“Memastikan Gender Action Plan yang berkekuatan hukum dan menjamin akses, kontrol, partisipasi dan manfaat bagi Perempuan, dan masyarakat rentan serta mengakui pengetahuan dan pengalaman perempuan di dalam kebijakan dan aksi aksi iklim yang tidak eksploitatif dan bersumber dari dana utang“, tegas Armayanti.
Perwakilan Yayasan PIKUL, Torry Kuswardono, mencatat pengembangan adaptasi saat ini tidak berorientasi pada ekosistem pulau-pulau dan manusia yang tinggal di dalamnya. Sejumlah proyek seperti reklamasi pantai justru merusak ekosistem asli yang semestinya dipulihkan bahkan kerap terjadi penggusuran.
Kemudian Torry menyoroti pembangunan di sektor pangan yang semestinya berorientasi pada mengatasi dampak perubahan iklim yang berbeda-beda pada kepulauan Indonesia. Tapi yang terjadi malah diseragamkan lewat proyek-proyek food-estate. Hal ini justru malah menimbulkan kerentanan baru karena pembukaan lahan yang besar dan monokultur serta berpotensi menimbulkan risiko pada ketahanan dan kedaulatan pangan.
“Adaptasi semestinya melindungi dampak perubahan iklim melalui ketahanan ekosistem dan keanekaragaman hayati lokal serta melindungi hak komunitas sambil meningkatkan kapabilitas masyarakat lokal agar mampu beradaptasi,” beber Torry.
Peneliti ICEL, Syaharani, berpendapat prinsip-prinsip keadilan iklim perlu diarusutamakan dan dimandatkan oleh suatu regulasi yang mendorong distribusi akses dan kelola sumber daya. Sayangnya hal ini belum menjadi fokus kebijakan dalam visi-misi para kandidat. Karena itu, kebijakan yang berlandaskan keadilan iklim harus menjadi tawaran solusi menangani perubahan iklim karena mencegah pembuatan kebijakan iklim yang bersifat parsial, mengingat perubahan iklim adalah masalah struktural.
“Adanya UU Keadilan Iklim dapat membantu pengambil kebijakan untuk melihat dan mewujudkan prakondisi serta pendukung utama solusi krisis iklim secara berkeadilan, seperti akses informasi, akses partisipasi, pengakuan dan perlindungan masyarakat rentan, penguatan penegakan hukum, serta distribusi manfaat di skala lokal,” tutupnya.
















