Berita

AACC Jalin Kesepahaman dengan CCJA

Moegeng memuji keberagaman di Indonesia yang tidak dimiliki masyarakat kawasan Afrika yang masih mempertentangkan persoalan ras, etnis, dan bahasa.
Oleh:
Aida Mardatillah
Bacaan 2 Menit
Presiden AACC Arief Hidayat dan Presiden CCJA Moegeng saat menandatangani MoU di Hotel Alila, Solo (9/8). Foto: AID
Presiden AACC Arief Hidayat dan Presiden CCJA Moegeng saat menandatangani MoU di Hotel Alila, Solo (9/8). Foto: AID
Memorandum of Understanding (MoU) antara Association of Asian Constitutional Court and Equivalent Institutions (AACC) dan Constitutional Court of Afrika (CCJA) resmi ditandatangani oleh Presiden AACC Arief Hidayat dan Presiden CCJA Moegeng. Penandatangan MoU ini dilakukan  sebelum berlangsungnya simposium internasional sesi pertama  bertajuk “Constitutional Court and State Ideology, Constitusional Court and Principles of Democracy, dan Constitutional Court’s Role in Plural Society.”  
 
Presiden CCJA Mogoeng mengatakan MoU ini dilakukan lantaran kawasan Asia dan Afrika mempunyai masalah dan tantangan yang sama terkait konstitusi. “Kita masih butuh banyak pengalaman untuk menyelesaikan permasalahan. Afrika dan konsitusinya datang dalam acara ini dengan berbagai pengalaman dan masalah yang sama dengan MK se-Asia,” kata Moegeng di Hotel Alila, Solo, Rabu (9/8/2017). 
 
Menurutnya, perjanjian antara MK se-Asia dan Afrika sama-sama mendapatkan keuntungan. Tentunya, banyak hal yang dapat di-sharing untuk menyelesaikan permasalahan yang ada terkait sistem dan mekanisme fungsi MK masing-masing kawasan. “Kita juga mempunyai banyak akses tersedia untuk menyelesaikan MK Asia dan Afrika,” tuturnya. (Baca Juga: Buka Simposium Internasional AACC, Presiden Jokowi Tekankan Pentingnya Berkonstitusi)
 
Dia juga antusias bekerjanya Sekretariat Permanen AACC di Korea, Indonesia, dan Turki akan memudahkan kerja sama erat antara AACC dan CCJA. “Dengan cara melakukan apa yang seharusnya diselesaikan demi menguatkan demokrasi yang lebih baik di masing-masing kawasan,” katanya.
 
Ditanya soal keberagaman di Indonesia, Moegeng memuji keberagaman di Indonesia yang tidak dimiliki masyarakat kawasan Afrika. Meski memiliki beragam suku, bahasa, dan agama, masyarakatnya rukun, tidak berkonflik setiap harinya.
 
Sementara di Afrika, kata Mogoeng, masalah ras antara kulih putih dan kulit hitam masih menjadi persoalan. Karena itu, keberagaman Indonesia bisa menjadi rujukan bagi masyarakat Afrika mengenai persoalan ras, etnis termasuk bahasa yang lebih dominan dibanding dengan yang lain. Sebab, Arfika masih ‘muda’ dalam mengelola negara demokrasi dibandingkan Indonesia,” katanya
 
“Yang melatarbelakangi juga karena ada persamaan antara Afrika dan Indonesia adalah sama-sama mempunyai kekayaan kebudayaan dan keanekaragaman.”
 
Sebelumnya, secara resmi Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka Simposium Internasional Asosiasi Mahkamah Konstitusi se-Asia dan Institusi Sejenis (the Association of Asian Constitutional Courts and Equivalent Institutions/AACC). Pembukaan simposiun ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Presiden yang didampingi Ketua MK Arief Hidayat dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.   
Berita Terkait