Jumat, 27 Maret 2015

Menko Polhukam: Profesionalisme adalah Roh Profesi Advokat

Selama 10 tahun, PERADI dalam keadaan perang tetapi tetap mampu membangun.
ROFIQ HIDAYAT
Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdjiatno dalam acara Munas II PERADI di Makassar, Kamis (26/3). Foto: RZK

Ratusan advokat dari seluruh Indonesia berkumpul di Makassar, Sulawesi Selatan dalam rangka Musyawarah Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (Munas PERADI). Munas edisi ke-2 sejak PERADI berdiri tahun 2005 ini dibuka secara resmi oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan  Keamanan Tedjo Edhy Purdjiatno, Kamis (26/3).
 
Hadir mewakili Wakil Presiden Jusuf Kalla, Tedjo mengatakan tema Munas PERADI yakni “Melalui Munas II PERADI Kita Tingkatkan dan Pertahankan Profesionalitas, Soliditas dan Imunitas Profesi Advokat” relevan dengan situasi aktual yang dihadapi profesi advokat di Negeri ini.
 
“Saya meyakini melalui sejumlah kesempatan diskusi dalam Munas ini, rekan-rekan advokat dapat merumuskan sebuah rekomendasi yang dapat diterima sebagai solusi atas berbagai tantangan yang dirasakan oleh profesi advokat di Indonesia,” papar Tedjo dalam sambutannya, Kamis (26/3).
 
Menurut Tedjo, profesionalisme merupakan esensi atau roh dari profesi advokat. Profesionalisme, kata dia, sering menjadi masalah dalam berbagai profesi, termasuk advokat. Seseorang yang menjalankan sebuah profesi dapat memiliki keahlian yang mumpuni, tetapi tidak profesional jika tidak mengindahkan etik dan moral.
 
Menyebutnya sebagai rumor, Tedjo mengatakan banyak advokat yang menjalankan profesinya dengan mengesampingkan etik serta menghalalkan segala cara demi memenangkan kliennya. Perilaku advokat seperti ini, menurut Tedjo, mencerminkan bahwa telah hilangnya profesionalisme yang jauh dari cita-cita advokat sebagai profesi yang mulia (officium nobile).
 
Berikutnya, Tedjo menyoroti soliditas dalam organisasi advokat. Dia menegaskan bahwa wadah tunggal profesi merupakan cita-cita yang sudah lama dinantikan oleh kalangan advokat. Terkait hal itu, pembentukan PERADI menjadi harapan agar terwujudnya soliditas organisasi advokat yang berwibawa dan bermartabat.
 
“Namun demikian kita memaklumi bersama bahwa dalam perkembangannya muncul organisasi advokat lain sebagai bentuk dinamika yang terjadi dalam tubuh profesi advokat Indonesia. Pemerintah dan rakyat berharap ke depan advokat dapat duduk bersama menyelesaikan persoalan dualisme ini secara arif dan bijaksana,” ujarnya.
 
Menurut Tedjo, advokat harus bersatu. Khusus terkait pemilihan Ketua Umum DPN PERADI, Tedjo berpendapat berbeda pandangan itu adalah sesuatu hal yang biasa, tetapi ketika ketua terpilih, semua advokat harus bersatu. “Lupakan perbedaan, dukung pemimpin yang terpilih.”
 
Dalam pidatonya, Ketua Umum DPN PERADI Otto Hasibuan mengakui selama dua periode kepemimpinannya, PERADI memang kerap diterpa masalah. Otto bahkan menyebut 10 tahun sejak berdiri, PERADI selalu dalam keadaan “perang”. Beragam gugatan baik itu di Mahkamah Konstitusi (MK) maupun lembaga peradilan lainya terus menghantam PERADI.
 
“Kita selama 10 tahun selalu dirongrong, tapi saya bangga di DPN PERADI dan bersama DPC, meskipun di masa perang PERADI masih dapat membangun,” ujar Otto yang langsung disambut riuh tepuk tangan hadirin Munas.
 
Menurut Otto, setidaknya terdapat 21 gugatan di MK yang mengarah ke PERADI. Mayoritas berkaitan dengan eksistensi PERADI sebagai wadah tunggal profesi advokat. Namun, semua gugatan tersebut mampu dimenangkan PERADI. Kemenangan yang sama juga diraih PERADI ketika digugat di peradilan umum maupun PTUN.
 
Selain terpaan masalah, selama 10 tahun, Otto mengatakan PERADI juga terus menjaga independensi organisasi agar tidak mendapat intervensi dari pemerintah. Sebagai cotoh, Otto bercerita ketika dirinya dan jajaran pengurus DPN bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhyono, presiden sempat berniat memberikan fasilitas untuk PERADI. Namun, PERADI tegas menolak.
 
“Saya katakan ke Pak SBY saat itu, kalau PERADI wadah tunggal, itu cukup bagi kami untuk berjuang. Independensi mutlak kita perjuangan,” ujarnya.
 
Otto berpendapat independensi menjadi modal utama bagi profesi advokat. Pasalnya ketika advokat tak lagi independen dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, maka pencari keadilan akan menjadi korban.

 

“Saya ingin buktikan bersama-sama, bahwa advokat PERADI itu independen. Kita tidak pernah berafiliasi dengan mana pun, sehingga tidak bisa intervensi,” ujarnya.


























Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua