Ada yang mengatakan bahwa hukum adalah tulang punggung peradaban. Bagi mereka yang benar-benar hidup di dalamnya, hukum bahkan merupakan percakapan yang tidak pernah selesai antara manusia, kekuasaan, dan keadilan.
Dunia hukum bisnis internasional, sebagai salah satu bagiannya, menjadi dunia yang tidak pernah tidur. Sebab, transaksi lintas batas mengalir seperti sungai yang tak mengenal musim kering. Jika diibaratkan, regulasi telah melalui evolusinya sebelum tinta peraturan lama sempat mengering. Semuanya terjadi begitu cepat.
Di balik setiap klausul, di balik setiap negosiasi yang menantang, ada sosok dengan harapan, yang memikul risiko, serta pertaruhan masa depan perusahaan. Di tengah arus yang deras ini, Anastasia Monica berdiri bukan untuk melawan ombak. Melainkan untuk belajar mengarunginya.
Anastasia Monica yang akrab disapa Tasia, telah memahami kehidupan di dunia hukum jauh sebelum mengenakan toga wisuda. Sebab, ketika sebagian besar mahasiswa hukum masih berkutat dengan hafalan pasal dan tugas akademik, Tasia mengambil langkah dengan menjalani magang paruh waktu di kantor hukum Mochtar Karuwin Komar (MKK).
Semuanya berawal dari satu hal yang sederhana, yaitu ketertarikannya yang mendalam untuk memahami hukum yang bisa diimplementasikan secara nyata. Bekerja paruh waktu bukan berarti bekerja separuh hati. Sebab di situlah tantangan yang dihadapi Tasia, yaitu untuk membagi waktu antara kuliah dan bekerja.
Di sela-sela jadwal kuliahnya, Tasia duduk di antara para konsultan hukum dengan rekam jejak panjang. Ia menyerap, mengamati, dan perlahan-lahan memahami bahwa ada jurang yang lebar antara teori di bangku kampus dan realita di lapangan.
Di ruang kerja MKK, Tasia menempatkan diri sebagai bagian dari MKK, bukan lagi mahasiswi hukum. Ia berhadapan langsung dengan konsekuensi dari setiap kata dalam kontrak, serta setiap keputusan yang diambil dalam sebuah transaksi. Berkas di meja pun bukan lagi sekedar tentang studi kasus. Para klien bukanlah persona hipotesis dalam tugas kuliah. Semuanya nyata dan dinamis.
“Intern atau magang adalah posisi yang penuh paradoks. Sebab, saya jadi memahami betapa banyak yang ternyata belum saya ketahui,” ucap Tasia. Namun justru di celah itu, di ruang antara ketidaktahuan dan rasa ingin tahu, karakter praktisi hukum sejatinya tumbuh. Tasia pun tentu memilih untuk tumbuh. Ia tidak menunggu siap, tapi dibentuk menjadi siap melalui proses itu sendiri.
Akhirnya setelah menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Bina Nusantara pada 2022, Tasia kembali ke MKK bukan sebagai wajah baru. Ia datang sebagai individu yang sudah mempelajari irama kantor hukum ini, hingga standar tinggi yang tidak pernah berkompromi.
Tiga tahun menjalani magang paruh waktu telah mengajarkan Tasia sesuatu yang tidak ada dalam silabus manapun, yaitu bahwa hukum bukan sekadar disiplin ilmu yang dipelajari, melainkan cara hidup yang dihayati setiap hari, dalam setiap detailnya. Berbekal ilmu dan pengalaman yang begitu berharga itulah, Tasia langsung terjun ke dalam praktik hukum yang penuh tantangan, dengan dampak terhadap iklim investasi Indonesia.
Dalam waktu yang relatif singkat, Tasia berhasil menangani berbagai persoalan hukum lintas sektor industri. Mulai dari teknologi informasi, produk konsumsi, alat kesehatan, telekomunikasi, hingga pertambangan serta minyak dan gas bumi. Setiap sektor membawa alur logika tersendiri. Dengan masing-masing budaya beserta risikonya. Dari pengalaman ini lah, Tasia dibentuk.
Bagi Tasia, menjadi lawyer yang sesungguhnya bukanlah tentang kecepatan menjawab pertanyaan, tapi tentang kebijaksanaan untuk melihat pertanyaan yang belum sempat diajukan. Ketidakpastian, dalam dunia hukum bisnis global, bukanlah hal baru. Perubahan regulasi dan pergeseran pasar sangat mungkin terjadi tanpa peringatan.
Di sinilah Tasia melihat seni yang paling jujur dari profesi ini, yaitu bahwa tidak ada satu hari pun yang benar-benar sama. Setiap hari membawa tantangan baru yang membuatnya berpikir lebih mendalam, lebih kreatif, dan lebih humanis. “Sebab hukum pada akhirnya bukan hanya sistem aturan, tapi seni dalam menemukan jalan yang benar di tengah keadaan yang terus bergerak,” kata Tasia.
Ia pun mengakui, menjadi perempuan di industri hukum juga memiliki tantangan lainnya. Sebab, ada waktunya ia diuji, bukan hanya soal kemampuan, melainkan juga keteguhan. Namun, ia tidak pernah melihatnya sebagai penghalangan. Ia menjadikannya sebagai motivasi. Bagi Tasia, menjaga kepercayaan klien tidak cukup dengan gelar akademis. Ia yakin, kepercayaan lahir dari ketepatan analisis dan saran hukum yang terbukti, serta kehadirannya yang konsisten. Bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Kepercayaan ini dibangun dalam senyap.
Bisa jadi, itulah definisi baru dari keberhasilan yang sedang dituliskan oleh generasi perempuan dalam industri hukum pada masa ini. Suatu prestasi dalam sunyi, tapi berdampak dan penuh makna, yaitu reputasi sebagai konsultan hukum yang semakin baik. Reputasi tersebut lahir dari setiap klien yang terlindungi, serta setiap transaksi yang berjalan di atas pondasi kokoh kepastian hukum. Juga dari setiap bisnis yang tumbuh karena klien senantiasa mendapat pendampingan dari lawyer yang benar-benar hadir dengan kedalaman pemikirannya.
Perjalanan karier Tasia adalah satu dari sekian banyak kisah yang ditulis oleh perempuan-perempuan di dunia hukum Indonesia. Bukan untuk pembuktian atas sesuatu. Namun karena ada keyakinan di balik semuanya itu, yaitu bahwa kerja yang baik adalah tanggung jawab moral setiap praktisi hukum.
"Tasia telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa dalam menjadi sumber rujukan terkait hal-hal yang berkaitan dengan investasi asing,” ujar Managing Partner Kantor Hukum Mochtar Karuwin Komar (MKK), Ariani Nugraha. Ariani menuturkan, Tasia pun senantiasa aktif terlibat dalam penanganan sengketa perpajakan.
















