Lika-liku Karier Johanes A. Candra, dari Tim Personalia Menjadi Pucuk Tim Legal Perusahaan Ternama
Utama

Lika-liku Karier Johanes A. Candra, dari Tim Personalia Menjadi Pucuk Tim Legal Perusahaan Ternama

Sempat ikut ujian pengacara, tapi tidak memilih karier sebagai profesional lawyer.

Oleh:
Willa Wahyuni
Bacaan 4 Menit
Lika-liku Karier Johanes A. Candra, dari Tim Personalia Menjadi Pucuk Tim Legal Perusahaan Ternama
Hukumonline

Melewati tahapan pengembangan karier agar tidak merasa stagnan adalah proses yang tidak mudah. Meski sangat nyaman dengan posisi yang dijalani saat ini, bukan berarti seseorang terus terlena dan hanya bertahan di zona nyaman.

Adalah Johanes April Candra yang saat ini mengemban amanah sebagai Head of Legal Department PT Toyota Astra Motor melalui lika-liku saat menempuh perjalanan kariernya. Jauh sebelum menjadi bagian tim legal counsel di Toyota Astra Motor, siapa sangka pria yang akrab disapa April ini memulai kariernya bukan di bidang legal.

Sejak menamatkan pendidikan Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro 1994, ia memulai karier sebagai tim personalia dan kekaryawanan di PT Showa Indonesia Manufacturing. Sejak itu, perjalanan karier April dimulai mengurus kekaryawanan.

Baca Juga:

“Dengan perjalanan itu, akhirnya saya diminta untuk fokus ke industri relasi. Jadi saya menangani soal kekaryawanan di luar rekruitmen sampai akhirnya saya diminta fokus di industri kekaryawanan hingga hubungan eksternal juga,” kenang April saat ditemui Hukumonline, Rabu (8/11) pagi.

April memulai karier di PT Showa Indonesia Manufacturing sejak 1994 hingga 2002 dengan tanggung jawab kerja menangani kegiatan hubungan industrial internal perusahaan, menjalin koordinasi dan komunikasi dengan pemangku kepentingan hubungan industrial, dan menangani berbagai aktivitas operasi GA.

Hampir satu dekade menjalani karier di Showa Indonesia, April lalu melanjutkan karier masih di industri yang sama dengan tanggung jawab pekerjaan yang berbeda.

“Tahun 2002 saya pindah ke Astra Honda Motor yang saat itu pekerjaannya fokus ke industri relasi yang menyelesaikan masalah terkait perburuhan. Pada tahun 2006 saya diminta untuk pindah ke tim legal, sejak itu saya mulai mencari jati diri karena banyak mengurus soal kontraktual maupun perizinan,” kata Johanes pemenang Hukumonline In House Counsel Awards 2023 untuk Kategori Trade & Distribution.

Hukumonline.com

Sejak menamatkan pendidikan Ilmu Hukum di FH Universitas Diponegoro 1994, Johanes April Candra memulai karier sebagai tim personalia dan kekaryawanan di PT Showa Indonesia Manufacturing. Foto: RES

Di antara tanggung jawab itu, April mengurus persoalan kontraktual, mengkoordinasikan perizinan dan lisensi, mendukung pembentukan dan pemberhentian dealer utama, mendukung administrasi hipotek atas aset dealer utama, dan mendukung terhadap kegiatan asosiasi industri sepeda motor bidang hukum dan SDM.

“Pada 2013 saya ditawari untuk pindah dan langsung menjadi department head. Setelah ada di posisi itu saya membuat beberapa kebijakan untuk tim saya aktif dalam lingkungan sekitar,” ujar April.

Kewajiban yang diberikan oleh April kepada timnya adalah untuk mengikuti training wajib di antaranya bahasa Inggris, PKPA, mengenai HKI, tanah, barang dan jasa, hingga persaingan usaha. Setiap tim diwajibkan untuk mengikuti setidaknya tiga training dalam satu tahun jika tidak akan ada sanksi surat peringatan.

