In-house counsel mesti memahami alur kegiatan perusahaan dalam setahun agar dapat menentukan prioritas kerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Misalnya, awal tahun dan saat menjelang hari-hari besar, tim legal memprioritaskan support kepada tim komersial. Kemudian di waktu-waktu lain, di mana aktivitas operasional yang membutuhkan support timnya mulai berkurang, tim bisa melakukan berbagai kegiatan compliance.
Bagi Frida, tantangan in-house counsel di setiap perusahaan pasti beragam. Salah satu tantangan yang dihadapi Frida adalah membuat semua karyawan di perusahaan memiliki komitmen yang sama untuk melindungi perusahaan agar bisnisnya berkelanjutan. In-house counsel harus dapat melakukan komunikasi yang tepat dan efektif agar kesadaran untuk melindungi perusahaan bisa dipahami seluruh pekerja di semua level.
“Jika terjadi masalah hukum, tugas in-house counsel tidak berhenti pada tindakan yang bersifat korektif, tapi juga preventif agar insiden yang sama tidak terjadi lagi di masa depan,” urainya.
Tips Sukses
Bukan perkara enteng menjadi in-house counsel profesional dan sukses. Tapi Frida punya kiat bagi sarjana hukum yang tertarik bakal berprofesi sebagai in-house counsel. Dimulai dari bangku kuliah, mahasiswa harus memaksimalkan peluang untuk magang baik di kantor hukum atau di perusahaan sebagai in-house counsel. Pengalaman itu akan membantu memilih karir in-house counsel di bidang usaha yang diminati.

Mengaplikasikan pengetahuan hukum dalam kontrak dan praktik lainnya, bagi Frida menjadi modal penting sebagai in house counsel. Foto: RES
Di kantor hukum, seorang sarjana hukum dapat mengasah lawyering skill antara lain melalui pembuatan due diligence atau uji tuntas, legal advice, legal drafting, manajemen konflik dan lain-lain yang sangat penting bagi in-house counsel. Dalam memberikan pendapat hukum, in-house counsel perlu memastikan bahasanya mudah dipahami pimpinan. Bekerja 5 tahun di kantor hukum memberikan modal yang cukup bagi Frida untuk memulai karir in-house counsel sebagai Legal Manager.
“Selama menggeluti pekerjaan konsultan hukum saya belajar bagaimana mengaplikasikan hukum dalam kontrak, praktik, dan lainnya. Ini modal penting menjadi in-house counsel,” ujar perempuan yang sudah meniti karir sebagai in-house counsel selama 23 tahun itu.
Ketika menjadi in-house counsel, Frida menekankan hal penting yang wajib dilakukan adalah meningkatkan managerial skill. Sebab ada cycle bisnis yang harus diikuti in-house counsel seperti penyusunan budget, mengelola tim, komunikasi yang efektif, interpersonal skill dan lain-lain.
Berbeda dengan konsultan hukum atau advokat yang merupakan ujung tombak profit maker, in-house counsel posisinya sama seperti divisi enabler (penunjang) lain dalam organisasi perusahaan. Karenanya perlu kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dan memahami proses bisnisnya serta menjalin komunikasi yang baik dengan rekan-rekan kerja untuk dapat memberikan kontribusi yang positif kepada perusahaan.
Dengan posisinya sebagai bagian dari tim Manajemen perusahaan dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Direktur, pemberian saran dan mitigasi risiko dapat dilakukan lebih efektif. Sebab in-house counsel terlibat dalam pembahasan dan pengambilan keputusan manajemen terkait sejak awal. Karena strategisnya posisi Legal Director atau Legal Head, penting bagi mereka untuk menjadi bagian dari manajemen perusahaan dan direct report ke Presiden Direktur agar dapat memberikan saran yang independen.
“Untuk menjadi expert diperlukan dedikasi, komitmen dan kegigihan yang tinggi dalam waktu yang cukup panjang,” tutup Frida.
















