Rabu, 20 Pebruari 2019

Bahasa Hukum: ‘Forensik Akustik’, Jalan Menuju Pembuktian Similaritas Suara dalam Tindak Pidana

Membuktikan kemiripan suara seseorang yang tersadap bukan perkara mudah. Perlu keahlian khusus. Ahli forensik akustik sudah sering digunakan.
Muhammad Yasin
Ilustrasi penyadapan dan perekaman suara. Ilustrator: HGW

Tiba-tiba saja nama Fumitada Itakura dan Shuzo Saito mencuat di sidang Pengadilan Tipikor Jakarta. Adakah nama kedua warga keturunan Jepang itu terseret pusaran korupsi? Tidak! Sama sekali tidak. Nama mereka justru muncul dari perbedaan pandangan dua ahli forensik yang dihadirkan ke persidangan di pengadilan Indonesia, ketika majelis hakim menangani perkara dugaan menghalang-halangi proses penyidikan.

 

Nama Fumitada Itakura (lahir 6 Agustus 1940) dan Shuzo Saito terhubung dengan metode pengukuran kesamaan suara antara suara yang asli (original spectrum) dengan suara yang mirip. Metode pengukuran kemiripan (similarity) suara yang mereka kembangkan menggunakan rumus-rumus matematika akhirnya dikenal sebagai Itakura-Saito Distance, atau Itakura-Saito Divergence. Metode ini diperkenalkan dan dikembangkan sejak 1960-an.

 

Itakura-Saito Distance merupakan salah satu metode yang dipakai dalam persidangan kasus-kasus pidana. Nama mereka berkaitan dengan proses pembuktian forensik suara yang dijadikan bukti oleh para pihak ke persidangan.

 

Forensik berkaitan dengan pembuktian atau alat bukti sah guna memberikan keyakinan kepada hakim untuk memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak melakukan kejahatan. Apakah forensik itu? ‘Forensik berhubungan dengan ketentuan hukum; berkenaan dengan pemberian alasan’. Begitulah definisi yang tertuang dalam Kamus Hukum dan Yurisprudensi karangan HM Fauzan dan Baharuddin Siagian (2017).

 

Dalam Black’s Law Dictionary, lema forensic dimaknai dalam tiga arti: lazim digunakan di pengadilan atau debat (used in or suitable to courts of law or public debate); retorikal, argumentative yang berkaitan dengan kemampuan forensic; dan eksterior, asing. Kalau disebut forensic engineering, kamus ini mengartikan sebagai the use of engineering principles or analysis in lawsuit, yakni melalui ‘expert witness’s testimony’.   

 

Dalam Buku Pintar Forensik karya HR Abdussalam dan Adri Desasfuryanto (2013), disebutkan bahwa penggunaan ilmu forensik itu berkembang dalam hukum pidana, dan spesialisasinya juga ikut berkembang. Kini dikenal medicine forensic (antara lain dipakai dalam kasus orang meninggal karena keracunan), forensik fisika (misalnya dipakai untuk meneliti jejak roda kendaraan yang dipakai untuk melakukan kejahatan), forensik kimia dan biologi (dipakai untuk memastikan kandungan kimia tertentu), forensik metalursi dan balistik, forensic foto, daktiloskopi (sidik jari), dan forensik rekaman suara. Yang terakhir ini berkaitan dengan spektografi suara. Ini berarti forensik suara sudah dikenal dalam pembuktian kasus-kasus pidana.

 

Ketika ingin membuktikan kejahatan komputer, katakanlah peristiwa penipuan online, penyidik harus berkutat dengan urusan yang sangat teknis, sehingga acapkali membutuhkan seorang ahli forensik komputer. Atau dalam kasus lain, penyidik sangat terbantu keterangan seorang ahli forensik yang berdasarkan keilmuannya dapat memastikan sidik jari yang tertinggal pada suatu alat adalah sidik jari orang yang dicurigai. Yang paling jelas adalah ketika terjadi kecelakaan pesawat, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) biasanya langsung mencari cockpit voice recorder (CVR).

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua