Andalkan Potensi Dalam Negeri
Bahlil menegaskan kondisi geopolitik global yang tidak pasti tersebut mendorong pemerintah untuk mengakselerasi program lifting dan hilirisasi yang menjadi fokus Presiden Prabowo saat ini. Terkait peningkatan lifting, khususnya pada minyak memang sulit. Namun hal tersebut mau tidak mau harus dilakukan demi pemenuhan kebutuhan nasional dari hasil dalam negeri.
Dalam konteks ketahanan energi, Bahlil menyebut bahwa potensi nasional masih sangat besar. Indonesia memiliki sekitar 39.000 hingga 40.000 sumur minyak, namun yang beroperasi baru sekitar 16.000 sumur. Dengan kondisi global yang tidak menentu, menurutnya tidak ada cara lain selain memaksimalkan keunggulan komparatif yang dimiliki. Optimalisasi potensi ini harus menjadi bagian dari strategi pertahanan energi nasional. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi minyak hingga 605 ribu barrel per hari (bph) pada tahun 2025, dan target tersebut diharapkan dapat tercapai pada akhir tahun.
“Strategi pertahanan yang lebih baik untuk menghadapi global yang tidak pasti adalah bagaimana kita memaksimalkan potensi kekayaan kita dan ini kita akan melakukan ekspansi untuk meningkatkan lifting.”
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong hilirisasi batubara sebagai solusi jangka panjang, salah satunya melalui pemanfaatan batubara untuk memproduksi DME (Dimethyl Ether) guna menggantikan LPG impor. “Cuman memang sekarang, makanya kita mau swipe ke Batubara DME agar kita bisa melahirkan substitusi impor. Ini bagian dari hilirisasi,” tegasnya
Bahlil menambahkan kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 8 juta ton per tahun, namun pasokan dari dalam negeri hanya mampu menyuplai 1,3 juta ton. Sisanya, sekitar 7 juta ton, masih bergantung pada impor, dengan 54% berasal dari Amerika Serikat, sisanya dari Timur Tengah dan kawasan Asia. Untuk mengurangi ketergantungan ini, pemerintah mendorong hilirisasi batubara menjadi DME sebagai alternatif energi bersumber dari dalam negeri.
















