”Di Indonesia itu mencari komitmen investasi enggak terlalu susah, tapi cari aset yang investable enggak gampang,” imbuhnya.
Menjadi seorang in house counsel INA, Arisia harus memahami skema perjanjian kerja sama investasi dengan mitra tersebut. Setidaknya terdapat tiga skema dengan INA. Pertama, investasi bersama langsung atau direct co-investment. Kedua, investasi bersama konsorsium atau consortium invesment structure. Ketiga, struktur dana General Partners/Limited Partners (GP/LP) atau GP/LP funding structrure.
Membekali berbagai kemampuan
Untuk mencapai in house counsel yang andal, Arisia memberikan tips kepada para lulusan sarjana hukum muda pentingnya membekali diri dengan berbagai pengalaman kerja. Syukurnya, Arisia menyampaikan dirinya mendapatkan pembekalan kerja tersebut saat berkarir sebagai lawyer.

Arisia Arundati Pusponegoro saat berbincang dengan Hukumonline.Foto: RES
Baginya seorang in house counsel menjadi penting memiliki kemampuan analisa terhadap setiap pekerjaan yang dilakukannya. Sebab dengan begitu, seorang in house counsel dapat mengetahui suatu aturan dirancang, dibuat dan dampaknya bagi organisasi. Tak hanya itu, seorang in house counsel pun mesti dapat memberikan sebuah solusi atau jalan keluar alternatif terhadap setiap pekerjaan yang dihadapinya.
”Tapi, untuk sampai ke tahap itu, harus ada exposure selama bekerja dan saat ini menurut saya law firm merupakan yang paling banyak exposure-nya. Lawfirm itu tiap tahun ada transaksi dan jenisnya macam-macam,” jelas Arisia.
Lebih lanjut Arisia berpandangan betapa pentingnya kemampuan non-teknis dimiliki seorang yang berprofesi sebagai in-house counsel. Misalnya, seorang in-house counsel harus mampu menjelaskan peraturan-peraturan hingga istilah-istilah hukum kepada para direksi menggunakan bahasa yang dapat mudah dipahami.
”In house itu berinteraksi dengan orang komersial, risk officer bahkan CFO maupun CEO sehingga bahasanya yang harus dapat mereka pahami,” pungkasnya.
















