempatan yang sama.

Founding Partner Arkananta Vennootschap, Alfin Sulaiman. Foto: RES
Alfin menambahkan, dukungan Arkananta terhadap ajang ini merupakan komitmen untuk memperkuat ekosistem pendidikan hukum. Ia menyebut kualitas profesi hukum di masa depan sangat bergantung pada proses pendidikan yang menanamkan nilai, etika, dan integritas sejak dini.
Dalam kesempatan tersebut, Alfin juga berbagi pandangannya mengenai tantangan pendidikan hukum. Ia menekankan pentingnya membangun fondasi berpikir hukum yang kuat melalui kebiasaan membaca, diskusi, keberanian berpendapat, serta penguatan soft skills.
















