Mitigasi Tarif Trump, Optimalisasi Mineral dalam Negeri di Industri Manufaktur jadi Solusi
Terbaru

Mitigasi Tarif Trump, Optimalisasi Mineral dalam Negeri di Industri Manufaktur jadi Solusi

Indonesia dapat menekan ekspor produk mineral dasar dan mengolahnya di dalam negeri menjadi barang jadi.

Hanifah Dwi Jayanti
Bacaan 3 Menit

Heri menambahkan bahwa China merupakan mitra dagang utama Indonesia di sektor mineral dan logam dasar. Jika ekspor China ke AS terganggu, permintaan mereka terhadap produk hilirisasi dari Indonesia pun bisa menurun.

“Itulah mengapa pemerintah harus fokus memperkuat pasar domestik,” tegas Heri.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa arahan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi kebijakan Trump ini adalah untuk menjaga hubungan strategis dengan Amerika. Pemerintah tengah menyiapkan langkah konkret melalui negosiasi ulang perjanjian dagang dan investasi yang sudah usang, seperti TIFA (Trade and Investment Framework Agreement) yang terakhir ditinjau pada tahun 1996.

“Perjanjian ini sudah obsolete. Kita dorong untuk direvitalisasi, bahkan Malaysia juga ingin menjajaki perjanjian TIFA dengan Indonesia,” jelasnya.

Pemerintah juga sedang menyusun sejumlah kebijakan sebagai bagian dari strategi diplomasi ekonomi, seperti deregulasi Non-Tariff Measures, penguatan komitmen dalam penerapan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) di sektor ICT, serta membuka akses kawasan Free Trade Zone, terutama di Pulau Batam untuk mendukung investasi dari perusahaan Amerika seperti Oracle dan Microsoft.

Langkah lain yang sedang dilakukan antara lain evaluasi LARTAS (Larangan dan/atau Pembatasan Impor-Ekspor), percepatan sertifikasi halal, serta upaya balancing neraca dagang dengan Amerika.

“Presiden juga memberikan arahan agar kita meningkatkan impor produk agrikultur dari Amerika, seperti kedelai dan gandum, yang memang tidak kita produksi. Kita juga akan meningkatkan pembelian produk engineering serta LNG dan LPG dari AS. Namun pembelian ini merupakan realokasi, bukan tambahan, sehingga tidak akan membebani APBN,” terang Airlangga.

Selain itu, pemerintah juga akan memberikan insentif fiskal dan non-fiskal untuk mendorong masuknya produk Amerika ke pasar domestik, sambil meningkatkan daya saing ekspor Indonesia ke pasar global.

“Oleh karena itu arahan Bapak Presiden untuk merespons ini, dalam beberapa kali pembicaraan dan bahkan dalam rapat, Indonesia memilih jalur negosiasi karena Amerika merupakan mitra strategis,” katanya.

Selain itu, Airlangga menyebutkan sejumlah komoditas utama yang mengalami penurunan harga akibat tarif Trump 2.0 ini, seperti minyak mentah (crude oil) yang turun hampir 30%, prem turun 28% hingga menyentuh angka USD 60, batubara turun ke angka 24% di atas USD 97, serta penurunan harga pada CPO, kedelai, gandum, dan beras.

“Satu-satunya komoditas yang mengalami kenaikan adalah emas. Maka keputusan Presiden untuk meluncurkan produk bullion sangat tepat karena emas adalah komoditas yang tahan terhadap resesi,” ujarnya.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info