KetenagakerjaanKetenagakerjaan
Hitungan Pesangon 2026 Berdasarkan UU Cipta Kerja
Bacaan 12 Menit

PERTANYAAN
Saya baru saja kenalayoff. Bagaimana cara hitung pesangonlayoffmenurutUU Cipta Kerjadi tahun 2026 ini? Terima kasih.
Pro

Pusat Data
Koleksi peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan yang sistematis serta terintegrasi
Solusi
Wawasan Hukum
Klinik
Tanya jawab gratis tentang berbagai isu hukum
Berita
Informasi dan berita terkini seputar perkembangan hukum di Indonesia
Jurnal
Koleksi artikel dan jurnal hukum yang kredibel untuk referensi penelitian Anda
Event
Informasi mengenai seminar, diskusi, dan pelatihan tentang berbagai isu hukum terkini
Klinik
Berita
Login
Pro
Layanan premium berupa analisis hukum dwibahasa, pusat data peraturan dan putusan pengadilan, serta artikel premium.
Solusi
Solusi kebutuhan dan permasalahan hukum Anda melalui pemanfaatan teknologi.
Wawasan Hukum
Layanan edukasi dan informasi hukum tepercaya sesuai dengan perkembangan hukum di Indonesia.
Catalog Product
Ada Pertanyaan? Hubungi Kami


