Noktah Hukum dalam Rekonstruksi Padang Pasca Gempa
Berita

Noktah Hukum dalam Rekonstruksi Padang Pasca Gempa

Pusat pemerintahan Kota Padang akan dipindahkan ke Aiapacah. Sejumlah akademisi memberikan sumbangsaran untuk rekonstruksi kota pasca gempa. Bappenas masih melakukan kajian.

Mys/Yoz
Bacaan 2 Menit
Noktah Hukum dalam Rekonstruksi Padang Pasca Gempa
Hukumonline

Bangunan hotel bintang tiga itu kini nyaris rata dengan tanah. Beberapa pekerja sibuk membongkar sisa bangunan yang masih utuh. Dari balik pagar seng, kita dapat mengintip bekas gedung peninggalan Belanda tadi hancur. Sebuah tanda yang menyembul keluar menunjukkan gedung yang tengah dibongkar itu adalah Hotel Ambacang.

 

Hotel Ambacang telah menyisakan duka akibat gempa berkuatan 7,9 skala Richter yang melanda Sumatera Barat pada 30 September 2009. Ratusan jiwa menjadi korban akibat gempa tersebut. Hotel Ambacang termasuk gedung yang kerusakannya sangat parah dan hingga kini belum selesai dibangun ulang.

 

Hampir lima bulan setelah gempa berlalu, kerusakan masih terlihat di sana sini. Gedung Pengadilan Militer Padang masih tampak tak berpenghuni karena bagian atapnya hancur. Showroom Suzuki juga bernasib sama. Rumah tinggal dan ruko yang mengalami kerusakan kecil di sepanjang Jalan Veteran dan Jalan Diponegoro sudah tampak diperbaiki.

 

Pemandangan berbeda tak terlihat pada gedung-gedung milik pemerintah di sepanjang jalan Jalan Raden Saleh dan Khatib Sulaiman. Penelusuran yang dilakukan hukumonline hingga Senin pagi (15/2) pekan lalu di kota Padang, menemukan tak ada aktivitas rekonstruksi di sejumlah gedung milik pemerintah yang rusak parah dilanda gempa. Tengok saja gedung Badan Ketahanan Pangan di ujung Jalan Raden Saleh. Bagian kiri dan kanan gedung sudah hancur. Lebih parah lagi di Jalan Khatib Sulaiman, kawasan yang dikenal sebagai pusat pemerintahan. Gedung Kantor Wilayah III Ditjen Perbendaharaan Negara Departemen Keuangan, kantor Balai Wilayah Sungai Sumatera V Ditjen Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum, kantor Bappeda, dan Kantor Pelayanan Pendapatan Provinsi di jalan yang sama tak bisa dipergunakan lagi. Di depan gedung Bappeda teronggok dua mobil pelat merah yang rusak tertimpa reruntuhan. Semua bangunan milik pemerintah itu seolah dibiarkan tanpa rekonstruksi.

 

Alih-alih dibangun kembali, di depan beberapa gedung milik pemerintah malah terpampang pengumuman bahwa ada sengketa di PTUN atas lahan gedung tersebut. Di pagar gedung Bappeda tergantung pengumuman: Bangunan ini dalam Perkara Tata Usaha Negara No. 4/G/2016/PTUN-PDG, Kuasa Hukum CV Julia Jaya, Martinus Hasibuan SH. Di sebelahnya terpampang pengumuman berisi penetapan PTUN Padang tertanggal 10 Februari 2010 antara Syah Emir P Daulay (CV Julia Jaya) melawan Setda Provinsi Sumatera Barat. Sengketa kedua pihak rupanya bermuara pada penundaan penunjukan pembeli hasil bongkaran gedung yang rusak akibat gempa. Pengumuman yang sama tampak di depan gedung Kantor Pelayanan Pendapatan Provinsi.

 

Pengajar hukum agraria Universitas Andalas Padang, Kurnia Warman, mengakui tanah di sekitar jalan Khatib Sulaiman Padang rawan sengketa. Kasus besar yang mencuat selama ini adalah sengketa antara marga Chaniago dan Sikumbang. Namun sepengetahuan Kurnia, belum dibangunnya sejumlah gedung pemerintahan bukan karena sengketa kepemilikan lahan.

