Saat ditanya mengenai kinerja BPJS Ketenagakerjaan yang sebelumnya PT. Jamsostek, Elvyn menjawab singkat, “Rp203 triliun,” katanya menunjuk besarnya dana kelolaan BPJS Ketenagakerjaan. Dana tersebut, lanjut Elvyn, tersebar di saham, obligasi, deposito, penyertaan. Adapun angka Rp203 triliun itu, merupakan total aset yang dimiliki oleh BPJS Ketenagakerjaan.
“Jumlah peserta kita sudah mencapai sekitar 17 juta. Kita sudah membuka 150 kantor cabang baru, diresmikan Insya Allah pada pekan kedua Juni ini. Itu preparation kita dari sisi institusi untuk beroperasi penuh pada 1 Juli 2015 nanti,” terang Elvyn.
Mengenai komposisi penyertaan aset senilai Rp203 triliun itu, Elvyn menambahkan, sebanyak 44 persen dalam bentuk obligasi, deposito 24 persen, saham 22 persen, reksadana 6 persen, sisanya di penyertaan dan di properti.
Ada batasan? “Ada. Kita masih mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2013 yang sekarang juga dalam proses revisi. Nanti 1 Juli 2015 kita akan menggunakan peraturan-peraturan pemerintah yang baru untuk operasional BPJS Ketenagakerjaan,” jelas Elvyn.
Mengenai penempatan anggaran untuk sektor infrastruktur, Elvyn mengatakan, untuk penyertaan pihaknya mempertimbangkan di sektor infrastruktur. Saat ini, penempatan tersebut masih dikaji karena BPJS Ketenagakerjaan harus melakukan feasibility study terhadap berbagai usulan-usulan proyek itu. Tapi kita alokasikan ke sana, termasuk properti di dalamnya: properti di kawasan industri, kemudian rusunawa di enam lokasi, kemudian landed house di berbagai daerah.
“Rusunawa di enam lokasi (Jabar, Jabodetabek, Jateng, Jatim, dan Sulsel). Total kita alokasikan untuk itu sekitar Rp360 miliar. Untuk pekerja berpendapatan rendah dan itu rumah susun sewa,” jelas Elvyn.
















