Jumat, 06 July 2018
Rekam Jejak Syed Saddiq, Lulusan Hukum yang Jadi Menteri di Usia 25 Tahun
Syed aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, terutama dalam bidang debat. Dia dilatih untuk kritis, berbeda pendapat dan berdiskusi.
Hamalatul Qur'ani
0
Rekam Jejak Syed Saddiq, Lulusan Hukum yang Jadi Menteri di Usia 25 Tahun
Syed Saddiq Syed Abdul Rahman. Foto: youtube.com

Lulusan hukum International Islamic University Malaysia(IIUM), Syed Saddiq Syed Abdul Rahman  (25 tahun), telah diangkat sumpahnya sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia (Menteri Belia dan Sukhan) ke-18 bersama 12 menteri lainnya dihadapan Yang di-Pertuan Agong, Sultan Muhammad V dan disaksikan pula oleh Perdana Menteri (PM) Malaysia, Tun Mahatir Mohamad, Senin (2/7), di Istana Negara Malaysia.

 

Dosen FH IIUM, Sonny Zulhada yang pernah mengajar Syed dalam kelas gabungan mengakui keaktifan Syed dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, terutama dalam bidang debat. Keaktifan Syed dalam debating club IIUM, kata Sonny, betul-betul dirintis dari bawah hingga ke puncaknya, hingga Syed seringkali mewakili universitas dalam berbagai event internasional dan meraih berbagai penghargaan dalam berbagai kompetisi tersebut.

 

“Syed termasuk yang paling menonjol dan berprestasi selama 4 tahun di kampus. Dia kritis, karena memang dalam club debate itu dia dilatih untuk kritis, berbeda pendapat, berdiskusi, makanya kelihatan sekali dia diantara yang paling berprestasi dalam hal itu,” jelas Sonny kepada hukumonline, Rabu, (4/7).

 

Sebagai informasi, Syed pernah 3 kali memenangkan penghargaan Asia’s Best Speaker pada kompetisi debat Asian British Parliamentary (ABP). Berdasarkan penelusuran hukumonline, Syed tercatat pernah meraih Peringkat Pertama pada kompetisi ABP 2015 yang diselenggarakan oleh Asia Pasific University (APU) setelah sebelumnya memenangkan penghargaan Asia’s Best Speaker pada perhelatan United Asian Debating Championship (UADC) 2015 yang diadakan di Baliserta menjuarai ABP 2012 di Jakarta, Indonesia. Kejuaraan ABP 2015 menjadi pertandingan terakhir Syed sebagai seorang debater.

 

“Berdebat bukan hanya soal adu argumentasi di dalam ruangan. Debat yang sesungguhnya adalah tentang upaya menemukan solusi untuk menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik,” ungkap Syed sebagaimana dilansir oleh thestaronline.

 

 

Tidak sampai di situ, pria kelahiran Pulai, Johor Baru, Malaysia pada 6 Desember 1992 itu bahkan pernah diundang oleh Cambridge Union untuk menjadi ketua Adjudicator untuk kompetisi debat Cambridge Intervarsity yang diselenggarakan pada 20 - 21 November di Inggris. Dengan berbagai pencapaian prestasi yang ia raih, Syed yang dikenal sebagai Asia’s Top Debater ini tak sungkan untuk terjun langsung sebagai pelatih club debate di IIUM selama masa kuliahnya.

 

(Baca Juga: Lulusan Hukum Jangan Hanya Berkutat di Dunia Advokat)

 

Siapa sangka kelihaian Syed dalam berdebat menunjang minatnya untuk terjun menggeluti isu-isu politik. Hingga akhirnya selang beberapa lama setelah lulus dari Fakultas Hukum IIUM, kata Sonny, Syed bergabung dengan partainya pak Mahathir Mohammad dan diberikan amanah serta tanggungjawab sebagai ketua pemudanya.

 

“Dia cukup aktif dan bagus dalam keterlibatan di partai itu, dia membangun iklim yang kritis dan memperkenalkan berdebat secara baik. Dia tetap vokal dan cukup aktif diberbagai sosial media,” aku Sonny kepada hukumonline.

 

Berdasarkan pengamatan Sonny, diangkatnya Syed sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga pada kabinet yang baru ini melalui diskresi Mahatir Mohammad, merupakan langkah baru pemerintah negeri Jiran untuk sebisa mungkin ramah terhadap anak muda. Dulu mungkin memang sudah ada upaya-upaya itu, kata Sonny, namun memang kurang menonjol. Harapan Sonny, Syed yang berkualitas dengan berbagai prestasi, sangat lincah dalam menangani berbagai isu serta populer diberbagai sosial media, walaupun dengan umur yang sangat muda, semoga dapat memberikan kemudahan untuk menjalankan tugasnya sebagai Menteri.

 

(Baca Juga: Alumni Pengaruhi Minat Mahasiswa Masuk Law firm)

 

Selain itu, salah seorang pelajar Indonesia di IIUM, Annisa Ira yang akrab disapa Caca sempat berkenalan baik dengan Syed. Saat dikonfirmasi hukumonline, Caca menjelaskan ia baru menginjak semester kedua di jurusan politik saat Syed lulus dari fakultas hukum. Dalam pandangan Caca dan Mahasiswa IIUM lainnya, Syed merupakan sosok yang sangat aktif untuk berbagai kegiatan diluar kampus, figure yang berani dan mampu meng-organize segala sesuatunya dengan baik.

 

“Di kampus, orang-orang bener-bener look up on him. Untuk umur segitu, otak Syed seperti bercabang ke mana-mana, tapi dia berhasil meng-handle everything nicely, dia adalah sosok anak muda yang juga betul-betul mewakilkan aspirasi anak muda,ujar Caca kepada hukumonline, Rabu, (4/7).

 

Dalam pandangan Caca, di tengah berbagai kesibukan Syed, ia bahkan cukup ‘fast respons’ saat dimintai bantuan oleh anak-anak muda lainnya untuk mengeksekusi berbagai persoalan yang dihadapi pemuda, salah satunya mengenai masalah Pinjaman Mahasiswa (PTPPN) hingga berhasil diselesaikan Syed bahkan saat ia sedang menjabat sebagai Ketua Partai Pemuda Oposisi di Malaysia. Menariknya, mayoritas pengaduan yang disampaikan kepada Syed disalurkan melalui sosial media. Sisi positif inilah yang dipandang Caca membuat Syed cocok menempati posisi sebagai seorang Menteri Pemuda.

 

“Saat sebelum menjadi menteri saja Syed sudah banyak sekali menginspirasi anak muda dengan berbagai keberaniannya dalam mengambil tindakan dan berbagai prestasi yang ia raih, apalagi setelah ia menjadi menteri,” aku Caca.

 

Di samping itu, Syed pernah beberapa kali menjadi guru undangan (seperti dosen tamu) di beberapa universitas di United Kingdom untuk membicarakan berbagai hal tentang hukum. Syed bahkan pernah mendapatkan tawaran beasiswa senilai RM 400,000 (sekitar Rp1,3 M) dari Oxford University, kata Caca, namun ia mengorbankan beasiswa Oxford tersebut demi membereskan apa-apa yang menurutnya sedang berantakan di Negaranya.

 

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.