Rabu, 17 February 2010

Boy Mardjono, Soe Hok-Gie, dan Keadilan Bagi Orang Miskin

Semasa hidupnya, Soe Hok-Gie pernah mengungkapkan keprihatinannya atas hukum dan keadilan, lalu bercerita tentang Boy Mardjono dan Yap Thiam Hien.
Mys/Amr-Klinik
Mardjono Reksodiputro. Foto: Sgp







Suasana Jakarta masih mencekam. Pembersihan orang-orang yang terlibat PKI masih terus berlangsung di setiap sudut, tak terkecuali kampus. Ruang tahanan penuh sesak. Banyak yang mati sia-sia, tanpa melalui proses peradilan. Nyawa seolah tak ada artinya akibat dendam kesumat perbedaan ideologi. Sebelum dikubur, mayat-mayat korban dikirim ke rumah sakit, dan beberapa kali mampir ke Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia.

 

Sosok mayat yang dikirim kali ini menggugah Mardjono Reksodiputro, dosen muda yang diminta mengepalai Lembaga Kriminologi tadi. Sosok mayat mengerikan. Beratnya hanya sekitar tiga puluh kilo. Kurus dan tulang pipinya sudah menyatu dengan kulit. Polisi, yang mengantar mayat, mengatakan mayat tersebut adalah orang gila dan menolak makan di penjara.

 

Mardjono muda penasaran. Pemeriksaan dilakukan. Ternyata, pria yang sudah menjadi mayat tadi bukan tidak mau makan seperti kata pak polisi. Ia menderita penyakit mulut. Kalaulah polisi berbaik hati membawa pria itu ke dokter, mungkin hasilnya lain. Rupanya, polisi mengabaikan laporan-laporan si pria. Walhasil, ajal menjemputnya di ruang tahanan.

 

Kala itu, suasana memang masih mencekam. Adalah lumrah para tahanan mati kelaparan di tahanan. Mereka tidak dipedulikan, menunggu perkaranya berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hingga ajal menjemput. Begitu tahanan mati, namanya dicoret begitu saja. Apakah ia salah satu tahanan yang diduga terlibat aksi G.30.S? Tak ada jawaban pasti.

 

Cerita tentang kiriman mayat tadi mengingatkan kembali memori Mardjono Reksodiputro tentang sosok Soe Hok-Gie. Kepada Hok-Gie pula cerita tentang mayat tak bernama itu disampaikan. Hok-Gie lantas menuangkan pertemuannya dengan Mardjono muda dan kisah tentang mayat tadi di Majalah Mahasiswa, edisi Jabar 7 Juli 1969. Ia menggambarkan Mardjono, Kepala Lembaga Kriminologi Universitas Indonesia itu, sebagai sosok yang “masih muda dan serius kalau bekerja”.

 

Tentu saja, Mardjono tak muda lagi. Lahir di Blitar pada 13 Maret, kini ia sudah melewati usia 70 tahun. Gelar profesor sudah lama diraihnya, dan puluhan tahun ia berkecimpung di dunia akademik. Sederet jabatan pernah ia pegang di kampus.

 

Pertemuannya dengan Hok-Gie terjadi puluhan tahun silam. Adalah buku “Soe Hok-Gie…Sekali Lagi” terbitan Desember 2009 yang kembali memutar kenangan Mardjono. Bertepatan pula, pada bulan yang sama, Mardjono meluncurkan bukunya “Menyelaraskan Pembaruan Hukum”. Diluncurkan Komisi Hukum Nasional (KHN) bertepatan dengan Hari Antikorupsi Sedunia 2009, buku Mardjono memuat kegelisahan intelektualnya atas perkembangan hukum di Tanah Air, kegelisahan yang pernah dirasakan pula oleh Hok-Gie.

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua