Arisia Pusponegoro, The Queen of In-House Counsels at Indonesia Investment Authority
Utama

Arisia Pusponegoro, The Queen of In-House Counsels at Indonesia Investment Authority

Ada tantangan bekerja pada organisasi kombinasi privat dan publik seperti INA. Menjadi in house counsel di INA, tidak hanya berfokus pada profit semata, tapi juga mempertimbangkan aspek pembangunan berkelanjutan.

Mochamad Januar Rizki
Bacaan 4 Menit

”Di Indonesia itu mencari komitmen investasi enggak terlalu susah, tapi cari aset yang investable enggak gampang,” imbuhnya.

Menjadi seorang in house counsel INA, Arisia harus memahami skema perjanjian kerja sama investasi dengan mitra tersebut. Setidaknya terdapat tiga skema dengan INA.  Pertama, investasi bersama langsung atau direct co-investment. Kedua, investasi bersama konsorsium atau consortium invesment structure. Ketiga, struktur dana General Partners/Limited Partners (GP/LP) atau GP/LP funding structrure.

Membekali berbagai kemampuan

Untuk mencapai in house counsel yang andal, Arisia memberikan tips kepada para lulusan sarjana hukum muda pentingnya membekali diri dengan berbagai pengalaman kerja. Syukurnya, Arisia menyampaikan dirinya mendapatkan pembekalan kerja tersebut saat berkarir sebagai lawyer.

Hukumonline.com

Arisia Arundati Pusponegoro saat berbincang dengan Hukumonline.Foto: RES

Baginya seorang in house counsel  menjadi penting memiliki kemampuan analisa terhadap setiap pekerjaan yang dilakukannya. Sebab dengan begitu, seorang in house counsel dapat mengetahui suatu aturan dirancang, dibuat dan dampaknya bagi organisasi. Tak hanya itu, seorang in house counsel pun mesti dapat memberikan sebuah solusi atau jalan keluar  alternatif terhadap setiap pekerjaan yang dihadapinya.

”Tapi, untuk sampai ke tahap itu, harus ada exposure selama bekerja dan saat ini menurut saya law firm merupakan yang paling banyak exposure-nya. Lawfirm itu tiap tahun ada transaksi dan jenisnya macam-macam,” jelas Arisia.

Lebih lanjut Arisia berpandangan betapa pentingnya kemampuan non-teknis dimiliki seorang yang berprofesi sebagai in-house counsel. Misalnya, seorang in-house counsel harus mampu menjelaskan peraturan-peraturan hingga istilah-istilah hukum kepada para direksi menggunakan bahasa yang dapat mudah dipahami.

”In house itu berinteraksi dengan orang komersial, risk officer bahkan CFO maupun CEO sehingga bahasanya yang harus dapat mereka pahami,” pungkasnya.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info