Sedangkan EU menginisiasikan EU Draft AI Regulation. Namun isi dari draf regulasi menyasar hal-hal yang bersifat umum. Seperti diskriminasi dan transparansi, yang mana kesemuanya tidak berdampak signifikan. karena sudah sepatutnya perusahaan mematuhi aturan.
Baginya, hak cipta menjadi persoalan prioritas. Begitupula kekayaan intelektual seperti mereka yang menggunakan musik seseorang, gambar seseorang, untuk membuat lagu atau gambar. Karena AI melakukan penggunaan yang tidak sah dari masalah hak cipta.
“Bayangkan kalau orang tanya summary Book 1 Harry Potter ke AI apakah pelanggaran?. Bagaimana jika membuat lagu atau puisi Book 1 Harry Potter melalui AI?. Apakah itu pelanggaran?. Para lawyer memperdebatkannya,” katanya.
Seiring dengan perkembangan AI, kian memunculkan ragam masalah hukum yang kompleks. Di samping masalah hak cipta, isu terkait perlindungan data pribadi juga menjadi sorotan tersendiri. Pada akhirnya, buntut dari ini semua bermuara pada maraknya pengajuan gugatan class-action terhadap perusahaan-perusahaan pengembang AI.
Sejumlah gugatan
Prof Nguyen mencontohkan, beberapa kasus pengajuan gugatan class-action terhadap perusahaan pengembang AI. Seperti GitHub Copilot Lawsuit (diajukan November 2022) sebagai gugatan class-action pertama terhadap GitHub yang dimiliki Microsoft, Silverman v. OpenAI (2023) yang mengkomplain model ChatGPT dituding telah dilatih untuk menghasilkan versi turunan yang melanggar hukum dari karya hak cipta penggugat. Seperti buku dan konten.
Adapun gugatan yang sempat viral dibahas terjadi pada awal tahun 2023 oleh Getty Images atas jutaan foto yang dilindungi hak cipta dan terasosiasi dengan Getty secara melawan hukum disalin dan diproses oleh AI. Tak mengherankan, sambung Prof Nguyen, bagaimana saat ini OpenAI menghadapi banyak gugatan karena kasus hak cipta.
Lebih lanjut, pengajuan gugatan perihal AI ini bahkan pernah menimpa lawyer asal New York (Steven A. Schwartz dan Peter LoDuca) yang menyerahkan legal brief kepada pengadilan dengan putusan pengadilan yang nyatanya tidak ada, karena mempergunakan ChatGPT. Masih terdapat pula kasus Walters v. OpenAI (Juni 2023) yang tidak kalah ramai dibincangkan.
















