74 Persen Jurnalis Melihat AI sebagai Peluang, Perlunya Regulasi agar Konten Jurnalistik Terlindungi
Utama

74 Persen Jurnalis Melihat AI sebagai Peluang, Perlunya Regulasi agar Konten Jurnalistik Terlindungi

Perlu secara kolektif membuat satu kebijakan yang bisa diterapkan di media, tidak hanya di media nasional, tapi juga media-media kecil di daerah bagaimana disclaimer AI itu diterapkan.

Hanifah Dwi Jayanti
Bacaan 3 Menit

Ketua Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika menyebut optimalisasi AI di ruang redaksi dan tim bisnis menjadi salah satu kunci keberlanjutan industri media. Untuk memilih arah baru industri media, Wahyu menyebut ada dua hal yang harus dilakukan dari sisi ekosistem medianya dan dari sisi perusahaan publisher media itu sendiri.

Senada dengan Rosiana, Wahyu mengatakan dari sisi ekosistem medianya perlu regulasi yang lebih baik dan perlu dukungan agar konten jurnalistik itu terlindungi.

“Entah itu dalam bentuk perubahan Undang-Undang Hak Cipta, entah itu dalam bentuk penguatan publisher right ke level yang lebih tinggi, peraturan pemerintah mungkin atau regulasi apapun yang bisa membuat kita punya bargaining posisi yang lebih kuat ketika bernegosiasi dengan para platform digital,” kata Wahyu Dhyatmika dalam kesempatan yang sama.

Di sisi hilirnya, perusahaan-perusahaan publisher, menurutnya, harus lebih mengenali datanya seperti apa dan aset mereka itu apa. Jadi harus mengetahui diferensiasinya, apa masalah yang ingin mereka pecahkan dengan fungsi jurnalistiknya, serta apa harus mengenali siapa audiensnya.

“Siapa sih pembacanya, siapa sih pelanggannya? Saya kira dengan pemahaman itu lebih mengenali apa asetnya dan siapa audiensnya para publisher bisa menemukan sebuah model bisnis baru yang semoga lebih sustainable,” kata Wahyu.

Sementara itu, Jurnalis senior sekaligus pengajar journalism di The Royal Melbourne Institute of Technology University, Tito Ambyo, menilai sikap jurnalis Indonesia terhadap AI relatif lebih positif dibandingkan wartawan di Inggris, Amerika Serikat, dan Australia yang cenderung lebih kritis.

Hukumonline.com

Jurnalis senior sekaligus pengajar journalism di The Royal Melbourne Institute of Technology University, Tito Ambyo.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info