Tak ada aspek kehidupan manusia yang lepas dari hukum. Namun, stigmanya yang rumit, kaku, dan sulit dipahami sering kali jadi alasan banyak orang enggan mempelajari hukum. Tanpa disadari, situasi ini juga berdampak pada potensi peningkatan pelanggaran hukum. Nah, menjadi insan yang melek hukum penting, terlebih untuk menjaga hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Kantor Hukum S&P Law Office berupaya untuk mendobrak tembok ini dengan menyediakan akses terhadap edukasi hukum yang lebih inklusif dan membumi. Bagi mereka, edukasi ini bukan sekadar kewajiban advokat dalam memberikan layanan probono, tetapi juga panggilan untuk berkontribusi lebih luas untuk mencerdaskan publik.
”Advokat perlu lebih banyak berpartisipasi terhadap edukasi hukum, karena akses ini masih terbatas di masyarakat. Berkolaborasi dengan Hukumonline yang memiliki jaringan luas dan menjadi Mitra Klinik Hukumonline, membantu kami terhubung dengan beragam lapis masyarakat, baik secara kualitas maupun kuantitas,” kata Associate di S&P Law Office, Aldo Prasetyo Riyadi.
Namun, dalam praktiknya, tetap ada tantangan dalam mengemas informasi hukum agar tetap menarik dan mudah dipahami. Tak dapat diingkari, ilmu hukum sering kali dipenuhi istilah teknis yang hanya dapat dipahami kalangan tertentu. Menyederhanakan istilah-istilah tersebut tanpa mengurangi substansi pun jadi kesulitan tersendiri.
”Di S&P, setiap jawaban Klinik Hukumonline akan melewati sejumlah tahap. Tahap pertama, inventarisasi sumber. Setelahnya, kami parafrase dengan bahasa yang mudah dipahami. Lalu, tahap terakhir, review. Adapun hal yang paling penting dari itu semua, adalah memastikan seluruh jawaban yang diberikan selaras dengan perspektif pembaca,” Aldo menjelaskan.
Sebagai Mitra Klinik Hukumonline, S&P ingin menyebarluaskan informasi yang dapat menjembatani pemahaman masyarakat awam terhadap isu-isu hukum. Untuk mencapai tujuan tersebut, alih-alih berbicara sebagai ’praktisi hukum’, mereka harus menghindari jargon maupun istilah teknis, lalu menggantinya dengan bahasa yang lebih membumi.
Untuk kali kelima, Hukumonline menggelar Hukumonline’s Legal Clinic Awards 2024, pada Jumat (1/11). Tahun ini, Hukumonline Legal Clinic Awards 2024 mengusung tema ‘Bersama Artificial Intelligence, Memasuki Era Baru Praktik Hukum Profesional dan Berintegritas’. Topik ini dipilih lantaran Hukumonline baru saja merilis Generative AI bernama Ask Hukumonline beberapa waktu lalu.
Hukumonline Legal Clinic Awards 2024 hadir sebagai wujud apresiasi bagi para mitra Klinik Hukumonline yang terus berdedikasi mendampingi masyarakat melalui berbagai tanya-jawab. Pada perhelatan ini, S&P tercatat sebagai Mitra Klinik Terbaik Spesialisasi Kekayaan Intelektual, Teknologi, dan Pertanahan.
”Kami merasa bersyukur bisa masuk dalam kategorisasi ini, mengingat persaingan industri hukum Indonesia cukup kompetitif. Hukumonline bagi kami adalah salah satu referensi, bahkan barometer hukum. Biasanya, orang ketika punya pertanyaan, akan cek dulu ke Hukumonline, baru tanya lawyer. Jadi barometer Hukumonline sangat penting untuk negara ini,” kata Founder and Managing Partner S&P, Timoty Ezra Simanjuntak.
Belajar Hukum Dapat Lebih Asyik
Melalui kolaborasi dengan Hukumonline dan berbagai program yang mereka jalankan, S&P ingin terus menjadi bagian dalam mencerdaskan publik. Dengan mengedepankan pendekatan yang lebih inklusif, mudah dipahami, dan menyenangkan, mereka berharap dapat membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk memahami hukum.
Baik Ezra maupun Aldo sepakat, kini informasi hukum tak lagi terbatas pada buku-buku tebal atau pertemuan langsung dengan para praktisi. Hukumonline, sebagai salah satu platform utama dalam dunia edukasi hukum di Indonesia, memungkinkan S&P untuk menjangkau audiens yang lebih beragam.
”Advokat adalah orang yang berpikir dan Mitra Klinik adalah sarana paling elegan bagi kami menyumbangkan ide dan gagasan dalam bentuk artikel. Lawyer harus dikenal dengan tulisan atau gagasan. Perihal menang atau kalah (di pengadilan), itu beda cerita. Generasi muda itu harus bisa menulis. Di era sekarang, kami bisa berbagi pengetahuan hukum lewat berbagai format: artikel, video, bahkan podcast. Ini sangat relevan, karena setiap audiens memiliki preferensi yang berbeda-beda,” ujar Ezra.
Selain Mitra Klinik, S&P berupaya menjangkau audiens dengan lebih menyeluruh, dengan mengaplikasikan beragam pendekatan. Mereka, ingin dikenal sebagai kantor hukum yang profesional, serius, tetapi di sisi lain juga penuh kreativitas dalam mengembangkan berbagai metode belajar hukum.
Aldo menjelaskan, kini S&P memiliki satu program berjudul Stalking-in Hukum yang memuat konten edukasi terkait penerapan hukum di masyarakat. Ada pula webinar dan tanya-jawab terkait permasalahan hukum. Dari sisi akademis, S&P telah menerbitkan tiga buku yang bertema pajak, kontrak UMKM, dan waralaba; sementara untuk mengakomodasi kebutuhan rekan sejawat di industri hukum, S&P juga rutin mengirimkan legal brief.
”Ketika kami melihat media sosial Hukumonline, kami beranggapan, harusnya hukum dapat disampaikan dengan cara yang lebih fun di zaman sekarang. Tidak membosankan dan mudah dipahami. Misalnya, generasi muda, terutama Gen Z, lebih suka dengan konten ringan seperti video pendek. Kami menyesuaikan format konten dengan kebutuhan dan karakter audiens,” Ezra menjelaskan.
Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara Hukumonline dengan Kantor Hukum S&P Law Office.
