Bacaan 12 Menit

Saya baru saja kenalayoff. Bagaimana cara hitung pesangonlayoffmenurutUU Cipta Kerjadi tahun 2026 ini? Terima kasih.
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Artikel di bawah ini adalah pemutakhiran keenam dari artikel dengan judul Cara Hitung Pesangon Berdasarkan UU Cipta Kerja yang pertama kali dipublikasikan pada 7 Maret 2014, dimutakhirkan pertama kali pada 11 Desember 2020, dimutakhirkan kedua kali pada 18 Agustus 2023, dimutakhirkan ketiga kali oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. pada 18 Agustus 2023, dimutakhirkan keempat kali pada 15 November 2024, dan dimutakhirkan kelima kalinya pada 10 Oktober 2025.
Seluruh informasi hukum dalam Klinik Hukumonline disediakan semata-mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum. Silakan mempelajari Pernyataan Penyangkalan untuk informasi selengkapnya. Untuk memperoleh nasihat hukum yang sesuai dengan kasus Anda, silakan berkonsultasi langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
Sebagaimana diketahui bersama, saat terjadi pemutusan hubungan kerja (“PHK”), pekerja berhak menerima kompensasi oleh karenanya cara hitung pesangon wajib diketahui. Namun, perlu dicatat bahwa kompensasi bagi pekerja yang di-PHK tidak hanya uang pesangon atau UP, melainkan juga uang penghargaan masa kerja atau UPMK, dan uang penggantian hak atau UPH yang besarannya didasarkan pada alasan terjadinya PHK.
Sebelum membahas cara hitung uang pesangon 2026 untuk menjawab pertanyaan Anda, simak besaran UP, UPMK, dan UPH yang diterima pekerja terlebih dahulu. Anda dapat merujuk pada ketentuan dalam Perppu Cipta Kerja yang telah ditetapkan menjadi undang-undang melalui UU Cipta Kerja yang kami rangkum dalam tabel berikut
| Masa Kerja | Uang Pesangon yang Didapat |
| kurang dari 1 tahun | 1 bulan upah |
| 1 tahun atau lebih tapi kurang dari 2 tahun | 2 bulan upah |
| 2 tahun atau lebih tapi kurang dari 3 tahun | 3 bulan upah |
| 3 tahun atau lebih tapi kurang dari 4 tahun | 4 bulan upah |
| 4 tahun atau lebih tapi kurang dari 5 tahun | 5 bulan upah |
| 5 tahun atau lebih tapi kurang dari 6 tahun | 6 bulan upah |
| 6 tahun atau lebih tapi kurang dari 7 tahun | 7 bulan upah |
| 7 tahun atau lebih tapi kurang dari 8 tahun | 8 bulan upah |
| 8 tahun atau lebih | 9 bulan upah |
| Masa Kerja | UPMK yang Didapat |
| 3 tahun atau lebih tapi kurang dari 6 tahun | 2 bulan upah |
| 6 tahun atau lebih tapi kurang dari 9 tahun | 3 bulan upah |
| 9 tahun atau lebih tapi kurang dari 12 tahun | 4 bulan upah |
| 12 tahun atau lebih tapi kurang dari 15 tahun | 5 bulan upah |
| 15 tahun atau lebih tapi kurang dari 18 tahun | 6 bulan upah |
| 18 tahun atau lebih tapi kurang dari 21 tahun | 7 bulan upah |
| 21 tahun atau lebih tapi kurang dari 24 tahun | 8 bulan upah |
| 24 tahun atau lebih | 10 bulan upah |
Apa yang dimaksud dengan “upah bulanan”? Apakah cara hitung pesangon hanya terpaku pada upah pokok saja? Terkait hal ini, UU Cipta Kerja menjelaskan bahwa komponen upah yang digunakan sebagai dasar perhitungan UP dan UPMK terdiri atas upah pokok dan tunjangan tetap yang diberikan kepada pekerja.[4]
Perlu menjadi catatan, cara hitung pesangon dipengaruhi oleh alasan terjadinya PHK. Kemudian, ketentuan dalam UU Cipta Kerja menyatakan bahwa ketentuan lebih lanjut perihal UP, UPMK, dan UPH diatur dalam peraturan pemerintah.[5]
Untuk menjawab pertanyaan Anda tentang cara menghitung pesangon karena di-layoff perusahaan, berikut sejumlah klasifikasikan besaran UP, UPMK, dan UPH yang kami akomodir berdasarkan ketentuan PP 35/2021.
Sebagai contoh kasus, pekerja A mendapat upah bulanan sebesar Rp7 juta dengan detail komponen upah Rp6 juta sebagai gaji pokok dan Rp1 juta sebagai uang makan yang merupakan tunjangan tetap. Masa kerja A sebelum terkena PHK karena alasan perusahaan melakukan merger (penggabungan) adalah 4 tahun 2 bulan.
Berdasarkan penjelasan di atas, hak bagi pekerja A yang di-PHK karena alasan merger perusahaan adalah 1 kali ketentuan UP, 1 kali ketentuan UPMK, dan UPH. Sehingga cara hitung pesangon dan UPMK-nya adalah sebagai berikut.
Upah yang dihitung dalam cara hitung pesangon adalah Rp7 juta, bukan hanya gaji pokok sebesar Rp6 juta saja. Sehingga, cara hitung pesangon atau UP adalah: Rp7 juta x 5 (kategori masa kerja 4 tahun lebih tetapi kurang dari 5 tahun) x 1 = Rp35 juta.
Sedangkan cara hitung UPMK-nya adalah: Rp7 juta x 2 (kategori masa kerja 3 tahun lebih tetapi kurang dari 6 tahun) x 1 = Rp17 juta.
Berdasarkan cara hitung pesangon dan UPMK 2026 yang telah dijabarkan, total uang pesangon yang seharusnya didapat A berdasarkan perhitungan UU Cipta Kerja adalah Rp35 juta dan UPMK sebesar Rp17 juta.
Demikian jawaban kami terkait cara hitung pesangon PHK 2026 berdasarkan UU Cipta Kerja dan informasi terkait lainnya. Semoga bermanfaat.
Dasar Hukum:
Putusan:
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168/PUU-XXI/2023.
[1] Pasal 81 angka 47 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja (“Perppu Cipta Kerja”) yang mengubah Pasal 156 ayat (2) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (“UU Ketenagakerjaan”) jo. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168/PUU-XXI/2023, yaitu frasa “diberikan dengan ketentuan sebagai berikut” bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai “paling sedikit”
[2] Pasal 81 angka 47 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 156 ayat (3) UU Ketenagakerjaan
[3] Pasal 81 angka 47 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 156 ayat (4) UU Ketenagakerjaan
[4] Pasal 81 angka 48 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 157 ayat (1) UU Ketenagakerjaan
[5] Pasal 81 angka 47 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 156 ayat (5) UU Ketenagakerjaan
[6] Pasal 41 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja (“PP 35/2021”)
[7] Pasal 42 ayat (1) PP 35/2021
[8] Pasal 42 ayat (2) PP 35/2021
[9] Pasal 43 ayat (1) PP 35/2021
[10] Pasal 43 ayat (2) PP 35/2021
[11] Pasal 44 ayat (1) PP 35/2021
[12] Pasal 44 ayat (2) PP 35/2021
[13] Pasal 45 ayat (1) PP 35/2021
[14] Pasal 45 ayat (2) PP 35/2021
[15] Pasal 46 ayat (1) PP 35/2021
[16] Pasal 46 ayat (2) PP 35/2021
[17] Pasal 47 PP 35/2021
[18] Lihat Pasal 81 angka 45 UU Cipta Kerja yang memuat baru Pasal 154A ayat (1) huruf g UU Ketenagakerjaan dan Pasal 36 huruf g PP 35/2021
[19] Pasal 48 PP 35/2021 jo. Pasal 36 huruf g PP 35/2021
[20] Pasal 49 PP 35/2021
[21] Pasal 50 PP 35/2021
[22] Pasal 51 PP 35/2021
[23] Pasal 52 ayat (1) PP 35/2021
[24] Pasal 52 ayat (2) PP 35/2021
[25] Pasal 54 ayat (1) PP 35/2021
[26] Pasal 54 ayat (2) PP 35/2021
[27] Pasal 54 ayat (4) PP 35/2021
[28] Pasal 54 ayat (5) PP 35/2021
[29] Pasal 55 PP 35/2021
[30] Pasal 56 PP 35/2021
[31] Pasal 57 PP 35/2021