Kamis, 04 Januari 2018
Kolom
Tchaikovsky itu Bernama Supriyadi, Sang Komponis di Kalangan Aktivis Oleh: Julius Ibrani*)
​​​​​​​Jiwa komponis Supi, tergambarkan dengan jelas ketika ia memoderasi puluhan jaringan LSM dengan latar belakang fokus isu hukum dan HAM yang berbeda satu sama lain, termasuk pola dan metode advokasinya.
RED
Tchaikovsky itu Bernama Supriyadi, Sang Komponis di Kalangan Aktivis Oleh: Julius Ibrani*)
Julius Ibrani. Foto: Dokumen Pribadi.

Kenangan Terakhir: Diskusi & Advokasi

Sore hari di akhir tahun 2017, menjadi kenangan terakhir bagi Saya dengan Supriyadi Widodo Eddyono. Seorang sahabat yang dikenal dengan panggilan Supi itu, baru saja menuntaskan diskusi publik tentang kebijakan pemidanaan narkotika di salah satu kafe di Cikini.

 

Saya hadir mewakili PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia) dalam kegiatan tersebut dengan gerakan tangan, dan penyebutan “bro” kepada sejawatnya, serta tawa “cengengesan”-nya yang khas, Supi begitu fokus dan bergelora memaparkan gagasannya tentang reformasi sistem penahanan di Indonesia, bak seorang Usman Hamid yang ber-orasi tentang perlawanan di hadapan korban pelanggaran HAM.

 

Saya, yang sedang menggenggam secangkir kopi, memberikan perhatian penuh ke Supi, sambil menambahkan beberapa sendok gula ke dalam cangkir kopi tadi. Tetiba, cengkraman tangan Supi dengan tangkas mendarat di lengan Saya yang sedang memegang sendok gula, katanya, ”udah cukup, jangan kebanyakan bro Ijul.. Elu udah kegemukan mendadak kalau gw liat-liat.. bahaya nanti itu.. (sambil tertawa cengengesan)”.

 

Karakter Yang Kuat

Potongan cerita di atas terdengar amat sangat sederhana, dan Saya yakin -tanpa perlu bersumpah menjual nama “Monas”- hanya Saya di antara beberapa pegiat/aktivis yang duduk bersama di meja diskusi itu. Bukan bermaksud untuk ber-romantisisme terhadap diri Saya sendiri, namun  bagi Saya, dan orang-orang yang mengenal Supi secara pribadi (bukan hanya secara profesi), tentu memahami bahwa itulah wajah dan watak asli Supi, yang memiliki karakter yang kuat.

 

Pertama, multitasking. Sebenarnya Supi sedang ber-multitasking: menjelaskan gagasan sistem penahanan dan di saat yang bersamaan memperhatikan gerak-gerik Saya. Kedua, observasi yang kontinu. Supi, memperhatikan penambahan berat badan Saya yang tidak gradual dalam kurun waktu tertentu. Dengan sangat menyesal harus Saya akui, sekitar 9 Kg dalam setahun dan “tersendat” di bagian perut, sudah menjadi notoire feiten di hadapan organ tubuh Saya yang lain.

 

Terakhir, ketiga, memperhatikan detail. Supi tahu bahwa yang sedang saya tuangkan ke dalam cangkir kopi adalah gula. Perhatian pada hal-hal detail ini juga yang Saya alami dengan rekan-rekan dalam advokasi bersama Supi di isu pembatasan remisi dan pembebasan bersyarat, lewat permohonan pihak terkait di Mahkamah Konstitusi. Saya dan Emerson Yuntho -pegiat antikorupsi dari ICW- sempat ditegur keras pada advokasi tersebut.

 

Penuh semangat, enerjik, persisten, fokus sekaligus mampu memilah dan mengomposisikan setiap detail secara bersamaan. “Dipertunjukkan” Supi di saat ia memaparkan pemikirannya yang tajam, kritis dan taktis. Supi mampu memoderasi beberapa aktivitas berbeda, sekaligus dalam satu saat yang sama. Mengingatkan Saya pada sosok seorang Komponis.

