Jumat, 20 April 2012
Dibaca: 7211
Pertanyaan :
Hak Cipta Karya Lukisan
Dear Hukum Online, Saya adalah Toko Lukisan Online, beberapa koleksi kami beli di tradisional market yang ada di Bali, dan kita memesan beberapa motif yang ada di website milik orang lain, luar maupun dalam negeri. Beberapa waktu lalu timbul masalah mengenai hak intelektual soal motif yang digambar di kanvas, padahal beberapa motif juga tergambar di website luar negeri. Bagaimana hak cipta terhadap lukisan itu? Saya lihat untuk fine art sebenarnya hanya butuh sertifikat dari pelukisnya. Bagaimana kita bisa klaim itu original karya kita? Terima kasih, Salam, Rizal.  
Jawaban :

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (“UUHC”), yang dimaksud dengan hak cipta adalah:

 

hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

Pada dasarnya, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 2 ayat (1) UUHC, hak eksklusif atas suatu ciptaan timbul sejak saat suatu ciptaan itu dilahirkan. Dengan demikian, sejak suatu ciptaan itu dilahirkan, hak penciptanya sudah dilindungi. Maka, suatu hak eksklusif dari sebuah lukisan akan timbul pada saat si pelukis meyelesaikan lukisan yang ia buat.

 

Lebih jauh, dijelaskan dalam penjelasan Pasal 2 ayat (1) UUHC bahwa:

 

Yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya.

 

Dalam pengertian “mengumumkan atau memperbanyak”, termasuk kegiatan menerjemahkan, mengadaptasi, mengaransemen, mengalihwujudkan, menjual, menyewakan, meminjamkan, mengimpor, memamerkan, mempertunjukkan kepada publik, menyiarkan, merekam, dan mengkomunikasikan Ciptaan kepada publik melalui sarana apa pun.

 

Sanksi yang berlaku atas pelanggaran Pasal 2 ayat (1) UUHC tersebut diatur dalam Pasal 72 ayat (1) UUHC yaitu jika ada pihak lain yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1 juta, atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5 miliar.

 

Memang, secara hukum pendaftaran hak cipta tidaklah diwajibkan, akan tetapi, pendaftaran atas suatu ciptaan ini kemudian akan menjadi penting dan esensial dalam hal terjadi sengketa dengan pihak ketiga (bila ada pelanggaran hak cipta).

 

Apabila terjadi suatu perselisihan/persengketaan/klaim antara dua pihak atau lebih yang menyatakan bahwa masing-masing dari mereka itu adalah pemegang hak cipta atas suatu ciptaan, maka pendaftaran atas ciptaan yang dilakukan oleh pencipta atau pemegang hak cipta atau kuasanya dapat menjadi suatu alat bukti yang kuat di depan persidangan yang sekaligus juga menjadi suatu bahan pertimbangan bagi hakim untuk menentukan siapa pemegang hak cipta yang sah. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 5 ayat (1) UUHC bahwa kecuali terbukti sebaliknya, yang dianggap sebagai Pencipta adalah:

a.      orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan pada Direktorat Jenderal; atau

b.      orang yang namanya disebut dalam Ciptaan atau diumumkan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan.

 

Pada prinsipnya, Hak Cipta diperoleh bukan karena pendaftaran, tetapi dalam hal terjadi sengketa di pengadilan mengenai Ciptaan yang terdaftar dan yang tidak terdaftar, serta apabila pihak-pihak yang berkepentingan dapat membuktikan kebenarannya, hakim dapat menentukan Pencipta yang sebenarnya berdasarkan pembuktian tersebut (lihat penjelasan Pasal 5 ayat (2) UUHC).

 

Menurut Belinda Rosalina, konsultan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), suatu ciptaan yang dipublikasikan melalui internet, hak eksklusifnya telah lahir pada saat ciptaan itu dilahirkan. Sementara, mengenai waktu mengunggah pada internet merupakan waktu publikasi yang dapat menjadi suatu pembuktian dalam hal siapa yang mengunggah terlebih dahulu di internet.

 

Dalam hal suatu hak cipta dalam sebuah lukisan, Belinda menyatakan bahwa di dalam suatu karya lukis terdapat similaritas substansial seperti pada suatu karya arsitektur. Namun dalam suatu karya lukisan, dia menjelaskan, konsep ini lebih mengutamakan persamaan pada pokoknya dalam suatu karya lukisan. Karena, suatu hasil lukisan seorang pelukis tidak akan sama dengan pelukis lainnya karena setiap pelukis memiliki gaya melukisnya sendiri. Demikian pendapat Belinda Rosalina.

 

Semoga bermanfaat.

 

Catatan editor: Klinik Hukum meminta pendapat Belinda Rosalina melalui hubungan telepon pada 20 April 2012.

 

Dasar hukum:

Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

Setiap artikel jawaban Klinik Hukum dapat Anda simak juga melalui twitter @klinikhukum, atau facebook Klinik Hukumonline.

Cari Jawaban
Rubrik ini disediakan bagi anda untuk mengajukan persoalan hukum yang anda hadapi. Rubrik ini diperuntukkan hanya kepada member hukumonline.com
Jika anda member Hukumonline,
silakan Login, atau Daftar ID anda.
PENJAWAB : Try Indriadi, S.H.
MITRA : Bung Pokrol
Saat ini sudah tidak bekerja di Hukumonline. Namun dulu pernah bergabung di Divisi Klinik.