“Ya enggak taulah pokoknya bisa lulus, terus jadi asdos, udah enggak sempat jadi atlet nasional. Kalau latihan terus, buat kerajinan (tangan), merajut, kapan belajarnya? Tapi, ada untunglah jadi doktor sekarang,” ucapnya seraya merasa sangat bersyukur.
Tidak telantarkan keluarga
Menjadi wanita dengan karir yang memiliki jabatan cukup tinggi mungkin menjadi impian bagi sebagian kaum hawa. Tetapi, baginya tidak ada gunanya jika karir setinggi langit justru mengorbankan keluarga. Juansih pun sangat sadar akan hal itu, ia pun tegas menyatakan selama menjalani karir dan menempuh pendidikan tinggi tetap tidak boleh menelantarkan suami dan juga anak-anaknya.
Sebagai contoh, ketika ia tinggal dan bertugas di Surabaya, anak-anaknya sering mampir ke kantor sepulang dari sekolah. “Mereka suka mampir, kalau saya ada waktu luang ya mereka saya ajari kerjakan PR di kantor,” terang Juansih.
Dia menuturkan anak-anaknya sangat mengerti tugasnya sebagai aparat penegak hukum, sehingga mereka tidak keberatan jika memang ada tugas dadakan ke luar kota atau patroli malam di wilayah yang dipimpinnya. “Bahkan anak saya ada yang minta ikut patroli, ya sudah saya ajak saja.”
Meski begitu, ia mengakui ada saat di mana dirinya tidak bisa mengawasi anak-anaknya secara langsung karena adanya perpindahan tugas. Selain di Surabaya, Juansih juga sempat ditempatkan di Malang. Nah di posisi inilah, ia meminta bantuan orang tua atau saudara dekatnya untuk tinggal di Surabaya dan membantu mengawasi buah hatinya.
Juansih bukan tidak percaya dengan asisten rumah tangga, tetapi menurutnya menjaga anak dengan keluarga terdekat dirasa jauh lebih baik daripada mempercayakan kepada orang lain. “Saya minta tolong neneknya dan tantenya untuk tinggal di sana. Jadi ramai, anak saya enggak kesepian. Apalagi, dengan keluarga sendiri.”
Lalu apakah di antara ketiga anaknya ada yang mengikuti jejaknya sebagai polisi? “Ada, tapi waktu itu dia balik dari Amerika dari studinya untuk menjadi jadi polisi, cuma ya enggak bisa karena seleksinya itu beberapa bulan lagi. Saya bilang kamu itu butuh latihan setahun dulu, makanya saya suruh balik lagi sana ke Amerika!”
















