Pojok MPR-RI

Cegah Pergerakan Terorisme, Basarah: Potong Sumbu Radikalisme Dari Hulunya

Pemahaman agama yang bersumber dari internet dan sosial media menjadi salah satu sebab utama dari menguatnya paham intoleransi yang saat ini menyergap kuat generasi muda.

Oleh:
RED
Bacaan 2 Menit
Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah saat memberikan ceramah kebangsaan di hadapan ribuan  mahasiswa baru Universitas Negeri Malang di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (8/8). Foto: Humas MPR.
Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah saat memberikan ceramah kebangsaan di hadapan ribuan mahasiswa baru Universitas Negeri Malang di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (8/8). Foto: Humas MPR.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Basarah prihatin dengan menguatnya paham intoleransi yang belakangan menjangkit generasi muda. Ironisnya, penyebaran paham-paham intoleransi telah masuk mulai sekolah hingga kampus. Mengantisipasi persoalan tersebut menjadi keharusan.

 

“Ini sangat berbahaya, generasi mudah sudah terpapar paham radikalisme. Masalah ini harus kita antisipasi dengan penguatan ideologi Pancasila dan penguatan literasi berfikir moderat," ujar Basarah dalam ceramah kebangsaan di hadapan ribuan baru Universitas Negeri Malang di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (8/8).

 

Dalam rangka menuju fase terorisme tentu tidak bisa serta. Namun terdapat tahapan. Mulai tahap awal, yakni sikap intoleran. Kemudian, sikap anti kebhinnekaan, dengan melakukan ujaran kebencian, bergabung dengan organisasi intoleran atau melakukan tindakan persekusi terhadap orang atau kelompok yang berbeda keyakinan.

 

Selama ini, kata Basarah, sikap masyarakat yang permisif menjadi penyebab  penyebaran radikalisme secara masif. Nah bila  dibiarkan,  bakal berdampak pada fase berikutnya,  hingga menuju puncaknya berupa aksi terorisme. Seperti bom bunuh diri di Surabaya beberapa waktu lalu. 

 

Oleh karena itulah, pengenalan kehidupan kampus sangat penting dalam membentuk mental dan karakter mahasiswa agar berjiwa Pancasila. Perguruan Tinggi   dinilai memiliki petunjuk pelaksanaan dan teknis dalam pencegahan dan penanggulangan radikalisme yang sama di seluruh Indonesia. Dengan begitu dapat menjadi suatu gerakan bersama mencegah jangan sampai mahasiswa terjangkit sikap intoleran atau bahkan terorisme. Disamping itu, generasi muda kita perlu dikenalkan teladan para tokoh-tokoh bangsa.

 

“Jangan ajarkan abu perjuangan para pemimpin bangsa terdahulu kepada generasi muda kita, tetapi kita ajarkan dan wariskan api perjuangannya sehingga anak-anak muda tidak mencari idola yang bersumber baik dari barat maupun dari timur yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa" ujarnya. 

 

Doktor lulusan Universitas Diponegoro itu berpendapat, pemahaman agama yang bersumber dari internet dan sosial media menjadi salah satu sebab utama dari menguatnya paham intoleransi yang saat ini menyergap kuat generasi muda. Di jejaring sosial misalnya,  faktanya menunjukan banyak di temukan penyebaran ideologi radikal dengan terbuka dan massif.

Tags:

Berita Terkait