Minggu, 18 November 2018

Isu-Isu Advokat Ini Muncul dalam Munaslub AAI

Peradi yang telah terpecah menjadi tiga unsur dipandang bukan lagi menjadi representasi wadah tunggal organisasi advokat sebagaimana amanah UU Advokat.
Moh. Dani Pratama Huzaini
Munaslub AAI di Jakarta. Foto: RES

Banyak organisasi profesi advokat yang lahir setelah terbitnya Surat Keputusan Mahakamah Agung Nomor 73/KMA/HK.01/IX/2015 (SKMA 73/2015). SKMA 73/2015 ini terbit menyusul perpecahan yang terjadi di tubuh Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), wadah tunggal organisasi advokat yang dibentuk berdasarkan amanah UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Perpecahan ini menimbulkan dampak negatif terhadap profesi advokat secara keseluruhan.

Dampak negatif ini berkembang seiring maraknya upaya organisasi advokat baru, memiliki kecenderungan untuk berlomba merekrut calon anggota sebanyak-banyaknya. Hal ini sedikit banyak berdampak langsung terhadap menurunnya kualitas dan profesionalitas dari para advokat itu sendiri. Termasuk proses pendidikan profesi advokat yang dijalankan tidak sesuai dengan standar dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Situasi ini yang menjadi alasan bagi Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) melaksanakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub), Jumat-Minggu  (16-18/11) di Jakarta. Setelah sebelumnya melakukan dua kali rapat kerja nasional di Palembang dan Bandung, AAI sepakat pada tahun ketiga kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yang diketuai oleh Muhammad Ismak ini, melaksanakan Munaslub guna membahas agenda-agenda strategis AAI menyikapi perpecahan wadah tunggal organisasi advokat.

(Baca juga: Asosiasi Advokat Indonesia Resmi Gelar Munaslub).

Dalam sambutannya pada pembukaan Munaslub, Ismak mengajukan pertanyaan mendasar yang akan menjadi arah dari jalannya Munaslub AAI tersebut. “Apakah AAI akan hanya membeo atau memutuskan arah sendiri?” ucap Ismak disambut tepuk tangan peserta Munaslub yang berasal dari 31 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) yang hadir, Jumat (16/11).

Ismak mengatakan prihatin saat ini karena ada upaya dari advokat yang hendak memberikan sumbangsih fikiran besar untuk profesi advokat secara umum, respons yang muncul dari sesama advokat. “Sudahlah tidak usah banyak bicara, urus saja organisasimu sendiri,” ujar Ismak menirukan, seraya mengajak seluruh anggota AAI untuk merespons situasi ini secara konstruktif.

Secara garis besar, Munaslub AAI kali ini akan membahas perubahan sejumlah poin dalam Anggaran Dasar (AD) AAI dan menentukan arah AAI secara organisasi menyikapi persoalan-persolan dunia profesi advokat. Ada tiga komisi yang membahas tiga hal berbeda dalam rangkaian Munaslub. Komisi I tentang nama, jangka waktu, tujuan dan kegiatan organisasi, serta kuorum dan keputusan. Komisi ini akan membahas bentuk dari revitalisasi organisasi AAI dalam rangka mewujudkan organisasii AAI sebagi organisasi yang mandiri dan profesional.

Sejumlah perubahan yang akan dibahas dalam komisi ini antara lain, rencana mengembalikan nama AAI yang sekarang AAI Officium Nobile kembali menjadi AAI. Selain itu juga terdapat penambahan terkait Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) dan peran organisasi dalam memfasilitasi penyumpahan calon anggota di Pengadilan Tinggi.

Komisi II membahas kedudukan wadah tunggal dan rangkap jabatan pada organisasi advokat lainn. Komisi ini akan membahas posisi AAI di antara organisasi advokat yang ada saat ini. Ada rencana di Komisi ini untuk menghilangkan pasal 10 Anggaran Dasar AAI tentang kedudukan dan hubungan AAI dengan Peradi atau organisasi Advokat lainnya. Gagasan yang muncul, pasal ini  akan dihilangkan karena dianggap tidak lagi relevan dengan situasi terkini.

Peradi yang telah terpecah menjadi tiga unsur dipandang bukan lagi menjadi representasi wadah tunggal organisasi advokat sebagaimana amanah UU Advokat. Untuk itu, dalam situasi ini, AAI memandang kedudukan Peradi menjadi setara dengan organisasi advokat lain, baik yang berdiri sebelum terbentuknya Peradi atau lahir setelah terbitnya SKMA No. 73 Tahun 2015.

Komisi ini juga akan membahas mengenai larangan rangkap jabatan pengurus AAI. Terdapat penambahan pasal yang melarang rangkap jabatan antara sesama organisasi profesi advokat. Posisi yang dilarang untuk rangkap adalah Ketua Umum/Ketua DPC hingga Ketua Bidang. Pasal ini rencannaya akan mulai berlaku sejak 2020.

Komisi III membahas keanggotaan, DPD, Kode Etik Profesi, Dewan Kehormatan, Dewan Penasehat, dan Komisi Pengawas. Komisi ini akan menyesuaikan peran struktur organisasi yang akan menunjang efektivitas roda oragnisai yang mandiri dan profesional. Ada beberapa hal dibahas Komisi III seperti pengaturan mengenai definisi anggota muda, perubahan nomenklatur Dewan Pimpinan Daerah menjadi Koordinator Wilayah; komposisi Dewan Penasihat, Dewan Kehormatan, Kode Etik Profesi Advokat, dan tentang Komisi Pengawas.

Terkait wadah tunggal organisasi profesi, anggota Dewan Pendiri AAI Rudhy Abraham Lontoh mengatakan, selain agenda perubahan Anggaran Dasar, Munaslub membicarakan  wadah tunggal. AAI masih berharap terjadi penyatuan kembali Peradi sebagaimana amanah UU Advokat. Jika tidak demikian, maka agenda terdekat yang mau tidak mau harus dijalankan adalah perubahan UU Advokat. “Jadi di tahun 2020 kalau Peradi tidak bisa satu saya pikir harus uubah UU menjadi multibar,” ujar Rudhy.

Untuk diketahui, AAI adalah salah satu dari 8 organisasi advokat pendiri Peradi. Pada 21 Desember 2004, bersama Ikatan Advokat Indoensia (IKADIN0, Serikat Pengacara Indoensia (SPI), Ikatan Penasehat Hukum Indoensia (IPHI), Himpunan Advokat dan Pengacara Indoensia (HAPI), Asosisasi Konsultan Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM), dan Asosiasi Pengacara Syariah Indoensia sepakat mendirikan Peradi.

Pendirian Peradi saat itu membawa harapan terciptanya suatu wadah tunggal profesi advokat yang bebas dan mandiri sesuai amanat UU Advokat. Melalui Peradi diharapkan adanya acuan dan standar para advokat Indoensia sehingga kualitas, profesionalitas, dan persaudaraan anatara advokat dapat terus terjaga dengan baik dalam rangka memenuhi kebutuhan para pencari keadilan sekaligus menunjukkan bahwa profesi advokat adalah profesi yang mulia (officium nobile), berwibawa, dan bermartabat.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.