Menurutnya, sebagai amanat UU 20/2003 dan UU 12/2012, seharusnya PP No.57 Tahun 2021 memasukan Pancasila dalam ketentuan Pasal 40 ayat (2) huruf b dan ayat (3) huruf b yang mengatur tentang kurikulum wajib pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Sebab, kata “Pancasila” yang telah ditetapkan sebagai kurikulum wajib dalam Pasal 35 ayat (3) huruf b UU 12/2012 justru dihilangkan dalam Pasal 40 ayat (2), (3) huruf b PP 57/2021.
Pasal 40 ayat (2) PP 57/2021 berbunyi “Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: a. pendidikan agama; b. pendidikan kewarganegaraan; c. bahasa; d. matematika. Ayat (3)-nya berbunyi “Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat: a. pendidikan agama; b. pendidikan kewarganegaraan; dan c. bahasa.”
Dia berharap MA sejatinya dapat melaksanakan perannya dan sumbangsih kepada bangsa dan negara untuk mengoreksi legalitas norma Pasal 40 ayat (2) huruf b dan ayat (3) huruf b PP No. 57 Tahun 2021 ini. Untuk itu, frasa “Pendidikan Kewarganegaraaan” dinilainya bertentangan dengan Pasal 1 angka 2, Pasal 2 UU 20/2003 dan Pasal 35 ayat (3) UU 12/2012 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat apabila tidak dimaknai “Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.”
“MA tidak dimungkinkan menyisipkan frasa ‘Pendidikan Pancasila’, sehingga cukup memuat kata ‘Pancasila’ dalam norma Pasal 40 ayat (2) dan ayat (3) PP No. 57 Tahun 2021,” katanya.
















