Selasa, 20 March 2018

Anarkis

 

Apa yang diidentifikasi Mochtar 40 tahun yang lalu kiranya masih relevan sampai hari ini. Misalnya gerakan penyebaran berita hoax dan informasi yang palsu, menyesatkan dan kebencian, sudah ada sejak dahulu dalam masyarakat kita. Mungkin tidak sedahsyat sekarang, karena dulu kita tidak punya akses ke sistem informasi yang massal seperti sekarang.

 

Banyak konflik politik, sosial, agama, etnis dan lain-lain terjadi karena berita hoax dan ujaran kebencian. Mochtar sudah memetakannya empat dasawarsa yang lalu, tetapi saya yakin bahwa kalau ditarik lebih ke belakang, sejarah menunjukkan bahwa sifat-sifat itu sudah hadir dalam kehidupan manusia Indonesia sejak dulu sekali. Hampir semua sifat yang diidentifikasi oleh Mochtar menggambarkan sifat-sifat negatif. Sifat positif nyaris tidak terpetakan.

 

Apakah ini didorong oleh pengalaman pribadinya yang diperlakukan buruk oleh Orde Lama dan Orde Baru? Saya juga tidak tahu. Apapun latar belakangnya, kita masih dibuat sadar oleh hasil identifikasi itu dalam mencoba mengerti dan menghadapi semua persoalan kita dimasa kini.

 

Kalau mau jujur, sifat-sifat manusia Indonesia yang dipetakan oleh Mochtar tersebut juga hadir sebagai sifat-sifat manusia pada umumnya di manapun dia berada, terlepas dari kebangsaan, latar belakang etnis, agama, sosial dan budayanya. Di mana-mana ada sifat-sifat yang menimbulkan kondisi anarkis, chaotic, dan pembangkangan terhadap hukum. Yang menjadi perhatian saya sebagai seorang jurist, tentunya adalah sifat anarkis yang sangat menonjol dalam kehidupan manusia Indonesia.

 

Para ahli, pembuat undang-undang, dan penegak hukum serta masyarakat sipil sudah mencoba menggali semua kemungkinan untuk meningkatkan ketaatan pada hukum dari warga negara. Sepertinya semua upaya sudah dicoba dilakukan. Dari hukuman yang berat, mencari solusi dengan melihat akar sosial dan budaya manusia Indonesia, sampai dengan mencoba melakukan revolusi mental sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Jokowi sejak dia berkampanye dan kemudian terpilih.

 

Ada kesadaran baru bahwa ini bukan melulu karena hukumnya, bukan semata karena penegak hukumnya, dan tentu kita tidak bisa menyalahkan akar sosial dan budaya kita sendiri yang kita agung-agungkan, bahwa kita adalah manusia berbudaya tinggi, ramah dan punya kadar toleransi yang tinggi.

 

Ini adalah masalah sederhana. Ini masalah insentif. Sifat dasar manusia di manapun di dunia pada dasarnya sama. Mereka tidak mau merugi. Apapun yang dilakukan selalu dicari imbalannya, manfaatnya, dan keuntungannya buat mereka. Selfish? Iya, tetapi jujur saja itu kodrat kita sebagai manusia.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua