Arief Surowidjojo dan Langkah Sukses 46 Tahun Berbisnis Jasa Hukum
Practice Wisdom

Arief Surowidjojo dan Langkah Sukses 46 Tahun Berbisnis Jasa Hukum

Berkarier sejak tahun 1977 hingga sekarang. Berpengalaman menangani klien swasta dan negara. Aktif dalam dunia gerakan masyarakat sipil dan pendidikan tinggi hukum. Tidak ada resep sukses tanpa integritas.

Oleh:
Normand Edwin Elnizar
Bacaan 9 Menit
Arief T Surowidjojo. Foto: RES
Arief T Surowidjojo. Foto: RES

“Kami sudah sampai Pak Arief,” kata awak Hukumonline via pesan teks kepada advokat senior Arief Tarunakarya Surowidjojo. Arief menjawab singkat tidak lama kemudian, “Siyap”.

Butuh waktu beberapa lama sampai Hukumonline berhasil mendapat janji temu dari antrean agenda seorang Arief Surowidjojo. Hukumonline diundang ke kediamannya di Sentul City pagi hari, Selasa (31/10/2023) lalu. Rumah dengan tiga bangunan terpisah itu terasa sejuk di tengah kawasan "kota pegunungan". Tim Hukumonline menanti di teras lantai dua dengan pemandangan asri hamparan hijau. Pantulan cahaya dari kolam renang dan langit cerah hari itu menambah teduh suasana.

Arief datang menyambut dengan senyum lebar. Paduan kemeja hitam lengan panjang, celana jeans biru dongker, dan smartwatch memberi kesan berwibawa sekaligus terlihat muda. Tidak mudah menebak usianya sudah genap 70 tahun. Ia membawa Tim Hukumonline ke ruang kerjanya.

Hukumonline.com

Ruangan dengan meja panjang untuk rapat itu tidak banyak diisi perabotan. Nuansanya interiornya gelap, tapi jendela-jendela lebar tanpa tirai yang mengelilinginya membuat ruangan diterangi cahaya matahari. “Saya nanti harus masak ya,” kata Arief melirik jam tangan pintar yang ia kenakan. Hukumonline segera memahami batas waktu maksimal yang kami miliki. Tidak lebih dari jelang jam makan siang. Hal yang tidak diduga adalah penjelasan Arief setelahnya. Rupanya ia menyiapkan menu makan siang yang spesial dimasak olehnya sendiri untuk menjamu Hukumonline.

“Waktu mahasiswa saya memiliki beberapa opsi. Menjadi dosen di almamater, menjadi advokat di LBH (Lembaga Bantuan Hukum-red), advokat di law firm, atau bergabung ke perusahaan,” katanya. Arief adalah salah satu lulusan terbaik dari angkatan 70-an. Ia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 1977. Tugas akhir skripsi sarjana yang ditulisnya dibimbing oleh Prof.R.Subekti, begawan hukum perdata yang pernah menjabat Ketua Mahkamah Agung. Ia juga punya kedekatan personal dengan Prof. Soerjono Soekanto, begawan hukum perintis kajian sosiolegal di Indonesia. Nilai-nilai bagus Arief di kelasnya membuat sosiolog hukum kenamaan itu menawari Arief menjadi asisten dosen mendampinginya.

“Saya katakan terus terang, ‘Pak, fokus saya sekarang mencari pekerjaan yang lebih baik income-nya supaya saya bisa memberikan lebih besar lagi. Nanti saya akan kembali ke kampus, entah kapan’,” kata Arief mengenang. Ia mengaku Prof. Soerjono terlihat kesal tidak menduga jawabannya demikian. “Saya berjanji suatu hari nanti saya akan ikut membantu gerakan pro demokrasi, membantu dunia pendidikan, bantuan hukum,” Arief menjelaskan.

Ia akhirnya memilih law firm. “Dunia LBH menarik sekali. Saya sudah berkegiatan di sana, tapi sudah banyak teman-teman di sana. Saya ingin berdampak lebih besar di Orde Baru yang sangat represif,” katanya lagi. Ia menyadari betul bahwa butuh upaya napas panjang untuk menumbangkan Orde Baru. Meski bukan aktivis jalanan, Arief akrab dengan sosok advokat aktivis HAM Yap Thiam Hien sejak mahasiswa. “Saya sering berkunjung menemuinya,” kata Arief.

Tags:

Berita Terkait