 

Supriyadi Widodo Eddyono. Sumber: ICJR

 

Komponis di Kalangan Aktivis

Seorang komponis, mampu menciptakan sebuah mahakarya musik, bukan hanya membuat lagu, tapi juga mengaransemen, menulis komposisi musik instrumental maupun vokal dalam berbagai format solo, duo, trio, quartet, kelompok paduan suara bahkan juga orkestra, secara kompleks, terstruktur dan komprehensif, namun dapat dimainkan oleh orang lain.

 

Supi telah memainkan perannya sebagai seorang Komponis di kalangan aktivis LSM, pegiat reformasi hukum dan HAM. Paling tidak itu yang Saya lihat ketika terlibat dalam advokasi kebijakan Revisi KUHP bersama Aliansi Nasional R-KUHP. Kebijakan tentang pidana yang revisinya “mangkrak” selama lebih dari 30 tahun, melebihi mangkrak-nya proyek pembangunan pemerintah yang dikorupsi.

 

Jiwa komponis Supi, tergambarkan dengan jelas ketika ia memoderasi puluhan jaringan LSM dengan latar belakang fokus isu hukum dan HAM yang berbeda satu sama lain, termasuk pola dan metode advokasinya, bahkan, celakanya, Supi juga dihadapkan pada situasi kronis berupa minimnya pemahaman mengenai interdependensi isu HAM.

 

Demikian adanya, mengingat rezim Rancangan KUHP saat ini, bersifat “serakah” karena memasukkan seluruh ketentuan pidana dari berbagai sektor isu. Misalnya isu kesetaraan jender, kekerasan seksual serta perlindungan perempuan dan anak, yang jarang digeluti oleh LSM berpenampilan “maskulin”.

 

Atau sebut saja, isu penyadapan dan hukuman mati bagi koruptor oleh LSM antikorupsi yang kurang sejalan dengan LSM berbasis HAM murni. Dan terakhir, yang begitu membahana dan penuh pertentangan –bahkan di kalangan aktivis sendiri-, adalah advokasi isu LGBT dan Qanun Jinayat di Aceh.

 

Supi -dan tentunya dengan ICJR, lembaga di mana ia berkarya-, mampu menguliti isu-isu spesifik dalam kajian-kajian yang apik berbasis data dan analisis “tingkat dewa”, lalu mengorkestrasikan strategi dan taktik advokasi secara beriringan dan mendapatkan dukungan solid dan holistik dari jaringan LSM tanpa terpecah belah.

 

Isu aborsi, anti-kontrasepsi, telah sejajar jika disandingkan dengan isu populer seperti makar, terorisme, korupsi dan pencucian uang. Kesemuanya digarap Supi dan ICJR dalam bentuk penelitian ilmiah serta litigasi di pengadilan dan Mahkamah Konstitusi, dengan ritme yang harmonis dan merdu.

 

Bisa dibilang, progresivitas advokasi revisi KUHP sangat terasa dalam 2 tahun belakangan di tangan sang komponis, Supi. Meski Supi tidak berdiri di atas podium tinggi, di bawah lampu sorot yang terang, sementara di sekitarnya gelap. Justru sebaliknya, Supi yang memegang lampu sorot itu dan mengarahkan pada jaringan LSM yang ia dorong untuk tampil ke podium terdepan.

 

Supriyadi, Seorang Tchaikovsky

Seperti Pyotr Ilyich Tchaikovsky, begitulah sosok Supriyadi. Seorang Komponis asal Rusia yang begitu populer di seantero jagad raya. Tchaikovsky telah menghasilkan banyak mahakarya lintas genre, musik dengan latar belakang dan karakteristik yang berbeda, termasuk lagu, simfoni, opera, balet, instrumental, dan lainnya. Dan mewakafkan dirinya lewat karya-karya musik abadi, seperti Romeo and Juliet, atau The Sleeping Beauty.

 

Selamat jalan Supi, sang Komponis..

 

*)Julius Ibrani adalah Koordinator Program Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia/PBHI.

 

Catatan Redaksi:

Artikel Kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Hukumonline

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.