Kamis, 07 Mei 2015

Evy Harjono: Istri Mantan Menkumham Berjuang Berdayakan Potensi Narapidana

Dengan cara mendorong warga binaan menghasilkan kerajinan yang bernilai tinggi.
RIA
Evy Harjono (Kedua dari Kiri) berdampingan dengan suaminya, mantan Menkumham Amir Syamsuddin (Paling Kiri) saat peluncuran buku "Voicing the Voiceless" di Jakarta, Rabu (6/5). Foto: RES.

Turut mendampingi sang suami tercinta mengabdikan diri kepada negara nampaknya membuat istri Menteri Hukum dan HAM Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II Amir Syamsudin tergugah untuk melakukan sesuatu bagi narapidana yang notabenenya adalah pelaku tindak pidana yang telah diputus bersalah oleh hakim.

Bayangan suram, menakutkan, tak tersentuh, dan hal lain yang jauh dari kata baik yang melekat pada diri warga binaan yang mendekam di lembaga pemasyarakatan (lapas) hilang seketika saat perempuan ayu bernama Evy Harjono ini turut bersama suami mengunjungi lapas-lapas di Indonesia dan melihat petugas lapas yang membina para warganya untuk menggali potensi diri masing-masing.

“Saya melihat keberadaan narapidana di lapas masih sangat jauh dari apa yang kita sebut memadai. Namun, ketika saya menyaksikan bagaimana para petugas lapas berupaya memberdayakan potensi dan kreativitas warga binaan, saya pun menjadi tertarik dan merasa tertantang untuk terlibat,” sampai Evy.

Sebagai seseorang yang memiliki latar belakang sebagai pengusaha, Evy melihat potensi besar yang sangat mungkin dicapai oleh para warga binaan. Hingga tahun 2014 kemarin, sebut Evy, jumlah penghuni lapas mencapai 160.000 orang. “Jumlah itu bagi saya yang latar belakangnya pengusaha memiliki potensi yang sangat besar, dan saya berpikir kenapa ini tidak kita berdayakan,” ucapnya

Evy optimis bahwa lapas memiliki potensi ekonomi yang besar, yang bukan hanya dapat memperbaiki kualitas kehidupan warga binaan saja, melainkan juga untuk memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

“Cukup banyak hasil karya warga binaan yang dapat dikategorikan unggul secara kualitas dan juga memiliki nilai ekonomis, meskipun karya tersebut diproduksi saat mereka tengah menjalani masa hukuman dengan segala keterbatasannya,” imbuh Evy.

Evy mengatakan walaupun mereka berstatus narapidana, mereka tetap tidak akan mau menyandang gelar tersebut selamanya dengan berbagai stigma negatif. Ia menambahkan setiap narapidana pasti memiliki keinginan untuk kembali menjadi manusia yang produktif dan dapat diterima kembali di lingkungannya sebagai seorang manusia yang bermartabat.

Rangkaian cara dilakukan oleh Evy untuk menjalankan niatnya. Evy yang ketika menjadi istri menteri juga menyandang jabatan penasihat pada Dharma Wanita di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM (kemenkumham) mengajak ibu-ibu lainnya untuk turut serta mengembangkan potensi tersebut.

Sejak tahun 2012 hingga 2014 kemarin, secara bersama-sama, mereka telah berhasil menyelenggarakan Napi Craft. Acara Napi Craft ini merupakan pameran industri kreatif yang mengumpulkan dan memasarkan hasil terbaik karya narapidana dari lapas seluruh Indonesia.

“Ini kesempatan warga binaan untuk memamerkan keahlian mereka pada masyarakat. Selain mendapatkan penghasilan tambahan dari karya yang terjual, Napi Craft juga bertujuan menghapus stigma negatif tentang narapidana,” kata Evy.

Berhasil dengan acara Napi Craft, Evy juga berupaya mengubah pandangan masyarakat tentang penjara dengan melihat nilai-nilai kemanusiaan di balik jeruji besi melalui sebuah buku berjudul Voicing The Voiceless. Buku ini diterbitkan dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

“Ini adalah bagaimana cara saya mensosialisasikan kepada masyarakat di dalam dan luar negeri mengerti apa yang kita lakukan selama ini. Selama ini kan hanya berita-berita yang mungkin lebih negatif. Nah, why not kita berangkat dari hal-hal positif?” tandasnya.

Buku yang digarap Evy selama 8 (delapan) bulan ini mengisahkan pengalamannya mendampingi Amir selama menjadi Menkumham periode 2011-2014. “Dalam berbagai kesempatan mengunjungi kunjungan bapak Amir Syamsudin ke lembaga pemasyarakatan terbersit rasa ingin tahu dan kekhawatiran saya akan keberadaan narapidana,” tukas Evy sebagai awal mula kisah ini.

Hingga akhirnya buku ini diluncurkan, Rabu (6/5), di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Evy menyampaikan harapannya agar tercipta kemandirian pada saat warga binaan ini selesai menjalani masa hukuman dan kembali ke masyarakat.

Berangkat dari tujuan yang sama pula, Evy mendirikan yayasan yang diberi nama ‘Second Chance Foundation’. Yayasan non profit yang ke depannya akan menjadi mitra Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham ini nantinya akan melakukan pengumpulan dana untuk kebutuhan pembinaan.

“Kita akan fund raising (mengumpulkan dana,-red) untuk membantu pelatihan warga binaan di lapas dan bekerja sama dengan yayasan-yayasan lain yang mau menjadi mitra. Dan kita juga mencarikan CSR perusahaan-perusahaan yang ingin mendukung membantu kegiatan pelatihan ini,” tutur Evy.

Plt Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Ma’mun mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Evy yang sudah banyak berbuat, bahkan sebelum menerbitkan buku. Ia menilai Evy bersama dengan ibu-ibu dharma wanita lainnya telah berhasil menyelenggarakan NAPI Craft pada 2012, 2013, dan 2014.

Dalam sambutannya, Ma’mun menyampaikan bahwa manusia itu sekali pun adalah warga binaan memiliki potensi dan bisa berubah. “Itu lah yang dilihat Ibu Evy Amir Syamsuddin ini,” ungkapnya.

“Jadi memang keberhasilan pembinaan warga itu perlu tiga pilar yang bekerja sama. Pertama, petugas, ya kami-kami ini dari pemerintahan. Kedua, warga binaan. Dan terakhir, masyarakat seperti Ibu Evy ini. Saya lihat ini amal yang besar ya (yang diperbuat Evy,-red), menolong sesama, mengentaskan sesama,” pungkas Ma’mun.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua