Sabtu, 16 December 2017
Mengenang Guru Besar, FH UI Resmikan Ruang Bhenyamin Hoessein
Prof. Bhen dikenang sebagai sosok teladan, akademisi tulen yang mengabdi hingga akhir hayat.
Norman Edwin Elnizar
Mengenang Guru Besar, FH UI Resmikan Ruang Bhenyamin Hoessein
Peresmian ruangan Prof. Bhenyamin Hoessein di FH UI. Foto: NEE

Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) meresmikan satu lagi ruangan baru di FH UI yang diberi nama sesuai nama seorang Guru Besar. Kali ini nama  Bhenyamin Hoessein, seorang Guru Besar Hukum Administrasi Negara, yang diabadikan. Sosoknya dikenang sebagai seorang perfeksionis, disiplin, sistematis, namun rendah hati namun humoris.

 

Tradisi yang lazim di berbagai kampus kelas dunia untuk mengenang Guru Besar ini tidak lepas dari dukungan para alumni. Kali ini Alumni FH UI Angkatan 1990 yang menjadi penyumbang pembangunan ruangan. Jumat (15/12) menjadi momen peresmian ruangan di FH UI yang baru selesai direnovasi dan diberi nama Ruang Prof. Bhenyamin Hoessein.

 

Guru Besar yang menggeluti ilmu bidang pemerintahan daerah ini tutup usia pada Februari 2016 lalu di usia 76 tahun. Namun kenangan dan karya-karya Prof Bhen—begitu ia biasa disapa para muridnya—selalu hidup dalam lintasan sejarah dunia hukum dan ketatanegaraan Republik Indonesia. Salah satu karya pentingnya ialah ikut menyusun berbagai payung hukum pemerintahan daerah mulai dari UU No.5 Tahun 1974, UU No.22 Tahun 1999, hingga UU No.32 Tahun 2004.  

 

Prof.Bhen yang terlahir dari keluarga keturunan Arab bermarga Bawazier dilahirkan dan tumbuh di Tegal sebelum pindah ke Jakarta sejak SMA. Mengawali karir sebagai pegawai negeri di Lembaga Pertahanan Nasional, Bhen memilih melanjutkan karir sebagai akademisi sejak 1971 selepas meraih gelar sarjana hukum di FH UI. “Kita bersyukur pernah diajar Prof.Bhen, banyak sekali ilmu yang kita dapatkan dari Prof.Bhen,” ujar Dekan menjabat FH UI, Topo Santoso dalam sambutan pembuka dari pimpinan FH UI.

 

(Baca juga: Selamat Jalan Profesor Bhen).

 

Di angkatan 1990 FH UI sendiri ada anak bungsu Prof.Bhen yang pernah mengalami diajar sosoknya sebagai dosen. Fahmy Hoessein menceritakan kepada hukumonline bahwa meskipun diajar ayahnya sendiri, ia tetap diperlakukan seperti mahasiswa lainnya. Fahmy menggambarkan ayahnya sebagai sosok yang gemar membaca dan menulis. “Kalau kita lagi duduk, dia mungkin bisa dua halaman nulis sambil bicara. Dari dalam hatinya memang seorang akademisi,” katanya. Fahmy juga mengaku bahwa sosok ayahnya yang mencintai ilmu menjadi dorongan baginya menuntaskan pendidikan hingga selesai doktoral di FH UI.

 

(Baca juga: Transaksi Berkembang, Perlindungan Investor Perlu Diperkuat).

 

Salah satu karya Bhen tentang pemerintahan daerah yang merekam perjalanan pemikiran, pandangan dan ilmu yang dia ajarkan adalah Perubahan Model, Pola, dan Bentuk Pemerintahan Daerah: dari Era Orde Baru ke Era Reformasi. Buku ini merekam dinamika kebijakan pemerintahan daerah sejak 1974 hingga 2004. Selama rentang waktu itu pula Bhen terlibat langsung dalam penyusunan payung hukum pemerintahan daerah, UU No. 5 Tahun 1974, UU No. 22 Tahun 1999, dan UU No. 32 Tahun 2004. Ia juga berkali-kali diundang sebagai narasumber dalam pembahasan RUU lain.

 

Istri Bhen, Seha, turut hadir dalam peresmian ruangan yang mengabadikan nama suaminya ini. Kepada hukumonline ia menceritakan secuplik kesan mendampingi sosok Prof.Bhen selama 47 tahun. Menurut wanita lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) jurusan pendidikan administrasi ini, suaminya orang yang mencintai ilmu.

 

Ada cuplikan perkataan sang suami yang masih diingatnya,” (dia bilang) Kalau saya jadi hakim saya takut menjadi hakim yang tidak adil, kalau saya menjadi jaksa saya khawatir orang yang nggak salah saya tuntut, kalau saya jadi pengacara saya takut membela orang yang salah, jadi lebih baik saya mengabdikan ilmu saya sebagai dosen,” ucapnya sembari tersenyum mengenang suaminya.

 

Prof.Bhen juga bukan seorang yang senang bepergian. “Kecuali tugas, dia lebih senang di rumah, motonya dia bayti jannati (rumahku surgaku). Selalu buku di tangannya,” ucapnya sembari tertawa.

 

Seha juga menggambarkan sosok suaminya yang fokus mengabdi tanpa mau tahu soal penghasilan rekan-rekannya di kampus. Ketika mereka tinggal di komplek dosen UI di Ciputat, Seha bermaksud membantu menyumbang penghasilan satpam komplek. Sebagai pembanding, ia bertanya pada suaminya yang tengah menjabat Ketua Program Pascasarjana di FISIP UI soal besar gaji satpam di kampus UI.

 

“Dia bilang, ‘mana saya ngurusin pendapatan orang, saya nggak tahu’. Dia nggak tahu berapa honor Dekan dan lain-lain, nggak pernah tanya,” katanya diiringi gelak tawa mengenang jawaban suaminya.

 

Menurutnya, Bhen terus aktif mengajar hingga akhir hayatnya. Dalam keadaan sudah dilarang dokter beraktifitas karena penurunan kesehatan, suaminya tetap memilih datang ke kampus menjelaskan soal ujian kepada mahasiswa. “Dia waktu itu berkeras datang ke kampus memberikan ujian, padahal soal bisa dititipkan. Sudah sakit pun masih ada yang datang konsultasi bimbingan, dia senang kalau muridnya berhasil,” paparnya.

 

Satu hal yang ditegaskan tentang suaminya adalah Prof.Bhen bukanlah seorang pengejar materi, popularitas, dan jabatan. “Paling tidak pernah mencari jabatan. Dia selalu ditawarkan, kalau cocok mungkin diterima, jika tidak, dia tidak mau. Dan tidak pernah tanya berapa honornya, kalau ilmunya bisa dimanfaatkan disana, dia terima,” katanya lagi.

 

Sikap ini juga diterapkan Prof.Bhen jika ditawari menjadi pembicara. Ia menyaksikan bagaimana Bhen berkali-kali menolak tawaran menjadi narasumber jika dirasa tidak cocok dengan keilmuannya.

 

Seha berkesan dengan suaminya sebagai sosok penyabar. “Tidak pernah marah, 47 tahun menikah dengan dia tidak pernah ribut. Biasanya dia yang tanya, ‘apa saya salah? kalau iya tolong maafkan’,” ungkapnya.

 

Jiwa humoris suaminya diungkapkan Seha ketika Fahmy memilih mengambil Magister Manajemen. Kedua anak mereka dibebaskan memilih jenjang pendidikannya. Suatu saat Bhen menanyakan mengapa Fahmy tidak mendalami perpajakan dengan membuat plesetan gelar M.M.(Magister Manajemen) anak bungsunya. “Kenapa nggak ambil Pajak? Yah, kamu pilih Mesem-Mesem yah (M.M.),” katanya.

 

Beragam kesan di kalangan mahasiswa Prof.Bhen mulai dari yang segan hingga mengidolakan beliau. Tri Hayati, dosen hukum administrasi negara FH UI salah satu yang mengidolakan Bhen sejak pertama dibimbing sebagai mahasiswa FH UI tahun 1987. “Beliau adalah idola saya dari S1, orangnya cerdas, ngajar sistematis, tegas, menguasai keilmuannya. Sampai S3 saya digembleng beliau,” kata Tri yang juga dikenal sebagai salah satu perancang UU Aparatur Sipil Negara.

 

Sebagai dosen, Tri banyak mengaku banyak meneladani sosok Prof.Bhen dalam gaya mengajar. Menurut Tri yang dibimbing Bhen sejak sarjana hingga doktoralnya di FH UI, sosok sang profesor punya standar tinggi bagi mahasiswa bimbingannya. Meskipun begitu, sosok almarhum juga dikenal humoris. “Gaya mangajarnya nggak bikin ngantuk, di sela-sela mengajar ada joke, tapi di satu sisi beliau juga tegas, ada batasan, kita enjoy,” kenangnya saat diwawancarai hukumonline.

 

Ketua alumni angkatan 1990 FH UI, Farid, salah satu yang mengenang Bhen sebagai sosok tegas. “Beliau ini tegas banget, kita kuliah nggak bisa berisik,” katanya yang kini berkarir sebagai konsultan bidang teknik.

 

Mutiara Hikmah, alumni angkatan 1990 yang kini menjadi dosen hukum internasional FH UI mengenang Bhen sebagai seorang rendah hati. “Yang bisa saya ambil dari beliau sifat menghargai mahasiswa dan sifat rendah hati, walaupun ilmunya sudah banyak tapi seperti padi, tetap merunduk,” ungkapnya.

 

Harsanto Nursadi, dosen yang lama berguru pada Prof.Bhen sejak 1988 ini mengenang sang guru sebagai sorang perfeksionis. “Beliau dididik dengan sangat ketat di masanya oleh Profesor-Profesor dulu, diterapkan juga kepada kami,” kenang Harsanto.

 

Harsanto mengaku mulai dekat dengan sosok Bhen sejak menjadi asisten pengajar di bidang hukum administrasi negara. “Secara emosional saya anak didik yang selalu mengikuti beliau. Beliau memberikan masukan kepada saya saat doktoral lebih banyak dari Promotor dan Ko-Promotor sendiri,” lanjutnya.

 

Harsanto menikmati gaya ajar Bhen yang sangat terstruktur sebagai hal berkesan. “Pola itu saya copy habis secara optimal,” katanya yang dikenal sebagai salah satu ahli hukum administrasi negara dan hukum lingkungan dari FH UI.

 

Semoga diabadikannya nama Prof. Bhenyamin Hoessein dalam sebuah ruang kelas perkuliahan akan menjadi semangat bagi para mahasiswa FH UI meneladani beliau.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.