Willson juga menyoroti pentingnya keberanian media dalam bereksperimen dengan teknologi baru. Ia menyarankan agar para pelaku industri media tidak takut mencoba hal baru, meskipun berisiko gagal.
“Saran saya ke teman-teman media be in the game. Apa pun teknologinya, jangan takut untuk belajar dan mencoba. Kalau gagal, jadikan itu pembelajaran. Kalau berhasil, terus update dan adaptasi. Dengan begitu, media bisa tahu di mana posisinya dalam perkembangan teknologi,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menilai kualitas sumber daya manusia menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan sebuah bisnis media. Bagi Willson, kriteria paling mendasar dari media yang layak untuk diinvestasikan adalah kualitas dan misi dari para pendirinya.
“Founders harus passionate terhadap apa yang ingin mereka pecahkan. Kalau tujuannya hanya untuk mencari uang, itu langkah terakhir. Yang utama adalah misinya, apa yang ingin mereka ubah dan bagaimana caranya mereka ingin berkontribusi,” tutur Willson.
Ia menegaskan, media yang ideal adalah media yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Konten yang dibuat harus punya misi membangun negara. Kalau masyarakatnya sejahtera, lanjutnya, media juga ikut tumbuh dan klan akan datang dengan sendirinya, karena negara yang sejahtera akan menarik minat banyak pihak untuk berinvestasi.
Willson juga mengingatkan media harus memahami konteks sosial dan geografis di mana mereka beroperasi. Menurutnya, media lokal memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang relevan bagi komunitasnya.
“Bagi saya, perspektif lokal itu penting. Dalam 10 tahun terakhir, perkembangan media di daerah juga luar biasa, walaupun persaingan semakin ketat dengan hadirnya berbagai platform digital dan program TV,” tuturnya.
















