Maraknya aksi unjuk rasa menjelang penentuan status harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terus terjadi di berbagai daerah. Ada yang berakhir bentrok, dan mengakibatkan korban luka di kedua belah pihak.Sebut saja aksi yang berujung di bilangan Salemba, Jakarta Pusat pada Kamis (29/3) malam. Polisi diduga menggunakan peluru karet untuk membubarkan aksi unjuk rasa.
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Saud Usman Nasution menepis aparat kepolisian di lapangan menggunakan peluru karet. Saud menegaskan penggunaan peluru karet merupakan pilihan terakhir. Saud juga menegaskan adanya pemberitaan di media internet yang menyatakan Kapolri Jenderal Timur Pradopo memberikan perintah tembak di tempat. “Tidak ada perintah Kapolri untuk menembak di tempat,” ujarnya.
Saud menegaskan terhadap penanganan para demonstran di beberapa titik di ibu kota Jakarta, aparat kepolisian mengedepankan tindakan persuasif dan preventif. Menurut dia penggunaan water canon dan gas air mata dilakukan setelah ada perintah dari komandan tertinggi di lapangan.
Begitupun penggunaan peluru karet dapat digunakan jika tindakan anarkis sudah tak dapat ditanggulangi. “Peluru tajam tidak dibenarkan. Peluru karet digunakan kalau sudah terpaksa sekali dan sudah alternatif terakhir sekali supaya tidak ada anggapan represif dan semata-mata untuk membubarkan,” ujarnya.
Dalam insiden Salemba, Saud menepis adanya korban jiwa sebagaimana yang tersiar kabar. Namun Saud mengakui terdapat beberapa mahasiswa yang menjadi korban luka akibat bentrok. Dikatakan Saud korban luka dapat diketahui setelah dilakukan visum apakah terkena serpihan benda tajam atau benda lainnya. Terhadap aparat kepolisian di lapangan memang dibekali peluru karet. Namun tidak semua personil mengantongi peluru karet. “Pengguna peluru karet terbatas,” kilahnya.
Mantan Kepala Detasemen Khusus (Kadensus) 88 Anti Teror itu merinci jumlah korban berjumlah 10 orang luka dari pihak anggota kepolisian. Sedangkan 5 orang dari pihak demonstran akibat terkena siraman gas air mata. Tidak hanya itu, polisi menangkap pelaku unjuk rasa sebanyak 54 orang. Namun apakah akan dilepaskan atau sebaliknya, menurut Saud ke54 orang itu akan menjalani pemeriksaan terlebih dahulu.
Sedangkan barang bukti berupa 1 unit mobil resmob dibakar massa, 1 unit kendaraan motor, ketapel dan 1 buah bom molotov. Menurut dia demosntran yang notabene mahasiswa itu melarikan diri ke gedung YLBI. Makanya aparat mengejar hingga masuk ke gedung tersebut. “Jadi bukan menguasai YLBHI,” dalihnya.
















