“Ilmu pengetahuan tidak harus diperoleh dengan cara mengerut dahi,” tulis Agus Sardjono dalam prolog novel karyanya berjudul ‘Riset Hukum’ yang diluncurkan Jumat (16/8) di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Buku ini bukan sekadar karya sastra biasa karena dua hal. Pertama, muatannya adalah materi perkuliahan metode penelitian hukum. Kedua, ditulis sendiri oleh Agus Sardjono selaku Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Ada kesan bahwa kuliah hukum kerap kali membuat kening berkerut. Buku-buku teks hukum dengan setumpuk teori di dalamnya dan rumitnya gaya bahasa hukum yang khas seolah menambah beban dalam mempelajari ilmu hukum. Tak disangka kesan itu justru menginspirasi Agus Sardjono untuk menyusun bahan perkuliahan dalam bentuk novel.
“Saya kan sayang sama mahasiswa, saya kepikiran bagaimana caranya ilmu itu bisa ditransfer dengan cara yang ringan tapi tidak mengurangi bobot,” kata Agus berseloroh soal latar belakang munculnya ide menulis novel ini. Ia mengamati, para mahasiswanya yang kadang malas membaca buku-buku dengan gaya bahasa ‘berat’ dan susah dipahami.
Ide Agus muncul begitu saja di awal tahun 2019 untuk membuat novel bermuatan materi kuliah hukum. “Di awal tahun baru saya berpikir ‘ngapain yah tahun ini, kayaknya harus ada sesuatu yang baru untuk saya kerjakan’, nah ya sudah,” Agus menjelaskan dengan gayanya yang santai. Proses penulisan ia mulai pada bulan Januari 2019 sampai akhirnya selesai tepat pada hari raya idul fitri di bulan Juni 2019.
Agus memang dikenal sebagai profesor hukum yang juga seniman. Sejak menjadi Guru Besar, ia ikut membentuk sebuah band yang personelnya adalah para Profesor di Universitas Indonesia. Grup band bernama “The Professor Band” itu telah beberapa kali tampil meramaikan panggung Java Jazz Festival. Agus berperan sebagai gitaris di “The Professor Band”.
Baca:
Pengalamannya ikut menyusun komik tentang hak kekayaan intelektual diakui Agus berpengaruh pada ide kreatif membuat novel ‘Riset Hukum’ kali ini. “Dulu saya juga pernah bikin komik tentang HKI, tapi saya hanya isinya, yang gambar kan orang lain,” katanya. Menurut Agus, komik tersebut diterbitkan oleh Ford Foundation sekira tahun 2010 untuk keperluan bahan sosialisasi kepada masyarakat.
Novel karya Agus ini memadukan kisah fiksi persahabatan enam orang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) dalam mengikuti kuliah metode penelitian hukum. Tidak sekadar menyusun alur cerita yang menarik, ia mengaku juga menyelipkan pesan-pesan moral dalam kisah persahabatan Anggi, Kaka, Gendis, Tobi, Olive, dan Santi.
Keenam mahasiswa rekaan tersebut digambarkan memiliki karakter dan latar belakang sosial berbeda. Misalnya mahasiswa rantau bernama Kaka yang sambil menjadi tukang ojek untuk menghidupi dirinya atau Santi yang sigap membantu ibunya berjualan di warteg mereka sepulang kuliah. Pada saat yang sama mereka bersahabat tanpa sekat dengan Olive dan Anggi yang merupakan anak pengusaha kaya raya. Mereka bahkan tanpa risih membantu Santi berjualan atau mencuci piring kotor di warteg.
Kisah asmara Tobi dan Gendis yang malu-malu tapi mau juga memperkaya jalan cerita. Novel ini bisa membuat pembaca sesekali tertawa, terharu, bahkan juga tersentak mengingat Tuhan karena kepiawaian Agus berkisah. Penggemar novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer ini tampak berusaha keras menjadikan novelnya tidak membosankan.
Di sisi lain, Agus menyelipkan pula kritiknya tentang dunia pendidikan. Semua dikemas dalam latar realitas kehidupan di kampus FHUI. Tak ketinggalan sosok fiksi lainnya bernama Pak Brata yang hadir sebagai dosen bijaksana pengampu mata kuliah Metode Penelitian Hukum.
“Saya ingin menyampaikan juga nilai kebaikan dalam cara yang dikenali mahasiswa, nilai-nilai berat itu diturunkan jadi santai,” kata Agus menjelaskan. Materi metode penelitian hukum dipilih karena Agus melihatnya sebagai kebutuhan mahasiswa mulai dari program sarjana hingga doktor. Ia ingin buku ini bisa membantu pemahaman mahasiswanya di semua jenjang.
Uniknya, novel ini juga memuat catatan kaki untuk merujuk sumber informasi ilmiah yang dikutip Agus dalam alur cerita. “Namanya juga tetap karya akademik,” kata Agus sembari tertawa.
Novel bermuatan materi akademik ini mendapatkan pujian dan pengakuan dari Sri Mamudji, kolega Agus yang dikenal sebagai pengajar ahli untuk mata kuliah Metode Penelitian Hukum di FHUI. “Buku ini sangat praktis, bahasanya mudah dipahami, saya katakan ini buku pendamping buku wajib,” kata Sri Mamudji.
Ia menantang dosen lainnya juga menghasilkan novel yang bermuatan materi berbagai mata kuliah di FHUI. “Menulis novel dihitung kum (angka kredit dosen untuk naik pangkat,- red) juga nggak ya?” ia bertanya secara berkelakar di hadapan Rektor Universitas Indonesia yang turut hadir di acara peluncuran. Pertanyaan ini langsung disambut gelak tawa para dosen lainnya yang hadir.
“Ini suatu terobosan, saya yakin ini yang pertama di Fakultas Hukum. Saya sendiri sudah baca beberapa bagian dan memang enak dibaca,” kata Muhammad Anis, Rektor Universitas Indonesia kepada hukumonline.
Pembaca disajikan enam sub bab mulai dari menjelaskan hukum sebagai objek penelitian hingga cara menulis laporan penelitian hukum. Semuanya disusun dalam alur cerita fiksi novel tersebut.
Tidak cukup hanya dengan menerbitkan novel, Agus mengaku telah mendapatkan sutradara yang bersedia membantunya membuat film dari cerita novel ‘Riset Hukum’ ini. “Mahasiswa juga yang akan membuat jadi film, akan dipakai untuk bahan kursus online, pendidikan jarak jauh,” Agus menjelaskan.
Agus berharap karyanya ini bisa memotivasi siapa saja untuk terus berkarya. Terutama untuk para mahasiswa dan koleganya. “Masak orang dengan umur 64 tahun bisa bikin cerita dengan bahasa anak muda begini, Anda tidak bisa?” ujarnya.
















