Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA) menunjukkan kemajuan signifikan dalam menjalankan mandat strategisnya sepanjang tahun 2024. Lembaga tersebut berhasil menarik Foreign Direct Investment (FDI) sebesar Rp13,8 triliun atau setara 2,5 kali lipat dari total investasi ekuitas INA dalam periode yang sama. Capaian ini menjadi rekor tahunan tertinggi sejak INA didirikan pada tahun 2020.
Ketua Dewan Direktur INA, Ridha Wirakusumah, mengatakan angka ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang Indonesia. Lebih dari itu, ini menegaskan peran katalis INA dalam menggerakkan modal global untuk mendukung prioritas strategis nasional.
Selama 2024, INA telah merealisasikan delapan investasi di berbagai sektor prioritas nasional. Total penyaluran modal yang dilakukan mencapai Rp19,5 triliun, terdiri dari Rp5,6 triliun yang berasal dari kontribusi INA sendiri dan Rp13,8 triliun dari mitra investor. Seluruh investasi tersebut dirancang untuk tidak hanya menciptakan nilai jangka panjang, tetapi juga mendukung agenda pembangunan ekonomi berkelanjutan Indonesia.
Baca Juga:
“Sejak awal berdiri, INA konsisten berkomitmen pada investasi yang menciptakan dampak pembangunan. Investasi kami dilakukan secara disiplin, berbasis fundamental yang kuat, dan fokus pada sektor-sektor yang akan tetap relevan untuk generasi mendatang,” kata Ridha dilansir dari keterangan resmi yang diterima Hukumonline, Jumat (18/7).
Adapun capaian tersebut menunjukkan tren pertumbuhan INA yang berkelanjutan. Sejak didirikan, INA telah merealisasikan total 15 transaksi investasi hingga Desember 2024 dengan nilai keseluruhan mencapai Rp60,9 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp24,9 triliun merupakan kontribusi INA, sedangkan sisanya sebesar Rp36 triliun berasal dari para mitra investor.
Tren positif ini terus berlanjut hingga Mei 2025, di mana total penanaman modal kumulatif bersama mitra investasi telah mencapai Rp65,4 triliun. Menurut Ridha, hal ini mencerminkan kemampuan INA yang semakin kuat dalam menarik partisipasi investor asing secara signifikan dan berkelanjutan.
Dalam menentukan arah investasi, INA pada tahun 2024 memfokuskan penanaman modalnya pada empat sektor prioritas nasional, yakni transportasi dan logistik, energi hijau dan transformasi, infrastruktur digital, serta sektor kesehatan. Pemilihan sektor ini didasarkan pada pertimbangan dampak pembangunan yang tinggi, ketahanan jangka panjang, dan potensi pertumbuhan yang kuat.
