 

Menurut Kurnia Warman, daerah yang terkena gempa seperti Padang dan Nanggroe Aceh Darussalam rawan menimbulkan konflik pertanahan. Bisa jadi lantaran hilangnya bukti-bukti kepemilikan akibat gempa dan tsunami seperti di Aceh. Di Aceh, ada sengketa mengenai kepemilikan dan pewarisan pasca gempa yang bermuara hingga ke Mahkamah Agung. Atau, bisa juga karena pergeseran batas-batas tanah. Fisik tanah sudah bergeser. “Potensi konfliknya tinggi,” ujarnya kepada hukumonline.

 

Terlepas dari kemungkinan sengketa pertanahan itu, gempa telah memberikan “hikmah” kepada pemerintah untuk memindahkan pusat pemerintahan kota Padang dari kawasan Khatib Sulaiman. Menurut Kurnia Warman, kawasan itu memang sudah tidak layak dijadikan sebagai pusat pemerintahan karena sudah terlalu sibuk.

 

Pemerintah kota Padang pun seolah mendapat angin untuk memindahkan pusat pemerintahan itu. Walikota Padang Fauzi Bahar sudah mempresentasikan masterplan pemindahan itu di depan Kepala Bappenas pekan lalu. Bahkan Rapat Paripurna DPRD Padang, 13 Februari lalu, sudah menyepakati pemindahan pusat pemerintahan kota ke kawasan Airpacah. Hanya dua fraksi, Hanura dan Golkar, yang tetap menginginkan pemindahan dilakukan ke kawasan Bukitnapa, Kuranji.

 

Sejalan dengan rencana pemindahan itu, sejumlah akademisi di Padang juga memberikan sumbang saran untuk pembangunan kembali Sumatera Barat. Sumbangan pemikiran itu dituangkan ke dalam buku “Padang Reconstruction, Kampus Berbicara, Menulis tentang Kota Padang”. Ada 19 artikel yang dimuat buku terbitan BEM KM Universitas Andalas setebal 202 halaman itu. Termasuk tulisan “Agenda Pembaharuan Pengelolaan Tata Pemerintahan di Kota Padang: Tinjauan dari Aspek Pemberantasan Korupsi” oleh Saldi Isra. Tulisan lain adalah mengenai amdal, pembangunan pertanian, perikanan laut, penguatan masyarakat sipil, mencari titik temu problematika investasi dan tanah ulayat.

 

Dihubungi di Jakarta, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas, Dedy Supriadi Priatna menegaskan Bappenas sudah mendengarkan presentasi Walikota Padang tentang program khusus rekonstruksi kota pasca gempa. Ia membenarkan saat ini telah disiapkan lokasi baru untuk menjadi pusat pemerintahan.

 

Pilihan terhadap Airpacah sudah sesuai dengan Perda Kota Padang No. 10 Tahun 2005 tentang Tata Ruang Wilayah Kota Padang 2004-2013. Namun, Dedi membantah bahwa Bappenas telah menyetujui rencana pemindahan pusat pemerintahan tersebut. Menurut dia, pemindahan pusat pemerintahan kota Padang baru usulan Pemkot kepada Bappenas. “Saat ini kami baru melakukan evaluasi dan studi awal,” ujarnya.

 

Senada dengan Kurnia Warman, Dedi tak menampik kemungkinan banyaknya masalah hukum yang timbul dalam pemindahan pusat pemerintahan. Sebagai contoh, terdapat tanah yang bukan merupakan milik Pemda secara keseluruhan atas lokasi yang dipilih sebagai pusat pemerintahan. “Yang milik Pemda hanya sekian hektar, sisanya milik orang lain,” tuturnya. Namun ia mengatakan, masalah hukum semacam itu adalah hal yang wajar dan saat ini sedang dipersengketkan di PTUN.

 

Kurnia Warman malah menegaskan pemindahan pusat pemerintahan kota Padang ke kawasan Airpacah tidak segampang membalik telapak tangan. Penyediaan lahan yang sangat luas salah satu masalahnya. “Itu tidak mudah,” pungkasnya.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info