“Saya ingin memberi contoh, saya pun rutin mengikuti training lalu diwajibkan kepada tim. Saya ingin mereka terlibat aktif dalam lingkungan sekitar dan sampai hari ini masih seperti itu,” lanjutnya.

Saat ini, April memfokuskan pekerjaan untuk compliance, karena tuntutan global mengenai compliance harus diwajibkan dan diimplementasikan di dalam perusahaan. April juga mulai melakukan shifting mindset kepada timnya karena menurutnya merubah pola pikir lebih penting.

Hukumonline.com

Meski tidak melanjutkan ilmu hukumnya ke dunia profesional lawyer, April selalu menjaga hubungan baik dengan lawyer eksternal yang bekerjasama dengan perusahannya. Foto: RES

April tidak menampik karier yang ia jalani saat ini dipilih karena tidak ada pilihan lainnya. Ia pun tidak memulai karier sebagai profesional lawyer karena merasa tidak cocok dengan caranya bekerja.

“Saya sempat ikut ujian pengacara, tapi tidak untuk melanjutkan ke pekerjaan profesional. Saya cukup sulit jika diatur oleh klien karena tidak semua klien menerima pola pikir saya. Sedangkan di perusahaan kan ada compliance yang pasti perusahaan akan ikut,” lanjutnya.

Meski tidak melanjutkan ilmu hukumnya ke dunia profesional lawyer, April selalu menjaga hubungan baik dengan lawyer eksternal yang bekerjasama dengan perusahannya. Ia pun kerap berdiskusi mengenai dunia hukum terkini dan penggunaan teknologi yang tidak bisa dielakkan oleh profesional hukum.

“Sebagai in house counsel, saya sering dihadapkan untuk menemukan berbagai aturan, kehadiran teknologi itu mempercepat saya menemukan aturan yang melingkupi persoalan atau masalah tertentu. Jadi teknologi ini digunakan sebagai pendukung dari analisa tentang suatu hal tetapi keputusan akhirnya tetap ditangan saya, way of thinking dan pemahaman saya. Secara keseluruhan teknologi bisa membantu saya lebih cepat termasuk chatbox-nya,” jelas April.

Hukumonline.com

Perwakilan PT Toyota-Astra Motor saat meraih penghargaan kategori pimpinan tim legal yang paling dihormati di sektor Trade & Distribution.

Pemanfaatan teknologi tidak akan maksimal jika tidak didasari oleh kemampuan in house counsel itu sendiri. April mengatakan skill hukum tetap nomor satu, pengantar ilmu hukum menjadi hal paling mendasar seorang lulusan ilmu hukum untuk menjalankan karier sebagai in house counsel.

“Bagi saya konsep pengantar ilmu hukum itu paling penting sisanya ya ketertarikan pribadi masing-masing. Harus ada konsep berpikirnya dulu yang menjadi pondasi baru setelah itu ikuti ketertarikan skill di ilmu hukum lainnya, konsepnya dulu harus ada dan dipegang,” kata dia.

Setelah pengantar ilmu hukum sudah menjadi pondasi, April juga memberikan tips bagi mahasiswa atau lulusan ilmu hukum yang akan berkarier sebagai in house counsel.

“Rajin dan banyak membaca, terutama dari sumber yang terpercaya. Setelah membaca, lalu dengar dan pelajari pendapat-pendapat dari sumber yang terpercaya juga. Kedua, jangan pernah puas karena ilmu hukum itu akhirnya berkembang melebihi yang kita bayangkan dan ilmu hukum tidak melulu soal pengadilan,” ucapnya.

April juga mengingatkan untuk tidak terpaku dengan satu pendapat. Oleh karena itu lulusan ilmu hukum harus bisa menempatkan diri di mana saja sehingga dapat melihat dan mendengar pendapat dari banyak perspektif serta selalu melakukan pengecekan terhadap suatu informasi yang sudah didapat.

Tags:

Berita Terkait