Istilah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sebenarnya telah dikenal dalam ilmu komputer sejak era 1950-an. Namun, perbincangan luas di kalangan masyarakat baru mulai menguat pada akhir 2022, seiring dengan pesatnya perkembangan mesin pembelajaran yang memicu berbagai terobosan besar dan berdampak luas pada berbagai aspek kehidupan.
Transformasi tersebut juga turut menjangkau industri hukum. Profesi yang selama ini dikenal konservatif kini mulai beradaptasi dengan teknologi AI untuk menunjang pekerjaan sehari-hari, mulai dari analisis dokumen hingga penyusunan draf hukum.
Berdasarkan laporan Future Ready Lawyer Survey 2026 yang dirilis oleh Wolters Kluwer pada Maret 2026, lebih dari 92 persen lawyer telah menggunakan setidaknya satu alat berbasis AI dalam praktik mereka. Survei ini melibatkan 810 profesional hukum yang berasal dari Amerika Serikat, China, dan sembilan negara di Eropa.
Baca Juga:
- Adopsi AI di APAC Tembus 90 Persen: Wajah Baru Profesi Lawyer di Asia Pasifik
- "Kiamat" Billable Hour, AI Paksa Firma Hukum Ubah Strategi
- Beradaptasi atau Tertinggal, Dilema 70 Persen Lawyer ASEAN di Era AI
- Tren Penggunaan AI oleh Lawyer di China dan India: Antara Efisiensi dan Risiko Etika
Tingginya angka adopsi ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian penting dalam transformasi layanan hukum secara global. Meski demikian, pemahaman terhadap istilah-istilah dasar AI masih menjadi tantangan, terutama bagi praktisi yang tidak berlatar belakang teknologi.

Sejumlah istilah tersebut kerap digunakan dalam diskursus global terkait AI. Misalnya, algorithm, yang merujuk pada serangkaian instruksi yang digunakan komputer untuk memproses data. Ada pula big data, yakni kumpulan data dalam jumlah besar yang menjadi fondasi utama dalam pelatihan sistem AI.
Dalam praktiknya, penggunaan generative AI semakin populer karena kemampuannya menciptakan konten baru, seperti draf kontrak atau analisis hukum. Teknologi ini umumnya didukung oleh large language model (LLM), yaitu model bahasa yang dilatih menggunakan data teks dalam skala besar agar mampu memahami dan menghasilkan bahasa manusia.
















