Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) menjajaki peluang kolaborasi dengan Hukumonline guna memperluas penyebarluasan hasil riset dan kajian mengenai hak asasi manusia (HAM). Khususnya berkaitan dengan tantangan di ruang digital.
Direktur Eksekutif Elsam, Desiana Samosir menyampaikan kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan arah transformasi organisasi sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam mendiseminasikan hasil-hasil riset kepada masyarakat yang lebih luas.
Setelah lebih dari tiga dekade berdiri, Elsam tengah melakukan transformasi strategi organisasi. Jika selama ini lebih dikenal menangani isu pelanggaran HAM berat dan advokasi kebijakan, kini Elsam mulai memusatkan perhatian pada berbagai bentuk pelanggaran HAM yang muncul seiring perkembangan teknologi digital.
“Kami melihat perkembangan teknologi informasi ternyata menimbulkan sangat banyak pelanggaran hak asasi manusia yang tidak banyak organisasi memiliki konsentrasi pada dimensi ini,” ujarnya dalam Media Visit Elsam ke Hukumonline, Rabu (5/8/2026).
Baca juga:
- ADHII dan LKIHI Jalin Kerjasama dengan Hukumonline, Perkuat Khazanah Kajian Hukum Islam
- Kolaborasi HKHSK dan Hukumonline, Bidik Penguatan Kompetensi Konsultan Hukum Keuangan
.jpg)
Suasana diskusi kedua pihak penuh hangat di Kantor Hukumonline. Fotografer/Resa Esnir
Desiana menjelaskan, perubahan tersebut bukan berarti meninggalkan advokasi terhadap pelanggaran HAM masa lalu. Namun, energi utama organisasi kini diarahkan guna membangun perlindungan HAM dalam ekosistem digital melalui riset, advokasi, pendidikan, dan penguatan masyarakat sipil.
Transformasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam Rencana Strategis (Renstra) Elsam 2025-203 yang memuat lima intermediate outcome. Pertama, terbangunnya fondasi bagi aliansi politik dengan para reformis dalam institusi negara. Kedua, menguatnya cara pandang kritis masyarakat sipil terhadap kebijakan dalam konteks semesta digital.
Ketiga, tersedianya infrastruktur pengetahuan untuk menumbuhkan aktivisme HAM dalam semestas digital. Keempat, berkembangnya konstituensi baru yang berspektif HAM sebagai warga dalam semesta digital. Kelima, terbangunnya narasi baru yang mendukung agenda HAM dan hak-hak korban dalam semesta digital.
Dalam konteks itulah Elsam menilai penting menggandeng Hukumonline yang memiliki jangkauan pembaca luas di kalangan praktisi hukum, akademisi, pemerintah, hingga korporasi. Sehingga, diharapkan dapat menjembatani berbagai temuan riset yang tidak hanya beredar di lingkungan masyarakat sipil, tetapi juga menjangkau kalangan yang lebih luas lewat platform Hukumonline.
“Kami tentu perlu mendengar masukan dari kawan-kawan di Hukumonline bagaimana menjembatani riset-riset ini tidak hanya pada segmen sirkel atau bubble yang ada di sekitar Elsam, tetapi bisa menjangkau audiens yang jauh lebih luas, termasuk audiens-audiens yang dimiliki oleh Hukumonline,” tuturnya.
Menanggapi hal itu, Pemimpin Redaksi Hukumonline Fathan Qorib menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Menurutnya, Hukumonline dan Elsam memiliki irisan visi dalam mendorong penegakan hukum dan penguatan demokrasi melalui penyebaran informasi yang kredibel.
“Kalau dari kacamata kita di redaksi, sekarang zamannya memang kolaborasi. Karena tanpa kolaborasi itu sudah mati,” ujar Fathan.
.jpg)
Pemimpin Redaksi Hukumonline Fathan Qorib. Fotografer/Resa Esnir
Ia mengatakan, berbagai isu strategis akan lebih efektif diperjuangkan jika dikerjakan melalui gerakan yang terkonsolidasi dengan strategi disusun bersama.
Sementara Chief Media and Engagement Officer (CMO) Hukumonline, Amrie Hakim menambahkan, Hukumonline turut mengalami transformasi dalam beberapa tahun terakhir. Dari semula dikenal sebagai perusahaan media, Hukumonline berkembang menjadi perusahaan legal technology tanpa meninggalkan fungsi jurnalistik sebagai media hukum.
“Kekhasan Hukumonline sebagai perusahaan media memang sejak berdiri kami menampilkan diri sebagai perusahaan media. Tapi kemudian sama dengan Elsam, kami bertransformasi menjadi perusahaan legal technology, mungkin lima sampai enam tahun terakhir, tanpa meninggalkan fungsi-fungsi kami sebagai perusahaan media,” tegasnya.
.jpg)
Chief Media and Engagement Officer (CMO) Hukumonline, Amrie Hakim. Fotografer/Resa Esnir
Amrie menerangkan, transformasi tersebut diikuti dengan berkembangnya ekosistem pengguna Hukumonline yang berasal dari berbagai sektor. Selain korporasi nasional dan multinasional, Hukumonline juga memiliki jaringan luas yang mencakup firma hukum, kementerian dan lembaga, serta perguruan tinggi di berbagai daerah.
“Sebagai perusahaan media, Hukumonline juga alhamdulillah juga sudah di-acknowledge-lah oleh media-media yang mungkin lebih tua dan lebih besar. Nah, jadi inilah komunitas yang ada di Hukumonline,” pungkasnya.
















