Kemampuan masyarakat untuk berpikir mandiri atau memiliki agensi (agency) dinilai penting untuk menghadapi struktur sosial, politik, dan ekonomi yang berpotensi membatasi ruang gerak masyarakat. Agensi diperlukan agar masyarakat tidak hanya memahami persoalan struktural, tetapi juga mampu mendorong perubahan.
Founder dan Chief Experiment Officer Think Policy, Andhyta Firselly Utami, menilai masih terdapat kesenjangan antara kesadaran masyarakat terhadap persoalan struktural dan kemampuan untuk mengubahnya.
Oleh karena itu, gerakan masyarakat perlu bergeser dari sekadar membangun kesadaran menuju penguatan kapasitas untuk mengorganisasi diri dan memengaruhi kebijakan.
Menurut peneliti yang akrab disapa Afu itu, buku Lawan Oligarki: Siasat Segelintir Orang Menguasai Negara dan Bagaimana Rakyat Melawannya yang diluncurkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) memuat strategi untuk menjembatani kesadaran masyarakat dengan kekuatan kolektif.
Salah satu upaya yang dilakukan Afu bersama rekan-rekannya adalah membangun konstituensi secara langsung di tengah masyarakat. Upaya tersebut ditujukan untuk memperkuat agensi masyarakat dalam jangka panjang.
“Kita harus bergeser ke membangun kapasitas mengorganisir, kapasitas menekan atau menciptakan konsekuensi, atau bahkan kapasitas men-engage institusi formal kalau itu pilihannya,” ujarnya dalam diskusi publik dan peluncuran buku di Taman Ismail Marzuki, Rabu (28/10/2026).
Afu menyebut terdapat empat pendekatan dalam membangun agensi, yakni pelibatan institusi untuk kepentingan individu maupun kolektif, serta pemisahan diri dari institusi secara individu maupun kolektif.
















