Tokoh Hukum Kemerdekaan

Mr. Teuku M Hasan, Pecinta Aljabar yang Meraih Meester in de Rechten dalam 1,5 Tahun

Gubernur Sumatera yang pertama ini pernah menjadi anggota BPUPKI. Memilih jurusan hukum demi Indonesia merdeka. Ikut dalam pertemuan membahas penghapusan kalimat dengan menjalankan kewajiban syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
Oleh:
Muhammad Yasin
Bacaan 7 Menit
Teuku M Hasan. Ilustrasi: BAS
Teuku M Hasan. Ilustrasi: BAS

Nama Teuku Hanafiah tak dapat dilepaskan dari perjalanan hidup di dunia hukum Teuku Moehammad Hasan. Dua tahun duduk di bangku sekolah rakyat (volkschool), Teuku Moehammad Hasan dipindahkan sang ayah ke Europeese Lagere School (ELS), sekolah untuk anak-anak Eropa dan keluarga bangsawan. Pada tahun ketujuh di ELS, Hasan ditawari melanjutkan sekolah ke Batavia. Mendapat restu orang tua, Hasan berangkat naik kapal laut dari pelabuhan Belawan Medan menuju Batavia.

Tiga hari perjalanan, Hasan tiba di Batavia dan tinggal di asrama Yayasan Jan Pieterzoon Coon, di kawasan Guntur Menteng. Ketika mengikuti tes, Hasan diterima di Koningen Wilhelmina School (KWS), kini dikenal sebagai SMA I Budi Utomo Jakarta, pada bagian teknik. Setelah dari KWS, Hasan mendaftar di AMS di Hospitalweg (kini Jalan Abdulrahman Saleh) Jakarta Pusat. Ia mendulang prestasi di KWS dan AMS, bahkan di AMS ia hanya menghabiskan waktu satu tahun, dengan hasil ujian yang sangat baik terutama dalam pelajaran aljabar.

Karena itu pula Hasan berkeinginan melanjutkan pendidikan teknik di Delft Belanda, atau minimal di Technische Hogeschool te Bandung (THS) – kini Institut Teknologi Bandung. Pria kelahiran 4 April 1906 ini sangat mencintai pelajaran berhitung dan teknik. Tetapi, pertemuan dengan Teuku Hanafiah, seorang pemuda asal Aceh yang sedang mengenyam pendidikan di Rechtsschool, mengubah haluan pendidikan Hasan.

“Saya menemui Teuku Hanafiah, mahasiswa RHS Batavia untuk bertukar pikiran. Dia berpendapat, saya bisa memilih jurusan apa saja, sebab hasil ujian AMS semuanya baik, dan saya pasti bisa menyelesaikan di sekolah tinggi yang saya pilih dengan hasil baik,” kata Hasan, sebagaimana tertuang dalam buku biografinya Mr. Teuku Moehammad Hasan, Dari Aceh ke Pemersatu Bangsa (1999).

Teuku Hanafiah melanjutkan masukannya. Jika Hasan memilih jurusan teknik dan menjadi insinyur yang hebat, maka buah tangannya maksimal membuat 100 jembatan yang indah seperti jembatan di Spanyol. Setelah itu, bakal dilupakan orang. Apabila memilih jurusan sastra, buah tangan Hasan mungkin hanya beberapa syair yang indah. Sebaliknya, apabila Hasan memilih jurusan hukum, maka buah tangannya adalah ‘Indonesia Merdeka’. “Alangkah hebatnya, kata T. Hanafiah, dengan mata berbinar-binar”. Berusaha meyakinkan Teuku Hanafiah juga menunjuk sebagian besar Gubernur Jenderal Belanda berlatar belakang ilmu hukum.

Hasan akhirnya terpengaruh ajakan Hanafiah. “Saya memutuskan, memilih ilmu hukum, dan masuk sekolah tinggi RHS Batavia,” kata Hasan, sebagaimana tertuang dalam biografinya.

Kuliah di RHS dijalani Hasan dengan baik. Pada 1930 ia lulus ujian C-1, dan pada tahun berikutnya lulus C-2. Begitu gelar diploma di tangan, Hasan lebih dahulu pulang ke kampungnya di Aceh. Di sana, Hasan menyampaikan kepada keluarga keinginannya melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda. Ia sempat ditakut-takuti kontroler Onderafdeeling Sigli, C. Maeir, bahwa belajar di negeri Belanda banyak bahayanya, mungkin bisa terjerumus hidup berfoya-foya. Namun, tekad Hasan untuk melanjutkan pendidikan sudah bulat. Berkat bantuan sejumlah pihak, ia berangkat pada September 1931, menaiki kapal Willem Rujs dari Pelabuhan Sabang. Di kapal ini Hasan bersua dua orang Indonesia yang sama-sama ingin menempuh ilmu di negeri Belanda: Teuku Tahir yang berniat sekolah di Delft, dan Ildrem yang akan belajar kedokteran di Leiden (belakangan menjadi Guru Besar Ilmu Kedokteran Universitas Sumatera Utara).

Berita Terkait