Setelah sukses melaksanakan HKI RUN dalam perayaan Hari Kekayaan Intelektual Sedunia atau World Intelectual Property Day (World IP Day) 2018, kini Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) kembali menyelenggarakan HKI RUN 2019 pada Minggu, 28 April Mendatang di FX Mall Sudirman, Jakarta. Didukung oleh berbagai komunitas lari Indonesia, BEKRAF HKI Run disebut merupakan acara lari santai pertama di Indonesia yang mengangkat isu Hak Kekayaan Intelektual sebagai tema utama.
Melalui kegiatan ini, setiap peserta akan disuguhi informasi menarik mengenai HKI yang dikemas secara ringkas, informatif dan kreatif yang akan disampaikan dengan santai sambil berlari, sesuai dengan tema yang diusung, Lari, HKI dan Ngopi. Terbukti, kegiatan ini menjadi sarana sosialisasi yang sangat jitu untuk menyentuh pemahaman masyarakat luas soal HKI . Pada 2018 saja, lebih dari 1000 (seribu) orang mengikuti kegiatan ini. Sebagian besar peserta kala itu juga merupakan pelaku ekonomi kreatif.
“BEKRAF HKI RUN dilaksanakan dalam rangka Hari Kekayaan Intelektual Sedunia yang diperingati setiap 26 April. Tujuannya untuk menyosialisasikanHKI melalui kegiatan lari santai, sehingga dapat menjangkau masyarakat luas dengan cara yang menarik dan lebih mudah dipahami,” kata Ketua Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi, Ari Jualino Gema, di Jakarta, Selasa, (23/4).
Tak sekedar lari, peserta lari santai pada hari itu juga dapat menikmati aneka Kopi Indonesia dengan cita rasa khusus yang disediakan secara gratis. Selain itu, juga diadakan talk show singkat mengenai HKI oleh narasumber yang kompeten. Di sinilah para peserta dan pengunjung dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk bertanya dan memperdalam pengetahuan mereka mengenai HKI.
HKI Run kali ini, disebut Ari lebih terkonsep dengan matang ketimbang tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya pendaftaran pesertahanya diikuti oleh orang kantoran atau wirausaha,HKI Run kali ini mencoba memperluas jangkauan pesertanya, seperti komunitas-komunitas yang belum memiliki pemahaman yang baik tentang HKI.
“Kita lebih terbuka kali ini, sehingga nanti HKI Run bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Saya harap, banyak orang bisa hadir karena kita adakan tak sekadar diskusi tentang HKI tapi juga dibahas sampai ke praktiknya, mulai dari start lari sampai akhir acara penting diikuti untuk memperoleh manfaat utuh pemahaman terkait HKI,” ajaknya.
Para peserta yang telah mendaftar, dipersilahkan untuk mengambil race pack di FX Mall Sudirman mulai tanggal 23 hingga 24 April. Pengambilan race pack hari pertama itu, dibarengi dengan pelaksanaan Government Talkshow yang menghadirkan 4 (empat) Deputi BEKRAF, salah satunya Deputi Akses Permodalan, Fajar Hutomo.
(Baca Juga: Pendaftaran Hingga Sengketa Ragam Kekayaan Intelektual)
Dalam kesempatan itu, Fajar mengingatkan betapa tingginya nilai suatu ide intelektual. Ada atau tidak adanya asset fisik seseorang, selama Ia memiliki kreatifitas dan kemauan yang tinggi untuk mengeksekusi ide itu, maka peluang ekonomi yang menjanjikan akan selalu terbuka. Begitu berharganya nilai suatu ide, katanya, itu pula yang mengakibatkan pentingnya perlindungan terhadap ide tersebut. Terlebih, katanya, produk hasil ekonomi kreatif bersifat inklusif, artinya terbuka untuk siapa saja.
Tak hanya mendorong agar pelaku ekraf mendaftarkan perlindungan HKI, BEKRAF juga bersedia membantu para pelaku ekraf untuk mengembangkan produk usahanya baik di pasar domestik maupun di pasar internasional. Deputi Pemasaran BEKRAF, Joshua Simanjuntak menyebut pihaknya telah berupaya mendukung agar ekraf dapat berpartisipasi dalam pameran-pameran produk ekraf di Luar Negeri dalam rangka promosi.
Promosi produk Kopi Indonesia misalnya, melalui keikut sertaan ekraf pada pameran Internasional disitu pasar luar bisa mengenal betapa nikmatnya Kopi Indonesia. Di Indonesia sendiri, produk-produk yang hanya berkutat di satu wilayah saja, juga turut didorong BEKRAF agar bisa memperluas pasarnya ke daerah lain.
“Jadi yang tadinya hanya berkutat di sekitar Jawa Barat misalnya, sekarang bisa berkutat di satu Indonesia bahkan internasional. Kita bantu mereka untuk bisa masuk pasar lokal maupun Luar Negeri, setelah itu mereka tak sekedar kita lepas, kita bantu juga agar mereka bisa sustain di sana,” katanya.
Selain itu, Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi, Ari Juliano Gema mengatakan pihaknya juga telah memfasilitasi pelaku ekraf untuk memperoleh sertifikasi profesi. Kadang kala, tak bisa dipungkiri bahwa pelaku ekraf memperoleh kemampuan berwirausaha tersebut secara otodidak, sehingga tidak ada kejelasan terkait standardisasi kemampuan mereka sebagai pelaku ekraf.
“Padahal pengakuan kompetensi itu sangat penting sekali,” pungkasnya.
















