Materi ketiga dengan tema ‘Mapping Potential Grants Based on Research Expertise’, menjadi titik krusial di kegiatan hari pertama. Setiap peserta diminta mengidentifikasi kemungkinan research area dari pusat studinya dan mengaitkannya dengan peluang hibah yang relevan. Ide-ide yang muncul dan disampaikan oleh masing-masing pusat studi mulai menggambarkan peta peluang riset yang dapat diraih.
Kemudian, di penghujung sesi setiap perwakilan pusat studi diminta melakukan refleksi singkat. Refleksi ini tidak hanya menilai sejauh mana mereka memahami peluang hibah, tetapi juga bagaimana kolaborasi lintas bidang bisa membuka jalan bagi riset multidisipliner.
Memasuki hari kedua Workshop for International Research Grants, mengawali sesi dengan pemaparan materi bertajuk “Developing Research and Community Engagement Ideas for Grants.” Materi ini menyoroti pentingnya merancang ide penelitian yang tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat. Dalam konteks Fakultas Hukum, pendekatan ini diwujudkan dalam konsep riset yang melampaui teori dan turut mendorong perubahan hukum serta kebijakan publik.
Para pemateri mendorong peserta untuk berangkat dari persoalan riil di lapangan, kemudian menelusuri nilai kebaruan (novelty), relevansi kebijakan, hingga peluang kolaborasi lintas negara. Kemudian sesi berikutnya, ‘Writing Effective Concept Notes and Proposals’, membawa peserta ke ranah teknis.
Yakni bagaimana menulis concept note yang ringkas namun tajam, menyusun theory of change, serta menyesuaikan ide penelitian dengan visi dan tujuan lembaga donor. Peserta juga mendapatkan wawasan langsung dari para ahli yang telah berpengalaman mendapatkan pendanaan internasional.
Sebagai penutup, materi “Submission and Follow Up Strategies” menjadi puncak dari rangkaian workshop. Sesi ini membahas strategi praktis pengiriman proposal. Peserta dibimbing memahami keseluruhan siklus hibah, mulai dari tahap pra-pengajuan hingga grant management.
Narasumber juga menekankan pentingnya tindak lanjut dan jejaring aktif, menjaga komunikasi dengan lembaga donor, memperbarui profil riset, serta menyiapkan laporan keuangan dan aktivitas penelitian sesuai standar internasional.
Setelah dua hari penuh pembelajaran, setiap perwakilan pusat studi diberikan waktu untuk melakukan refleksi akhir. Dari refleksi ini lahir kesadaran baru bahwa kekuatan FH UII terletak pada jejaring antar pusat studi yang saling melengkapi.
Kegiatan Workshop for International Research Grants menjadi langkah penting FH UII dalam memperkuat daya saing akademiknya di tingkat global. Melalui kegiatan ini, para dosen dan peneliti tidak hanya memperoleh pemahaman tentang mekanisme hibah internasional, tetapi juga menumbuhkan semangat inovasi dan kolaborasi yang menjadi kunci kemajuan perguruan tinggi di abad ke-21.
“Kami ingin seluruh pusat studi di lingkungan FH UII menjadi research hub yang mampu menghasilkan ide-ide baru dan memperluas kemitraan internasional. Kemandirian riset dan partisipasi aktif dalam jejaring hibah dunia adalah bagian dari komitmen kami untuk mendukung visi UII sebagai universitas berkelas dunia yang berakar pada nilai keislaman dan kemanusiaan,” pungkas Prof Budi.
















