Jumat, 09 Maret 2018
Smartphone Sasaran Empuk Cybercrime, Begini Tips Aman dari Polri
Smartphone jauh lebih mudah dan rentan diserang hacker. Terlebih berbagai transaksi keuangan saat ini banyak dilakukan dari smartphone.
Normand Edwin Elnizar
0
Smartphone Sasaran Empuk Cybercrime, Begini Tips Aman dari Polri
AKBP Muhammad Nuh Al Azhar. Foto: NEE

Per Januari 2018 terhitung penggunaan akses internet di Indonesia paling besar melalui perangkat ‘ponsel pintar’ yaitu sebesar 72%. Disampaikan oleh AKBP Muhammad Nuh Al Azhar, berdasarkan hitungan laman statcounter, terjadi lonjakan penggunaan perangkat smartphone untuk akses internet di Indonesia sebesar 5% dibandingkan pada Januari 2017. Tercatat pula dari para pengguna ini semakin banyak yang melakukan transaksi keuangan lewat smartphone. Padahal menurut Nuh, smartphone jauh lebih mudah jadi korban cybercrime oleh hacker.

 

Nuh menjelaskan bahwa kewaspadaan para pengguna smartphone Indonesia dari ancaman cybercrime masih rendah. Di era ketika fintech berkembang dan mudah dilakukan lewat smartphone, berbagai informasi vital disimpan dan dipertukarkan lewat smartphone seperti beragam password akun personal, PIN rekening perbankan, saham, atau kartu kredit.

 

Masih menurut Nuh, nilai transaksi perdagangan secara elektronik (e-commerce) komoditas consumer goods Indonesia per Januari 2018 saja telah mencapai $7 triliun. Berdasarkan data yang dimilikinya, tak kurang 28 juta orang di Indonesia melakukan transaksi e-commerce. Pada saat yang sama, harus disadari cybercrime juga ikut mengintai mencari keuntungan.

 

Pada pelatihan Hukumonline bertema “Memahami Cyber Law, Cyber Crime, dan Digital Forensic Dalam Sistem Hukum Indonesia”, Rabu (7/3) di Hotel Aryaduta, Jakarta, ada sejumlah tips aman yang Nuh bagikan saat diwawancarai hukumonline.

 

“Di mata hacker gadget itu lebih enak di-hack dibanding laptop,” kata Nuh di hadapan para peserta.

 

Ada dua alasan yang dijelaskannya. Pertama, sadar atau tidak para pengguna smartphone biasanya mengaktifkan smartphone selama 24 jam. Ini berbeda dengan kebiasaan mematikan laptop setelah tidak dipakai. Para hacker jauh lebih mudah dan cepat membajak perangkat karena smartphone terus diaktifkan.

 

(Baca Juga: Demi Kepastian Hukum, Tanda Tangan Elektronik Akan Wajib di Setiap Transaksi Elektronik)

 

“Untuk bisa dikendalikan, butuh perangkatnya hidup. Jarang orang matikan ponsel saat tidur, karena hidup 24 jam jadi mudah buat hacker,” kata polisi yang juga Ketua dari Asosiasi Forensik Digital Indonesia (AFDI). 

 

Kedua, smartphone yang dalam keadaan aktif selama 24 jam tersebut juga lazimnya dalam keadaan tersambung dengan internet. “Selain itu juga terkoneksi internet 24 jam. Hacker butuh koneksi internet agar bisa akses target, hidup 24 jam, koneksi internet 24 jam, perfect!” tukasnya.

 

Untuk itulah, Nuh memperingatkan agar kewaspadaan pengguna smartphone serta gawai lain seperti tablet ditingkatkan.

 

Tips pertama dari Nuh adalah memastikan smartphone sudah menggunakan aplikasi anti-virus. “Seringkali ini malah tidak dilakukan di gadget, padahal di laptop biasanya pakai anti-virus,” kata Nuh saat diwawancarai hukumonline.

 

(Baca Juga: OJK Minta Industri Jasa Keuangan Antisipasi Ancaman Serangan Siber)

 

Tidak harus anti-virus versi berbayar, karena menurut Nuh juga ada anti-virus internet gratisan yang tidak kalah ampuh dengan versi berbayar. Namun tidak dipungkiri jenis berbayar dan sudah dikenal kualitasnya jauh lebih baik. “Yang penting di-up date, untuk penjagaan awal saat trojan masuk terdeteksi,” lanjutnya.

 

Kedua, para pengguna smartphone harus berhati-hati dalam install aplikasi apapun. “Biasanya trojan itu disisipkan di aplikasi yang disenangi banyak orang, misalnya aplikasi editor foto,” tutur Nuh.

 

Kehati-hatian ini, misalnya, dengan membaca ulasan para pengunduh aplikasi tersebut sebelumnya. Jangan terkecoh penilaian ‘bintang 4’ yang dimiliki aplikasi tersebut. Menurut Nuh, penilaian keseluruhan bisa direkayasa para hacker dengan ulasan palsu yang mereka buat sendiri. Nuh menyarankan membaca ulasan negatif atau keluhan dari pengunduh aplikasi tersebut sebelumnya.

 

“Lihat komentar orang yang jengkel, yang bintang satu karena kecewa, kalau ada maka hentikan dulu install-nya, yang rentan memang aplikasi editor foto,” tambah Nuh.

 

Tips ketiga, perhatikan daya tahan baterai anda. Jika biasanya baterai bisa tahan lebih lama, lalu tiba-tiba cepat drop, sangat mungkin smartphone anda sudah terinfeksi salah satu virus kiriman hacker. “Sangat mungkin yang menguras baterai itu malware yang ditanam, karena butuh terus berkomunikasi dengan hackernya dan butuh energi lebih besar,” lanjutnya.

 

Hal terakhir adalah perhatikan pulsa anda. Jika lebih cepat habis dalam keadaan normal, hal itu juga menjadi indikasi ada malware yang sedang bekerja aktif dan menghabiskan pulsa internet lebih banyak.

 

Keempat tips ini memang tidak pasti menjamin keamanan anda dari serangan cybercrime. Paling penting adalah tetap waspada terhadap cybercrime yang mengintai isi smartphone anda.

 

No crime is perfect, karena yang melakukan tetap saja manusia, tidak ada manusia yang sempurna, segera laporkan ke Kepolisian saat anda merasa sedang menjadi korban cybercrime,” pungkas Nuh.

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.