Dalam lanskap dunia usaha yang kian kompleks, kepatuhan hukum kini menjadi syarat mutlak bagi keberlangsungan operasional perusahaan di Indonesia. Tidak hanya untuk menghindari sanksi dan risiko hukum, kepatuhan juga berdampak langsung terhadap reputasi perusahaan di mata publik dan pemangku kepentingan.
Menyadari pentingnya hal tersebut, Hukumonline kembali menggelar ajang Indonesia Regulatory Compliance Awards (IRCA) 2025 sebagai bentuk apresiasi sekaligus pengakuan terhadap perusahaan dan pimpinan yang berkomitmen tinggi dalam menjalankan kepatuhan hukum.
Di tahun kedua penyelenggaraannya, IRCA 2025 menghadirkan sejumlah kategori berdasarkan sektor industri yang disesuaikan dengan tingkat kompleksitas pengaturannya. Proses penilaian dilakukan oleh dewan juri yang berasal dari berbagai latar belakang keahlian, dengan pendekatan objektif dan mendalam. Beberapa kategori pun memerlukan analisis lebih lanjut dari hasil penjurian untuk menentukan penerima penghargaan yang paling layak.
Baca Juga:
- Penjurian IRCA 2025 Dimulai, 5 Ahli Siap Nilai Kepatuhan Hukum Perusahaan
- Indonesia Regulatory Compliance Awards Segera Digelar!
Adapun dewan juri IRCA 2025 terdiri dari lima tokoh berpengaruh di bidang hukum dan kepatuhan yaitu Anggota Badan Pengawas Forum Komunikasi Direktur Kepatuhan Perbankan (FKDKP) Anika Faisal; Senior Lawyer dan Akademisi Arief T. Surowidjojo; Ketua Asosiasi Praktisi Hukum Minyak Gas Bumi & Energi Terbarukan (APHMET) Didik Sasono Setyadi; Ketua Umum Perkumpulan Konsultan Hukum dan Pengacara Pertambangan Indonesia (PERKHAPPI) Prof. Faisal Santiago; dan CEO Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) Mas Achmad Santosa.
“Dari kelima juri ini, kami memang sengaja memilih figur-figur dengan latar belakang yang beraneka ragam. Tujuannya adalah untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas dan mendalam. Dengan begitu, penerima penghargaan benar-benar dinilai oleh para ahli di bidangnya,” ujar Research & Awards Manager Hukumonline, Katon Baskoro, Selasa (6/5/2025).
Ia melanjutkan keberagaman latar belakang para juri juga membuka ruang diskusi lintas perspektif yang memperkaya proses penilaian. “Motivasi kami adalah ingin memperoleh gambaran yang lebih utuh dan berimbang, sehingga penerima penghargaan ini bisa dianggap representatif dan layak.”
















