Bagi Abigael, menjadi seorang ibu berarti menghadirkan cinta tanpa syarat yang mengalir tiada henti, serta menjadi sumber kekuatan di setiap langkah. Ia percaya, perjalanan hidup dan karier yang ia tempuh hari ini selalu berpijak pada doa, dukungan, dan pemahaman keluarga yang setia mendampingi.
“Terus terang, saya bisa berada di titik ini bukan karena saya sendiri. Ada doa ibu saya, dukungan suami, dan yang paling penting, pengertian dari anak-anak saya,” ungkapnya.
Sebagai ibu dari tiga putra berusia 14, 6, dan 5 tahun, Abigael menyadari bahwa cinta seorang ibu tak selalu hadir lewat ucapan. Ia justru menemukan makna sincere love dalam tindakan-tindakan kecil, yaitu anak-anak yang tak pernah mengeluh saat ia sibuk bekerja, atau perhatian sederhana mereka yang memastikan dirinya baik-baik saja sepulang beraktivitas.
Menurutnya, relasi cinta dalam keluarga merupakan hubungan yang resiprokal. Bukan hanya ibu yang mencurahkan kasih, tetapi anak-anak pun mengekspresikannya dengan cara mereka sendiri. “Mereka mungkin tidak selalu bilang ‘sayang’, tapi mereka menunjukkannya lewat perhatian dan sikap. Itu yang menurut saya sangat tulus,” ujarnya.
Dunia hukum telah membentuk cara Abigael berkomunikasi, bahkan dalam perannya sebagai ibu. Ia terbiasa berpikir logis, berargumentasi, dan berdiskusi. Semuanya menjadi kebiasaan yang tanpa sadar turut mewarnai dinamika keluarganya..jpg)
Legal Counsel ExxonMobil Cepu Limited, Ferdita Abigael.
Bersama suami, ia menciptakan ruang aman di rumah, tempat anak-anak bebas menyampaikan pendapat, perasaan, bahkan perbedaan pandangan. Baginya, anak-anak harus merasa didengar dan dihargai, bukan dihakimi.
“Komunikasi itu kuncinya. Orang tua bukan malaikat yang bisa tahu isi hati anak. Kalau ada yang dirasakan, harus disampaikan dengan cara yang baik,” tuturnya.
















