Menakar Masa Depan Profesi Hukum Dampak Tergeser AI
Utama

Menakar Masa Depan Profesi Hukum Dampak Tergeser AI

Terdapat persaingan antara AI dengan praktisi hukum karena memiliki kesamaan dalam pelayanan. Selain itu terdapat kecenderungan bagi kantor hukum untuk mempertimbangkan antara merekrut advokat muda atau berinvestasi AI.

Mochamad Januar Rizki
Bacaan 3 Menit
Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani, Prof Hikmahanto Juwana saat membuka acara seminar bertajuk Empowerment Gen-Z untuk Transformasi terhadap Edukasi Hukum di Era Digitalisasi di Gedung Kampus Unjani, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (6/6/2024). Foto: RES
Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani, Prof Hikmahanto Juwana saat membuka acara seminar bertajuk Empowerment Gen-Z untuk Transformasi terhadap Edukasi Hukum di Era Digitalisasi di Gedung Kampus Unjani, Ciamis, Jawa Barat, Kamis (6/6/2024). Foto: RES

Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin berkembang. Sebagian kelompok memprediksi AI dapat menggantikan berbagai profesi manusia termasuk praktisi hukum. Teknologi AI dapat menghasilkan analisis yang tajam bahkan menghasilkan putusan hukum untuk menyelesaikan perkara pada suatu sengketa. Namun, di sisi lain, terdapat anggapan bahwa sentuhan manusia masih sangat dibutuhkan dalam industri hukum dan tidak sepenuhnya dapat digantikan AI.

Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Prof Hikmahanto Juwana menyampaikan saat ini teknologi AI dibutuhkan untuk memperkuat analisis di tengah tersebarnya berbagai sumber hukum. Menurutnya membangun argumentasi berdasarkan fakta, bukti yang kesemuanya perlu dilakukan analisa.

Nah, di sinilah letak penting digital,” ujar Prof Hikmahanto saat membuka acara seminar bertajuk “Empowerment Gen-Z untuk Transformasi terhadap Edukasi Hukum di Era Digitalisasi” di Gedung Kampus Unjani, Cimahi, Jawa Barat pada Kamis (6/6/2024).

Dia memaparkan kondisi akses sumber hukum di Indonesia jauh lebih sulit dibanding berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Hal tersebut berdampak terhadap kekuatan analisis hukum yang tidak komprehensif jika dilakukan secara konvensional. Dia menegaskan kehadiran teknologi digital menjadi keharusan dan bermanfaat memudahkan praktisi hukum mengakses sumber-sumber tersebut.

Baca juga:

Hukumonline.com

Suasana hangat saat berdiskusi  di ruang Gedung Unjani. Foto: RES

Dalam kesempatan sama, advokat senior Mohamad Idwan Ganie memaparkan penggunaan AI seperti ChatGPT sudah menjadi bagian dalam praktisi hukum saat ini. Meski saat ini masih terdapat kelemahan, namun teknologi AI terus berkembang sehingga dapat semakin diandalkan ke depannya membantu praktisi hukum.

“Dari dulu selalu ada perkembangan teknologi. Namun, tidak begitu cepat, eksponensial dan sedisruptif AI ini yang mengancam praktisi hukum jika kurang peka menghadapi ini,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya:
Tags: