Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Idy Muzayyad, mengatakan pengaruh tayangan media kepada anak-anak sangat besar. Oleh karenanya, tayangan media yang mendidik dan baik sangat dibutuhkan dalam memberi perlindungan terhadap anak. Untuk menghasilkan tayangan media yang ramah anak, Idy mengatakan harus dimulai dari kualitas awak media, mulai dari reporter, redaksi sampai pemilik media.
Bagi Idy, tanpa ada perspektif perlindungan anak dari awak media, maka produk yang dihasilkan media berpotensi besar melanggar hak-hak anak. Ujungnya, anak dapat mengikuti perihal buruk yang secara sengaja atau tidak, disampaikan media. Oleh karena itu, Idy mengatakan KPI membuat kebijakan agar tiap tayangan di media, khususnya televisi ditampilkan kode keterangan. Misalnya, sebuah tayangan diberi kode BO (Bimbingan Orangtua), artinya ketika anak menonton tayangan itu, orang tua wajib mendampingi.
Idy melihat para orangtua, biasanya menganggap sebuah tayangan di televisi aman jika sang anak duduk manis di depan tv. Padahal, Idy melanjutkan, hal itu tak menunjukkan sebuah tayangan aman atau tidak dilihat anak. Orangtua harus menilai secara langsung tayangan tersebut. “Lihat dulu apa tayangannya, aman atau bahaya untuk anak,” kata dia dalam diskusi di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) di Jakarta, Kamis (21/2).
Kesadaran akan perlindungan anak bagi Idy sangat penting dipahami awak media, karena dalam pemberitaan, tak ada satu pun lembaga yang dapat menyensor apa yang disampaikan media. Oleh karenanya Idy mengajak semua pihak turut aktif untuk melindungi anak terutama mengawal tayangan media.
Pada kesempatan yang sama, anggota KPAI, AsrorunNi'am Sholeh, mengatakan UU Perlindungan Anak mengamanatkan agar semua pihak berperan untuk melindungi anak. Mulai dari keluarga, masyarakat sampai lembaga negara. Tentu saja, penyelenggaraan perlindungan dari tiap pihak itu disesuaikan dengan proporsional sesuai kapasitasnya. Bagi Asrorun, UU Perlindungan Anak menekankan keterlibatan semua pihak agar perlindungan anak menjadi budaya di semua lapisan masyarakat.
Dalam membangun kesadaran melindungi anak itu Asrorun merasa peran serta media sangat penting. Misalnya, menyampaikan berita-berita ataupun tayangan yang mengedepankan perspektif perlindungan anak. “Untuk membangun kesadaran kolektif dalam melindungi anak,” tuturnya.
Sementara Ketua KPAI, Badriyah Fayumi, menegaskan bahwa tayangan media sangat mempengaruhi perilaku anak. Pasalnya, anak sangat mudah meniru apa yang dilihat dan didengar. Dengan daya analisis yang masih lemah, anak sering tidak memahami apa yang dimaksud dalam tayangan yang dilihatnya.
















