hukumonline
Selasa, 22 Mei 2012
Diserang Preman, Pekerja Mengadu ke Komnas HAM
Sebelum menyerang pekerja, para preman bersalaman dengan aparat kepolisian yang berjaga di lokasi pabrik.
Ady
Dibaca: 1403 Tanggapan: 0
Diserang Preman, Pekerja Mengadu ke Komnas HAM
Pekerja mengadu ke Komnas HAM karena diserang preman. Foto: Sgp

 

 

Rasa aman untuk hidup di negeri ini tampaknya sudah amat mahal. Tak sembarang orang bisa mencicipi rasa aman itu. Demikian pula yang dialami ratusan pekerja PT Intan Pertiwi Industri yang sedang mogok kerja di lokasi pabrik di Tangerang Banten.

Ketika mogok kerja sambil berdemonstrasi pada 19 Mei lalu, para buruh itu diserang belasan orang bersenjata tajam. Ironisnya, aparat kepolisian yang awalnya ditugaskan mengamankan lokasi pabrik berpangku tangan atas aksi penyerangan itu. Alhasil, sejumlah peserta mogok terluka dan satu pekerja dilarikan ke rumah sakit karena mendapat luka parah di bagian kepala. Peralatan demonstrasi seperti sound system tak ketinggalan diamuk.

Sebelum terjadi penyerangan, para pekerja melihat preman itu sempat berjabat tangan dengan petinggi kepolisian daerah setempat yang hadir di lokasi kejadian. Para buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Nusantara (SBN) ini kemudian mengadukan masalah penyerangan dan pembiaran yang dilakukan kepolisian ini kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Senin (21/5).

Kisah tragis para buruh ini bermula ketika para pekerja menuntut hak-hak normatif seperti cuti haid, status pekerja dan upah sektoral. Namun perundingan dengan manajemen perusahaan yang memproduksi kawat las bermerek Kobe Steel Welding Elektrode itu tak membuahkan hasil. Manajemen malah memecat pengurus SBN dan memutasi beberapa anggota SBN lainnya.

Atas tindakan perusahaan itu, pekerja memilih mogok kerja pada 15 19 Mei 2012. Para pekerja berkumpul di depan pagar pabrik. Perundingan kembali terjadi, kali ini pihak Disnakertrans Kota Tangerang ikut memediasi. Namun tetap saja, pengusaha tidak mau meluluskan permintaan pekerja. Sampai akhirnya pada 19 Mei 2012 para pekerja diserang oleh belasan preman itu.

“Preman yang menyerang itu pada hari sebelumnya berjaga-jaga di dalam pabrik,” tutur Sukiswo ketika mengadukan penyerangan itu ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Jakarta, Senin (21/5).

Di dampingi pengurus Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Sukiswo dan puluhan rekannya mengadu ke Komnas HAM. Mereka berharap agar Komnas HAM menindaklanjuti kasus ini dan mendorong pihak terkait agar melakukan penindakan terhadap para preman yang menyerang.

Pada kesempatan yang sama Ketua Umum KASBI, Nining Elitos menuturkan di lokasi kejadian ada Kapolsek beserta jajarannya. Sebelum melakukan penyerangan, para preman terlihat berjabat tangan dengan petinggi kepolisian daerah itu. Nining heran kenapa aparat kepolisian tidak bertindak ketika pekerja diserang. “Ironis, aparat kepolisian diam saja,” ujar Nining kesal karena aksi mogok SBN sudah dilakukan sesuai prosedur.

Ketika menerima pengaduan Sukiswo dkk, komisioner Komnas HAM, Ridha Saleh mengatakan akan melakukan tindakan untuk melindungi pekerja. Dia berjanji akan menyurati seluruh pihak terkait untuk tidak melakukan tindak kekerasan terhadap pekerja.

Ridha mengatakan jika pihak pengusaha tidak menjawab surat dari Komnas HAM atas persoalan yang dihadapi Sukiswo dkk, maka pemanggilan akan dilakukan. Hal serupa menurut Ridha akan dilakukan terhadap Kapolsek setempat.

Lebih lanjut Ridha mengingatkan, sebelumnya Komnas HAM, Polri dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah melakukan kesepakatan untuk mengatasi persoalan pelanggaran HAM yang kerap dialami pekerja. Sayangnya, Ridha belum melihat langkah konkrit yang dilakukan pihak kepolisian.

Secara umum Ridha mengatakan tingkat pelanggaran HAM, terutama tindak kekerasan cenderung meningkat. Sejak dua tahun lalu fenomena tindak kekerasan terhadap pekerja sudah diprediksi oleh serikat pekerja. Pasalnya, serikat pekerja sering mengeluhkan tindakan aparat keamanan yang bergeming ketika hak pekerja dilanggar.

Walau belum dapat memastikan apakah ada hubungan langsung yang terkait antara tindak kekerasan yang dialami para pekerja dengan pengusaha, tapi yang jelas menurut Ridha kekerasan yang menimpa kaum pekerja kerap terjadi. “Nyata di lapangan, praktik itu terjadi,” kata dia.

Sampai berita ini diturunkan, pihak manajemen tak bisa dimintai konfirmasi terkait tuntutan buruh. Upaya menghubungi Direktur Utama perusahaan, Sumarno, lewat telepon dan pesan pendek tak membuahkan hasil.

Share:
tanggapan
Belum ada tanggapan untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Tanggapan
Nama
Email
Judul
Tanggapan
Jika anda member Hukumonline, silahkan login, atau Daftar ID anda.