Kementerian ESDM belum mempertimbangkan perpanjangan kontrak kerja sama Blok Siak di Riau. Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo menegaskan, kontrak Blok Siak yang dikelola PT Chevron Pacific Indonesia masih dievaluasi di Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM.
"Sedang dievaluasi di Ditjen Migas. Belum dilaporkan," ujar Susilo di Jakarta, Rabu (9/10).
Sayangnya, Susilo enggan membeberkan apa saja yang dievaluasi tersebut. Akan tetapi ia menjelaskan, hal terpenting dari kontrak Blok Siak yang berlokasi di Riau ini harus menguntungkan bagi negara.
Sebelumnya, Chevron telah melakukan pembahasan teknis dengan Kementerian ESDM dalam kaitannya dengan perpanjangan konsesi Blok Siak. Chevron juga sudah mengajukan proposal perpanjangan kontrak kepada pemerintah sejak 2011. Kontrak kerja sama Blok Siak sendiri akan habis November 2013.
Susilo mengatakan, sebenarnya pemerintah tidak memiliki ganjalan dalam memproses kelanjutan kontrak kerja sama blok migas itu. “Tidak ada ganjalan, kami belum mempertimbangkan saja,” tandasnya.
Blok Siak adalah salah satu blok migas yang kontrak kerja samanya akan berakhir pada 27 November 2013. Pengelolaan Blok Siak oleh Chevron sudah dimulai sejak ditandatanganinya kontrak karya pada September 1963.
Saat itu, Chevron masih bernama PT California Texas Indonesia. Kontrak di blok ini pun berlanjut pada tahun 1991 sampai tahun 2013. Jika nanti pemerintah memberikan perpanjangan, maka Chevron bisa mengelola blok tersebut 10 tahun lagi atau baru berakhir pada 2023 mendatang.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Johanes Widjonarko mengatakan, telah memberikan rekomendasi kelanjutan kontrak kerja sama Blok Siak sejak tahun lalu.
“Sudah kami berikan rekomendasi kepada pemerintah. Kalau tidak salah itu diberikan tahun lalu,” ujarnya.
Widjonarko menuturkan, rekomendasi tersebut berisi alternatif dan pertimbangan dari berbagai opsi yang diambil pemerintah. SKK Migas sendiri tidak dapat menentukan apakah sebaiknya Blok Siak tetap dikelola Chevron atau diserahkan kepada Pertamina.
“Rekomendasi itu alternatif, bukan sebaiknya diperpanjang atau tidak. Jadi pilihan ada di pemerintah,” kata dia.
Sebelumnya, SKK Migas pernah menyatakan Blok Siak akan dipecah menjadi tiga bagian yakni Blok I dan Blok III akan ditawarkan kepada sejumlah pihak seperti Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) serta Pertamina. Sedangkan Blok II akan dikelola oleh Chevron.
Berdasarkan data SKK Migas, pada semester pertama 2013 produksi minyak Chevron melampaui target. Chevron memproduksi 323.014 barel per hari sedangkan target sebesar 319.430 barel per hari. Namun kemudian produksi Blok Siak Riau turun drastis menjadi 1.700 barel per hari (bph). Jumlah tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan produksi minyak rata-rata di blok itu yang mencapai 2.500 barel per hari.
















